
Shasya, bima dan naila tengah sibuk berdiskusi tentang tugas Shasya.
kenapa aku harus terjebak dengan tugas gak penting begini sih? sudahlah aku melakukan ini demi menghalangi bima dekat dengan wanita itu. tidak apa-apa kalau sekarang aku harus berkorban.
naila membatin, dia merasa benar-benar keberatan dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Shasya menyadari dirinya seperti melupakan sesuatu, dia melihat ke arah jam tangannya. ternyata sudah pukul 14:00.
"astaga, aku lupa ada kelas." ucap Shasya panik.
tanpa aba-aba dia langsung merapikan buku yang sedang ia pegang dan bergegas keluar dari perpustakaan.
"maaf ya kak aku pergi dulu. aku sudah telat banget" ucap Shasya meminta izin kepada naila dan bima kemudian berlalu pergi yang akhirnya membuat naila dan bima kebingungan.
"haha, dasar wanita bodoh" ucap bima tertawa melihat tingkah konyol shasya. naila merasa sedih ketika menyadari betapa besar ketertarikan bima terhadap shasya.
"jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya naila kepada bima yang membuat bima langsung melihat kearahnya.
"sudah lah kamu pulang saja. nanti sore setelah kelas Shasya selesai aku akan kembali membahasnya dengan shasya." jawab bima santai.
"untuk apa menunggu sore, aku bisa membantumu. nanti kita tinggal menjelaskan saja kepada shasya. bukankah itu akan menghemat waktu?" oceh naila berusaha meyakinkan bima. di dalam hatinya, dia sama sekali tak ingin mengerjakan tugas tersebut. namun itu satu-satunya cara agar dia bisa berlama-lama dengan bima.
naila memang cukup dekat dengan bima, namun sayangnya bima bukanlah orang yang suka duduk berduaan dengan wanita. namun sebaliknya, setelah shasya hadir dan masuk ke dalam hidup bima, entah mengapa bima selalu ingin menghabiskan waktu berdua dengan shasya. Shasya seolah berhasil membuat bima nyaman.
"kau benar naila, lebih baik kita menyelesaikannya dengan baik agar si kodok bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat" ucap bima bersemangat.
naila tersenyum. di satu sisi dia merasa bahagia karena dia bisa berlama-lama dengan bima. namun disisi lain dia merasa kecewa karena dia tau alasan bima bersedia duduk dengannya bukanlah karena dirinya melainkan karna shasya.
"kau menyukainya?" tanya naila dengan senyuman.
"apakah terlihat dengan jelas?" jawab bima malu-malu.
naila menggigit bibirnya menahan rasa kecewa. dia berusaha tetap tersenyum bahkan tertawa.
"wah, parah kau bima. dia masih semester satu loh, gak pantas banget untuk kamu yang sudah bangkotan." ucap Naila bercanda sambil memukul lengan bima.
"apa aku benar-benar tidak cocok berhubungan dengan Shasya? kau serius?" tanya bima sedikit panik.
"haha... ya, kau sangat tak pantas untuknya" oceh tania lagi dengan tertawa yang dipaksakan.
"jadi aku harus berpacaran dengan siapa? apakah harus berpacaran dengan kamu?" bima berusaha membalas ledekan naila.
wajah naila seketika memerah. dia terkejut mendengar ucapan bima.
__ADS_1
ya, seharusnya kau menjadi milikku. begitupun aku, seharusnya aku menjadi milikmu. sudah dua tahun aku menunggumu. namun kau tetap saja tak mengerti.
naila membatin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"apaan sih, gak usah gila deh bim. emangnya kau pernah tertarik denganku?" ucap naila dengan nada kesal.
"pernah" ucap bima.
naila langsung membesarkan matanya karena tak percaya dengan apa yang dia dengar. sejenak timbul harapan di hatinya.
"tapi bohong" tambah bima.
"hahaha.. lihatlah wajah panik mu itu." oceh bima sambil tertawa terbahak-bahak ketika melihat wajah naila berubah kemerahan.
"terserah kamu deh." naila kesal. dia merasa harapan yang muncul tiba-tiba langsung sirna begitu saja.
"hahaha... maaf, aku hanya bercanda." bima mengacak-acak rambut naila.
"sudahlah, ayo kita selesaikan angket ini dengan cepat." ucap naila diiringi anggukan dari bima.
tak butuh waktu lama untuk mereka mengerjakan angket tersebut. kini semua tugas Shasya sudah selesai, bima dan naila kini merapikan buku-buku yang mereka pakai dan mengembalikannya ke tempat semula.
bagi naila momen bersama bima saat ini adalah hal yang paling berharga. meskipun merasa kecewa dengan kenyataan, tetapi dia merasa sangat senang bisa berduaan dengan bima. sedangkan bagi bima, tugas yang ia kerjakan akan menjadi jalan baginya agar bisa lebih dekat dengan Shasya.
ponsel bima berdering, bima melihat ke layar ponselnya. senyum bima kini mengembang di wajahnya.
"halo kak, kalian masih di perpustakaan?" tanya shasya ketika panggilan telpon terhubung.
"ya, kami masih disini." jawab bima.
"baiklah aku akan ke sana sekarang kak. tungguin aku ya" ucap Shasya dengan semangat.
"cepatlah" bima memutuskan panggilan.
Shasya berjalan dengan cepat menuju ke perpustakaan. dia merasa harus menyelesaikan tugasnya hari ini agar besok bisa langsung di bagikan ke senior-seniornya sehingga dalam dua hari tugas tersebut akan selesai.
setelah shasya tiba di perpustakaan, Shasya bingung melihat meja yang ada di hadapan bima dan naila sudah tak ada buku apapun.
"loh kak, kok bukunya sudah tak ada lagi di meja? bagaimana aku akan menyelesaikan tugas kalau tak ada buku?" tanya shasya.
"tenanglah, tugasmu telah selesai. besok tinggal dibagikan saja kepada senior-senior kamu. semua akan beres jika bima turun tangan." ucap bima dengan nada sombong.
"aku tak percaya kakak yang menyelesaikan tugas itu. pasti kak naila yang mengerjakannya. terima kasih kakak" ucap Shasya dengan penuh semangat kepada naila.
__ADS_1
naila memaksakan dirinya untuk tersenyum. dia benar-benar kesal ketika melihat perlakuan bima kepada Shasya. namun dia tak ingin membuat bima berfikiran yang tidak-tidak kepadanya sehingga mau tak mau dia tetap harus terlihat baik.
"kau.." ucap bima dengan nada kesal.
"apa? weeek..." shasya kemudian menjulurkan lidahnya meledek bima.
"tak bisa kah kau berfikiran positif kepadaku?" ucap bima.
"tidak." shasya menjawab dengan sangat singkat.
"sudahlah, kalian jangan berdebat disini. gak enak sama pengunjung perpustakaan yang lain." ucap naila.
sebenarnya naila sudah tak tahan lagi melihat perdebatan antara Shasya dan bima. karena tanpa mereka sadari, naila dapat merasakan apa yang dilakukan bima dan shasya menunjukkan dengan sangat jelas kepadanya tentang kedekatan mereka.
"maaf kak naila, kak bima ngeselin sih" ucap Shasya.
"kamu tuh yang ngeselin" balas bima.
"oh iya Sya, besok kamu akan membagikan angketnya jam berapa?" tanya naila.
"belum tau sih kak, lihat besok saja." jawab Shasya singkat.
"besok kabari aku ya, aku akan membantumu. aku takut kau akan menyebabkan masalah jika berkeliaran diantara senior-senior." oceh bima dengan nada datar.
"kakak tuh yang suka menyebabkan masalah." Shasya mulai kesal.
"bisa gak sih kak ngomong baik-baik kalau mau membantuku?" ucap Shasya lagi dengan nada yang masih kesal.
"idih, dasar tukang ngambek." ledek bima.
naila yang semakin panas mencoba untuk menyela pembicaraan bima dan Shasya.
"apa aku boleh ikut? besok aku tak ada kelas, aku bosan kalau harus di rumah seharian." ucap naila.
"benarkah kakak ingin ikut? wah tentu saja boleh kak. aku sangat senang jika kakak bisa ikut." Shasya menjawab dengan sangat antusias. entah kenapa shasya merasa sangat menyukai naila. baginya naila adalah sosok wanita yang sangat sempurna. cantik, terlihat sangat pintar dan baik, itulah kesan yang ada di fikiran shasya tentang naila.
berbeda dengan Shasya, naila malah menganggap Shasya sebagai rival yang harus dia awasi. dia tak akan membiarkan bima berduaan bersama shasya meski dengan alasan apapun. dia harus mencari cara agar dia bisa menjauhkan bima dari shasya. apalagi setelah dia mengetahui bima benar-benar tertarik dengan shasya. meskipun begitu, dia tidak ingin terlihat mencurigakan. dia takut jika dia bertindak dengan gegabah malah akan membuatnya jauh dari bima. karena naila merasa bagaimana pun hanya dialah yang pantas bersama bima.
sedangkan bima hanya menggerutu kesal ketika mendengar naila ingin ikut serta membantu Shasya. dalam hatinya, bima mengutuk ucapan naila yang ingin ikut bersama mereka.
kenapa naila pakai menawarkan diri segala sih? sudah sangat jelas ini adalah kesempatan langka bagiku untuk bisa berduaan seharian dengan shasya. astaga, aku benar-benar sial.
oceh bima dalam hati.
__ADS_1