
enam bulan telah berlalu. kini Shasya telah lulus disalah satu perguruan tinggi negeri di medan. Dia memilih kuliah di medan karena statusnya sebagai anak tunggal yang membuat orangtuanya tak memberikan izin kepadanya untuk kuliah di luar kota.
Shasya dan syifa lulus di perguruan tinggi serta fakultas dan jurusan yang sama. Nina lulus di jakarta sedangkan Tiara dan Nadia berkuliah di bandung. kini kelima sahabat itu harus berpisah karena pilihan masing-masing demi masa depan mereka.
bagaimana dengan Rio? entahlah setelah berpisah di bandara Shasya tak pernah lagi berhubungan dengan Rio. berulang kali Shasya mengirimkan pesan hanya sekedar menanyakan kabar. tapi Rio tak pernah sekalipun membalas pesan Shasya.
Shasya pernah bertanya pada Syifa tentang Rio, namun Syifapun tak tau bagaimana kabar sepupunya itu. yang Syifa tau hanyalah Rio dan keluarga batal pindah ke medan. karena usaha papanya sedikit menurun sehingga mereka batal mengembangkan sayap perusahaannya di medan. dan mungkin saja Rio kini telah berkuliah di sulawesi.
hariini adalah hari pertamanya memasuki kampus. seperti biasa setiap kali menaiki jenjang pendidikan yang lebih tinggi pasti ada masa pengenalan lingkungan kampus dan dengan berbagai Syarat yang menurut Shasya tak masuk akal.
bayangkan saja hari ini tepatnya hari dimulainya masa orientasi kampus, Shasya harus memakai topi yang terbuat dari kardus bekas serta mengalungkan name tag bertuliskan eceng gondok yang juga terbuat dari kardus.
"ini memalukan" gumam Shasya ketika memandang pantulan dirinya di cermin.
"Sya, cepat keluar. nanti kamu telat" suara ibu seketika mengalihkan pandangan Shasya kearah pintu kamarnya
"iya bu, sebentar"
Shasya langsung berjalan menuju dapur lalu duduk di meja makan dan memakan nasi goreng yang ada didepannya. setelah selesai makan Shasya pamit dan pergi menuju kampus.
****
Shasya dan mahasiswa baru lainnya kini telah duduk di lapangan utama kampus. masa orientasi dimulai dengan sangat formal. dimulai dengan kata sambutan, pengenalan fasilitas kampus dan ditutup dengan mendengarkan arahan dari petinggi-petinggi kampus.
setelah acara formal selesai, kini mereka akan memulai penderitaan yang sesungguhnya. ketika senior-senior mulai mengambil alih acara.
"pagi adik-adik" salah satu senior menyapa mereka.
"hari ini kita akan bersenang-senang. jadi kalian harus mempersiapkan mental. kakak-kakak disini tidak suka jika ada mahasiswa baru yang lemah. kalian paham?"
"paham kak" ucap seluruh MABA
para seniorpun memulai aksinya. ada yang menyuruh mereka mencari tanda tangan. ada juga yang memaksa mereka bernyanyi dan menari. ya... begitulah nasib mahasiswa baru dari tahun ke tahun.
"lemah apaan? siapa coba yang gak lemah kalau disuru menyanyi dan menari seperti orang dungu gitu. belum lagi mencari tanda tangan orang yang gak dikenal. nyebelin banget " Shasya menggerutu pelan. namun sayangnya tanpa ia sadari, tingkahnya dilihat oleh senior yang sedang berada di depannya.
senior itu berjalan ke arah depan lalu kembali membariskan seluruh maba.
"kau eceng gondok, kemari!" ucap senior itu dengan nada tinggi.
Shasya diam tak menyadari bahwa dialah yang di panggil.
"masih pura-pura tak tau. hey kamu eceng gondok kemari!"
"Sya, kau dipanggil" ucap Syifa yang kebetulan berada disebelah Shasya.
Shasya menunjuk kearahnya seolah bertanya benarkah Ia yang dipanggil. lalu Syifa mengangguk dengan mulut yang dimajukan mengarah ke name tag Shasya.
"astaga, aku dalam masalah" Shasya menepuk keningnya.
"masih tidak mau kesini juga?" tanya senior itu
shasya menyeret kakinya dengan berat maju kearah senior itu. jantungnya berdegub kencang bukan karna jatuh cinta pada wajah tampan senior itu. tapi karena takut nasib buruk apa yang akan segera menimpanya.
"sebutkan nama dan jurusan" ucap senior itu dengan nada tinggi.
"Sa..saya Natasha Fadila"
namun ucapannya langsung dipatahkan oleh senior itu.
__ADS_1
"Nama kamu disini bukan nama aslimu"
Shasya menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar.
"Saya eceng gondok. jurusan manajemen"
"oh kau eceng gondok. memang sih kalau dilihat-lihat mukamu sangat mirip. bulat dan berair" senior itu tertawa sedangkan mahasiswa baru yang ada ditempat itu hanya bisa menahan tawa.
"sial, ngeselin banget sih ni orang" batin shasya. tanpa sadar Shasya melebarkan matanya menatap tajam kearah senior itu.
"wah berani sekali melotot seperti itu?"
Shasya seketika langsung menundukkan pandangannya.
"baiklah nona, karena hari ini mood saya lagi bagus jadi hukuman kamu cukup bernyanyi saja. tapi jika lain kali kau tak patuh atau berbicara tanpa disuruh, maka kau akan saya hukum membersihkan seluruh toilet di gedung ini. paham?"
"nyanyi? saya tak bisa kak"
"berani protes? baiklah saya hitung sampai 3 kalau tak bernyanyi maka kau harus..."
belum selesai senior itu berbicara Shasya langsung menari nafas dan bernyanyi.
bintang kecil di langit yang biru
amat banyak menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ketempat kau beradaaaaaaaaaa.
Shasya mengakhiri lagunya dengan mulut yang dilebarkan dan diarahkan ke senior yang berdiri di sampingnya seakan ingin menelan senior itu. sontak semua orang yang ada di sana langsung tertawa tak terkecuali Shasya. dia sengaja menyanyi dengan sedikit konyol hanya untuk membuat seniornya kesal. entah sejak kapan jiwa usilnya timbul. mungkin Rio yang telah menularkan sedikit sifat konyolnya ke Shasya.
"saya sudah selesai bernyanyi kak, terimakasih" lalu Shasya langsung berlari kembali ke barisannya.
"kau..." ucap senior itu kesal
sedangkan Shasya terus saja menggigit bibir nya menahan tawa.
"gila kau Sya" ucap syifa sambil menggelengkan kepala.
"senior yang menyebalkan seperti itu harus diberi pelajaran tau fa" ucap Shasya.
****
matahari telah terbenam dan kini di gantikan oleh bulan. orientasi mahasiswa di kampus Shasya masih berlanjut. kegiatan tersebut memang dilakukan sehari semalam. orientasi kampus serta malam inagurasi.
terlihat Shasya dan Syifa tengah duduk santai di depan api unggun. mereka masih beristirahat setelah lelah dikerjai oleh senior mereka.
"Sya, liat deh kak Bima, ganteng ya" ucap Syifa.
"ganteng apaan? kaya singa gitu juga."
"yaelah sya, pendendam amet sih wajar kali kalau dia ngerjain kamu berkali-kali. kan salah kamu juga tadi terlalu iseng"
"iya juga"
Shasya dan syifa kembali tertawa mengingat kejadian siang tadi. namun tawa mereka terhenti ketika Bima tiba-tiba berada di depan mereka.
"sudah puas tertawanya nona-nona?" ucap bima. lalu bima mengangkat tangannya kearah Shasya.
__ADS_1
"hai, aku Bima. kamu?"
"hai, aku eceng gondok" ucap shasya kemudian membalas jabatan tangan Bima.
bima menaikkan alisnya lalu tertawa.
"nama kamu bagus juga. baiklah agar lebih mudah, aku akan memanggil kamu Kodok"
Shasya menajamkan pandangannya kearah Bima sambil berhayal akan menelan senior itu hidup-hidup. namun niatnya diurungkan karna paham dia masih dimasa orientasi. dia takut kalau nanti akhirnya akan dikerjai lagi oleh bima.
"terserah kakak saja mau manggil apa, gak bakal berpengaruh juga untuk kecantikanku" ucap Shasya menggerutu pelan.
"cantik darimananya?"
"dari hati" Shasya menyolot
"hahahaha" tawa bima memecah keheningan dan membuat yang lainnya menoleh kearah mereka bertiga.
"sudahlah, aku lelah bermain bersama anak kecil kayak kamu"
"elu yang bikin emosi. dasar balita" jawab Shasya kesal dengan nada berbisik bahkan hampir tak terdengar.
lalu bima pergi ke tempat para senior kampus lainnya berkumpul. malam ini mereka hanya bersantai menikmati api unggun dan bernyanyi. tak ada kegiatan formal ataupun keisengan-keisengan yang terjadi. memang malam inagurasi diperuntukkan bagi mereka mahasiswa baru agar bisa saling mengenal. berbeda dengan Orientasi yang telah selesai mereka lalui siang tadi.
tak sedikit mahasiswa baru maupun senior yang datang menghampiri Shasya dan Syifa. tentu saja karena Wajah Shasya dan Syifa yang terlihat sangat cantik. selain itu karena kekonyolan Shasya saat melawan Bima juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.
Sebenarnya Shasya dan Syifa merasa sedikit terganggu. karena pada dasarnya mereka tak terlalu suka bila didekati oleh lelaki. Bima yang sedari tadi memperhatikan ketidak nyamanan Shasya dan syifa langsung menghampiri dan mengajak mereka berbincang tak tau arah dan akhirnya membuat para lelaki yang mendekati Shasya dan syifa mundur perlahan.
Shasya tersenyum kecut. sebenarnya dia tak paham apa yang dibicarakan oleh seniornya. dan karena tak tahan lagi Shasya akhirnya membuka mulut.
"kakak ngomong apa sih? masi sehat kan kak? ini udah tengah malam. jangan bikin aku sama Syifa takut dong"
"sial, aku cuma mau menjauhkan kalian dari mereka itu lo. tidak bisakah kau mengucapkan terima kasih?"
"oh, kenapa tak bilang dari tadi kak?"
"tau ah, terserah. habiskan jagung kalian terus langsung masuk ketenda untuk tidur." ucap bima kesal lalu meninggalkan mereka
Shasya dan Syifa saling tatap. lalu kembali tertawa.
"oke, kak bima memang sudah gila. jagung apa coba? dikira kita lagi camping kali ya? kayu bakar iya ada nih" ucap Shasya sambil memegang sepotong kayu.
"iya Sya. kali ini aku setuju sama kamu. kak bima ada kurang-kurangnya"
"yasudah, kita tidur yuk" ajak shasya.
"oke, aku juga sudah mengantuk"
akhirnya Shasya dan syifa memutuskan untuk istirahat dan masuk ke tenda mereka.
di dalam tenda Shasya sama sekali tidak bisa tidur. fikirannya kacau. ada rasa sesak didadanya. dia terhanyut dalam khayalan yang membawanya mengenang cerita lalu bersama Rio.
"hmmmm, sekarang dia sedang apa ya?" ucap Shasya. lalu dia keluar dari tendanya dan berjalan perlahan menikmati dinginnya angin malam saat ini.
****
aku tau konsekuensi ketika jatuh hati adalah patah hati. namun entah kenapa aku malah menikmati setiap hal dari rasa itu baik saat jatuh maupun patah. dan itu membuatku ingin hidup meski dengan sedikit gila**.
(tianaa)
__ADS_1