
"sudahlah, nanti saja aku fikirkan bagaimana caranya menghadapi bima biar hidupku tetap aman" ucap Shasya. dia lalu memejamkan matanya dan mulai tertidur.
******
pagi telah tiba. para senior mulai membangunkan MABA yang masih tidur di dalam tenda masing-masing.
"ayo-ayo adik-adik bangun. Sudah pagi! tiga puluh menit lagi kita akan upacara. ayo segera bersiap, bersih-bersih dan gulung tendanya."
Senior itu menggoyang-goyangkan tenda yang masih berpenghuni. satu per satu MABA mulai meninggalkan tenda dan beralih ke kamar mandi. lalu mulai merapikan tenda mereka kembali.
"Sya ayo bangun, cepetan dong. nanti kamu dihukum lagi. ayo cepat!" Syifa tak henti-hentinya menggoyang tubuh Shasya. namun yang dibangunkan tak kunjung membuka matanya.
"ya sudah terserah kamu saja kalau kamu mau dihukum lagi sama kak Bima".
mendengar nama bima, Shasya langsung terperanjat dan segera bangkit dari tempat Ia tertidur. dia keluar tenda merenggangkan tubuhnya sebentar lalu pergi ke toilet untuk mencuci muka. tanpa sadar ada seseorang yang terus memperhatikan tingkah lakunya. sambil sesekali tersenyum.
"woy Bim, dari tadi melamun aja. liat apa sih kamu?" tanya Andi
"oh si manis eceng gondok" tambahnya lagi ketika melihat arah tatapan Bima.
"diam deh, berisik banget sih. aku lagi mikir gimana caranya buat ngerjain cewek barbar itu. kau lihat ini. keningku masih benjol karna kaleng yang dia tendang tadi malam."
"hahahaha, pantes dari tadi kau melihat kesana terus. ternyata ada dendam pribadi rupanya." andi tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah lah bima, maafkan saja. dia itu wanita loh. jangan terlalu kasar. kasihan"
"siapa yang suruh dia menggangguku. jadi jangan salahkan aku kalau sedikit menyulitkan dirinya" Bima tersenyum dengan liciknya. entah apa yang ada difikirkannya namun itu cukup membuat bulu kuduk Shasya berdiri.
"Kok perasaanku gak enak ya." ucap shasya sambil memegangi tengkuknya.
"sudahlah mungkin hanya perasaanku saja " batinnya.
Setelah selesai membersihkan diri di toilet. Shasya langsung menuju ke barisan yang terlihat mulai rapi. lalu acara penutupan masa orientasipun dimulai.
berbeda dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh seluruh petinggi kampus, acara penutupan hanya dihadiri oleh senior-senior yang memiliki jabatan di kampus tersebut.
berbagai macam kata sambutan dari ketua panitia, laporan kegiatan oleh sekretaris dan berbagai acara formal lainnya telah berlalu. sampailah pada acara akhir. kata sambutan dari ketua senat. Shasya sok setengah mati ketika melihat siapa yang kini berdiri di atas podium.
ya... dia adalah Bima Anggara.
"Sya, kali ini kau benar-benar tamat. malang sekali nasibmu kawan" ucap Syifa tak kalah kagetnya ketika menyadari bahwa temannya telah mengganggu ketua senat. Bayangan-bayangan penderitaan tergambar jelas dalam fikiran mereka.
__ADS_1
"pagi adik-adik, terima kasih untuk partisipasinya sehingga acara kita bisa berlangsung dengan baik. saya juga berterima kasih untuk pengalaman seru yang diberikan salah seorang MABA. dia berhasil membuat saya merasa dan yakin bahwa mahasiswa tahun ini sangat berbeda dengan tahun yang lalu terutama dari segi keberanian." Bima melirik kearah Shasya.
"tuh kan bener, dia lagi bicarain aku. habis lah baru juga satu hari masuk kampus" Shasya menundukkan pandanganya tak berani melihat kearah bima.
"dengan segala rasa hormat saya umumman MABA terbaik tahun ini jatuh kepada Eceng gondok. kepada eceng gondok harap maju ke depan untuk mengambil hadiahnya" Bima memberikan tepuk tangan dengan senyum manisnya. mungkin bagi orang lain senyuman itu terlihat tulus. tetapi tidak bagi Shasya, dia tau betul apa yang tersirat dari senyum bima.
"apalagi sih rencana Si kecombrang ini?" cibir Shasya.
"ayo kemarilah, jangan malu-malu" Bima kembali memanggil Shasya.
Shasya menghela nafas lalu menyeret kakinya kasar. shasya mempersiapkan hatinya sepanjang jalan dari barisan menuju podium agar tak meloncat keluar kalau-kalau nanti Bima kembali mengganggunya.
setibanya di podium. Shasya langsung berdiri di sebelah Bima. sedangkan bima mencondongkan tubuhnya ke arah Andi untuk mengambil hadiah yang terbungkus rapi. lalu menyerahkannya pada Shasya. Dengan berat hati shasya menerima hadiah tersebut.
ketika Shasya hendak membuka kotak hadiah tersebut, Bima dengan cepat menahan tangan Shasya dan menghentikannya.
"nanti saja buka hadiahnya." bisik Bima.
Shasya menggerutu kecil menunjukkan betapa kesalnya dia sekarang.
"apalagi yang kakak rencanai sekarang? masa iya kakak masih dendam sama aku? kan tadi malam aku udah minta maaf" Shasya membalas bisikan Bima.
"dendam apa? jangan terlalu berfikir. otakmu terlalu kecil untuk itu. kau harus berhemat agar kelak otakmu masih bisa digunakan saat kau tua"
"bicara apa kau?"
"tak ada"
"yasudah pergi turun. jangan lama-lama berdiri di sampingku. seneng banget sih jadi pendampingku." ucap bima menahan tawanya
"idih, amit-amit." Shasya membalikkan badannya ke arah Mahasiswa yang lain. sejenak melemparkan senyum lalu turun dari podium.
"dengan ini, maka acara orientasi kampus kita resmi ditutup. terimakasih dan selamat belajar. salam sukses buat kita semua" Bimo mengakhiri pidatonya.
tak lama setelah itu, barisan pun dibubarkan. kini Shasya dan Syifa berjalan bersama menuju salah satu kursi yang ada di lapangan.
"ayo Sya buka hadiahnya. aku penasaran banget" dengan semangat Syifa menarik tangan Shasya untuk duduk dan bersiap untuk melihat hadiah tersebut.
"iya sebentar. perasaanku tak enak nih" Shasya menggigit bibirnya gugup.
"sudahlah buka saja, tak mungkin kalau dia memberikan hadiah yang aneh-aneh." Syifa berusaha meyakinkan
__ADS_1
"baiklah" Shasya membuka hadiahnya
"Aaaaaaaarggh...."
Shasya dan Syifa menjerit kaget lalu mencampakkan kotak hadiah yang dia pengang. ternyata isi hadiah tersebut adalah serangga dan ular karet yang cukup menggelikan.
Hahahahaha....
Suara tawa pecah kearah mereka membuat Shasya dan Syifa melirik ke arah asal suara tersebut. ternyata bima dan andilah yang tertawa terbahak-bahak sambil saling pukul melihat reaksi kaget Shasya dan syifa.
"kau benar bim, mereka lucu-lucu" andi memegang perutnya tak henti-henti tertawa.
"apa ku bilang di, kita akan membuang kesempatan untuk bahagia jika membiarkan sikodok ini lolos begitu saja. oh iya maaf nona aku tak bermaksud menakutimu. salahkan teman kamu yang nyebelin itu" ucap bima masih tertawa.
"BIMAAAAAAA!" shasya menjerit dan menggerakkan jarinya seperti akan mencakar wajah bima.
"sudahlah sya. sabar!" Syifa menenangkan.
"nyebelin banget sih ni anak. awas saja kau!" Shasya menggerutu.
"sudahlah, ayo kita pulang. mereka masih anak-anak. percayalah untuk sikat gigi aja mereka harus bernyanyi bulat-bulat seperti kartun itu" Syifa menyindir dan tersenyum meledek kearah Bima dan andi lalu tangannya berusaha menarik Shasya pergi.
"Kau..." ucap andi kesal.
Shasya mengacungkan tangannya kearah bima seolah ingin meninju.
"weeekk" Syifa menjulurkan lidahnya mengejek ke arah 2 orang yang kini mulai kesal.
kedua wanita tersebut berlari sambil tertawa ketika melihat raut wajah kesal dari Bima dan Andi. setelah dirasa aman, mereka berhenti lalu terduduk di tanah dan tertawa mengingat betapa kekanakannya mereka tadi.
"astaga Sya baru kali ini aku ikutan jadi gila begini"
"aku juga fa. ampun capek banget."
"yasudah Sya kita pulang yuk. kamu bawa motor?"
"tidak"
"kalau begitu bareng aku aja pulangnya. aku bawa mobil nih"
"oke"
__ADS_1
Syifa berdiri dan membersihkan celananya lalu berjalan kearah parkiran mobil diikuti oleh Shasya. mereka masuk kedalam mobil lalu Syifa melajukan mobilnya ke arah rumah Shasya setelah itu Shasya kembali menjalankan mobilnya untuk pulang kerumah.