
Pagi ini seperti hari biasanya Shasya dan Keempat sahabatnya berjanji untuk lari pagi bersama di sebuah lapangan dipusat kota medan.
Ya.... setiap hari minggu pagi mereka selalu melakukan kegiatan tersebut untuk sekedar menjaga kesehatan. tapi bukan itu alasan sebenarnya, Mereka rutin melakukan lari pagi karna mereka jadi punya alasan untuk menyantap bubur ayam favoritnya yg hanya buka pukul 06:30 sampai pukul 10:00. Jika tanpa alasan lari pagi tersebut, mereka tak akan bisa pergi sepagi itu.
Shasya, Tiara, Nina dan Nadia telah sampai di lapangan tempat mereka janjian. Namun Syifa sama sekali belum kelihatan batang hidungnya.
"tumben syifa selama ini". ucap Nadia
"iya, biasanya sih dia yang paling cepat sampai" jawab Shasya.
"entahlah, kita tunggu saja mungkin sebentar lagi sampai" ucap Nina.
lima menit telah berlalu, kini terlihat Syifa berlari dari arah parkiran mobil menuju kearah mereka.
"sorry aku telat, gara-gara anak ini nih," celoteh Syifa sambil menunjuk kearah Rio.
"ampun deh, dibangunin susahnya minta ampun. sebenarnya mau aku tinggalin tapi mamaku pasti bakal marah." tambahnya lagi.
Shasya hanya tersenyum mendengar temannya mengupat dengan berkepanjangan. sedangkan Rio berusaha untuk menutup mulut Syifa sambil menahan malu.
"biasa kali fa, namanya juga cowok. gak boleh marah-marah gitu ih. mending kita langsung mulai lari aja yuk mumpung belum terlalu panas. lagian aku udah gak sabar mau makan bubur langganan kita itu". ucap Shasya sambil berdiri dan mulai berlari kemudian diikuti oleh Tiara, Nadia, Nina, Syifa dan Rio.
Sebenarnya Rio merasa sedikit terbela dengan ucapan Shasya. Sepanjang jalan Rio tersenyum. Entah apa yang membuatnya jadi merasa sangat bahagia.
Tiba-tiba Rio memukul kepalanya dengan keras lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "aku gak boleh kayak gini, aku itu punya Dinda" ucap Rio dalam hati.
Shasya yang tidak sengaja melihat tingkah laku Rio langsung mendatangi Rio dan bertanya
"ada apa? kok kayaknya kamu kesal banget?" Ucap Shasya.
"aduh ini cewek malah nyamperin lagi, yaampun kalau sedekat ini hatiku makin sulit dibuat tenang" gumam Rio dalam hati.
"gapapa, kamu luan aja. aku mau balik ke mobil dulu, hpku ketinggalan". Jawab Rio berusaha menghindar.
"oh, oke. kalau gitu aku susul mereka ya, kayaknya udah mau selesai juga. nanti kamu bolwh menyusul atau boleh juga langsung aja ke warung bubur ayam yang ada di situ tuh. setelah selesai lari kami akan langsung kesana". jelas Shasya sambil menunjuk kearah warung bubur ayam langganan 5 sekawan itu.
"oke". ucap Rio langsung berlari meninggalkan Shasya.
__ADS_1
"ada apa sih sama anak itu dari semalam aneh terus sifatnya, bodo amet deh, terserah dia aja". ucap Shasya yang kemudian mulai kembali berlari kearah teman-temannya.
*****
Rio terus melihat jam tangannya, sudah hampir setengah jam dia menunggu.
"kalau tau begini mendingan aku menyusul mereka saja" gumamnya karena merasa salah mengambil keputusan untuk menunggu mereka di warung bubur.
tiba-tiba terdengar suara Syifa memanggil Rio dengan sedikit panik.
"Rio tolongin dong, Shasya tadi terjatuh, kakinya keseleo di sana. bantu gendong ya" kata Syifa dengan nada memelas sambil menunjuk kearah dimana Shasya dan teman-temannya duduk.
Rio yang mendengarnya langsung berlari kearah yang ditunjuk oleh Syifa. dan ketika dia sadar rasa khawatir yang ada di hatinya adalah perasaan yang terlarang, Dia langsung mematung dan bergumam dalam hati "ya tuhan cobaan apalagi ini."
Rio menghentikan langkah kakinya sejenak dan terdiam. Syifa yang melihat Rio berhenti langsung menghentikan langkah kakinya juga.
"apaan sih Ri, kok kamu berhenti? ayo buruan. kasian shasya di sana" ucap Syifa.
Rio menghela nafas. "haruskah aku membantunya?" fikirnya
namun kini fikiran itu seakan menghilang dengan sendirinya. akal sehatnya kembali tertutup ketika melihat Shasya berjalan dengan sedikit pincang. Diraihnya tangan Shasya yang ada di pundak Nadia lalu tanpa aba-aba dia langsung menggendongnya menuju warung bubur ayam.
"aawww.." jerit Shasya
"sakit banget ya, maaf tapi tahan dulu sebentar biar kaki kamu gak bengkak". ungkap Rio berusaha menenangkan.
Shasya mengangguk dan Rio mulai memutar pergelangan kaki Shasya.
"aaawwwww...." suara Shasya semakin terdengar kuat karna sakit yang luar biasa.
tapi anehnya setelah itu rasa sakitnya benar-benar berkurang.
"gimana? udah gak sakit kan?" tanya Rio.
"udah enggak kok, terima kasih" jawab Shasya, tanpa sadar Rio mengacak rambut Shasya sambil berkata "lain kali hati-hati ya.."
Sebenarnya Rio adalah atlet futsal. jadi sedikit banyaknya dia tau tentang meredakan sakit di kaki jika mengalami keseleo Ringan.
__ADS_1
Shasya menatap Rio dengan tajam karena Rio cukup berani mengacak-acak rambutnya. anehnya Shasya sama sekali tak keberatan.
deg..
Jantung shasya tiba-tiba berdegup kencang, dia merasa debaran yang aneh sesaat setelah Rio menyentuh kepalanya.
"ada apa ini?" batin Shasya.
Muka Shasya memerah. dia mengatur nafas mencoba tenang dan menghilangkan rasa gugupnya.
"jangan sentuh kepalaku. aku tak suka" ucap Shasya galak.
"oh oke, maaf aku gak sengaja" rio langsung mengangkat tangannya namun tersenyum kearah Shasya seolah meledek.
perdebatan sengit antara Shasya dan Rio tak bisa lagi terelakkan. sedangkan Syifa dan yang lainnya hanya tertawa sambil menggelengkan kepala mereka tanpa memiliki niat untuk melerai perdebatan sengit kedua manusia itu.
Kemudian Tiara mendadak berdiri dan memukul meja karena Shasya dan Rio tak kunjung menghentikan perdebatan.
"Adegan romantisnya sudahi dulu dong, aku lapar banget nih, sambung entar aja ya setelah selesai makan" cibir tiara.
"siapa yang beradegan Romantis?" tanya Shasya menyolot
"sudah lah, ayo pesan. aku mau pesan bubur ayam komplit porsi jumbo lalu minumnya teh manis hangat" ucap Nina
"aku juga !!!" jawab yang lainnya serentak kecuali Rio.
"buset dah wanita-wanita ini. badannya kurus-kurus tapi makannya ampun deh" ucap Rio.
lalu tiara mengarahkan pandangannya ke Rio. "kamu mau apa?" tanya Tiara.
" aku gak tau, yaudah samain aja kayak kalian tapi porsinya yang biasa aja"
"oke".
Tiara memanggil pelayan dan memesan makanan. setelah pelayan itu mencatat dan membaca ulang semua pesanan. pelayan itu meninggalkan mejaga Shasya dan teman-temannya.
Shasya dan lainnya melanjutkan perbincangan mereka diselingi beberapa canda tawa. selang beberapa saat, pesanan mereka pun sampai tak butuh waktu lama serta tanpa aba-aba mereka langsung mengambil mangkok bubur masing-masing lalu menyantap bubur tersebut dengan lahap.
__ADS_1
sungguh pemandangan yang mengejutkan bagi Rio. karena selama di sulawesi, dia tak pernah melihat wanita makan dengan barbar seperti itu. sedangkan dinda yang badannya sangat kurus saja selalu menjaga makannya agar tak berlebihan sehingga tubuhnya benar-benar jauh dari kata gemuk.
"lihatlah mereka. bisa sesantai itu menghabiskan makanan sebanyak ini" batin Rio.