
sungguh pemandangan yang mengejutkan bagi Rio. karena selama di sulawesi, dia tak pernah melihat wanita makan dengan barbar seperti itu. dinda yang badannya sangat kurus saja selalu menjaga makannya agar tak berlebihan sehingga tubuhnya benar-benar jauh dari kata gemuk.
"lihatlah mereka. bisa sesantai itu menghabiskan makanan sebanyak ini" batin Rio.
Rio masih terpaku melihat kelima wanita yang ada dihadapannya. dan tiba-tiba saja ponsel Rio berdering, Rio yang kaget melihat nama yang tertera dilayar ponselnya langsung mengambil ponselnya dan meminta izin untuk menjawab telponnya.
Di dalam hatinya Rio bertanya apakah Shasya dan lainnya melihat nama yang menelponnya atau tidak?. Rio takut Shasya akan menjauhinya jika dia tau Rio memiliki pacar. setelah cukup jauh dari Shasya dan yabg lainnya Rio langsung menekan tombol jawab.
"pagi sayang" ucap seorang wanita memulai pembicaraan.
"pagi sayangku, kamu lagi apa?"
"baru selesai ngerjain tugas nih, terus ntah kenapa aku kepikiran kamu, makanya aku telpon. kamu lagi apa?"
"baru selesai lari pagi sayang"
"sendiri?"
"iya sayang, emang mau sama siapa lagi coba?"
"yaa.. kan aku cuma bertanya sayang"
"iya iya, yaudah aku matiin dulu telponnya gapapa ya, aku pulang ke rumah dulu. nanti aku telpon lagi". jawab Rio berusaha mengakhiri panggilan karena merasa tak enak jika dia terlalu lama diluar.
"oke sayang, bye"
Setelah selesai menelpon, Rio kembali ke meja tempat yang lainnya berkumpul. kemudian Rio melirik ke arah mangkok Shasya dan yang lainnya ternyata mereka sudah hampir selesai makan. Bubur yang tadinya menggunung di mangkok mereka kini telah menipis dan mulai habis, sedangkan bubur Rio masih sangat penuh.
"astaga benar-benar habis. mereka luar biasa" Rio takjub melihat nafsu makan kelima wanita itu.
"wah Sya ternyata badanmu saja yang kecil. tapi makanmu banyak juga ya" rio meledek Shasya.
"kau saja yang lemah. laki-laki kok makannya cuma segitu? masih zaman ya takut gemuk?" Shasya membalas.
"lihat mangkok kamu masih sangat penuh. astaga, berhentilah memberi komentar dan mengganggu Shasya. cepat selesaikan makanmu" ucap Syifa lalu tangannya menepuk kepala Rio.
"kau.." Rio mulai kesal lalu memercepat makannya sehingga sedikit demi sedikit bubur di mangkoknya berkurang.
__ADS_1
"eh ri, tadi siapa yang menelpon? om ya?" tanya Syifa. yang membuat Rio tersedak namun sedikit lega karna artinya mereka tak melihat nama yang tertera diponselnya.
"bukan. tetapi temen sekolahku, kan udah dekat UN nih jadi dia memberitahukan jadwal terbaru. soalnya aku minta tolong sama dia kemarin sebelum datang kesini untuk memberitahukan informasi terbaru kepadaku." jawab Rio berbohong.
"oh iya, emang kamu kenapa tiba-tiba datang kesini? kan udah mau ujian?" tanya Shasya.
"loh, Syifa gak ada cerita ya sama kalian, aku kesini mau ngurus berkas soalnya aku mau kuliah disini. selain itu aku juga disuru papa untuk mencari rumah disini karna dalam waktu dekat aku dan keluargaku akan pindah kesini. mungkin keluargaku yang akan kesini lebih dulu. sedangkan aku akan pindah setelah lulus-lulusan". jelas Rio.
"oh" ucap Shasya mengakhiri perbincangan.
Setelah selesai makan, Rio berdiri kearah kasir lalu mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan, kemudian membayar buburnya.
"waah serius diteraktir nih?" ucap tiara antusias.
Rio hanya tersenyum, sesekali Rio melirik kearah Shasya yang kini mulai berjalan di depannya untuk keluar dari warung.
"kita langsung pulang atau gimana?" tanya Nadia.
"jalan-jalan dulu yok, masih jam sembilan nih, males pulang cepat". ajak Nina diikuti anggukan yang lainnya.
lalu mereka berjalan beriringan mengelilingi lapangan. sesekali terdengar suara canda tawa dari mereka. dan seperti biasa tak sedikit pria yang melirik ke arah mereka karna memang Shasya dan ke empat temannya memiliki wajah yang tergolong cantik sehingga mudah menarik perhatian lawan jenisnya.
"Sya" panggil Rio yang membuat langkah shasya terhenti.
Rio berjalan menghampiri Shasya. Terlihat ada raut kebingungan di wajahnya sedangkan Syifa, Nadia, Nina, dan Tiara tetap berjalan perlahan dan mulai menjauh.
"ada apa?" kok tiba-tiba manggil?" tanya shasya
"gapapa sih, aku cuma mau ngobrol aja sama kamu. lagian cuma kamu yang galak. jadi seru aja kalau digangguin" ucap Rio dengan nada isengnya.
"apaan sih? gak usah aneh-aneh deh samaku. gue kepret gak jadi orang lagi lu"
"terus jadi apa?"
"jadi bonyok"
Shasya dan Rio tertawa bersama.
__ADS_1
"yaampun sya, emosian banget sih" rio berusaha menahan tawanya.
"bercanda kali Ri, ya kali aku segalak itu"
"mana ku tau kita kan baru kenal, bisa saja kan kamu memang barbar"
"kau yang barbar"
"yasudah lah sya. hahhaa... oh iya kamu sudah berapa lama berteman sama syifa?"
"udah dari SD sih, syifa itu orang asyik, lucu juga. pokoknya baik deh. sebenarnya dia teman pertama aku, aku itu termasuk orang yang agak takut kalau harus mencari teman baru, berbanding terbalik dengan Syifa. Syifa supel banget. Tiara, Nadia dan Nina juga Syifa yang ngenalin ke aku." jawab Shasya dengan antusias sambil tersenyum.
Terlihat sangat jelas bahwa Shasya sangat berterima kasih pada temannya itu.
"ternyata anaknya kocak. tapi bisa juga diajak ngobrol serius. dan sepertinya dia sangat baik " gumam Rio yang membuat hatinya berdegup kencang menandakan ada sesuatu yang tak dia sadari telah masuk ke dalam sana.
"udah ah, kok jadi curhat gini sih, waaah mereka sudah tak terlihat. ini semua gara-gara kamu terlalu banyak bertanya. ah sudah lah ayo buruan nanti mereka makin jauh." ucap Shasya dengan nada tingginya.
Tanpa sadar Shasya menarik tangan Rio dan mengajaknya berlari kearah Syifa dan lainnya. Rio tersenyum, entah kenapa dia merasa bahagia padahal dia tau Shasya memegang tangannya hanya agar dia ikut berlari.
"eh, sorry sorry" ucap shasya ketika sadar tangannya telah memegang tangan Rio.
"ternyata kau agresif juga ya" ledek Rio
"agresif hidungmu. sudahlah ayo cepat" Shasya kembali berlari. diikuti oleh rio yang berusaha keras menahan tawanya.
Di lain tempat.
"Shasya sama Rio dimana?" tanya Nina.
"tuh dibelakang, udah biarin aja mereka jalan berdua. mungkin bentar lagi kita bakal dapat kabar baik" jawab Syifa sambil tersenyum.
Seketika yang lainnya tertawa karna paham maksud dari syifa.
****
sulawesi.
__ADS_1
Terlihat seorang wanita terus menatap gambar wallpaper di ponselnya, gambar seorang lelaki yang memegang kue ulang tahun.
"sayang, kok lama banget sih sampai rumahnya. aku kangen ngobrol panjang sama kamu. apa kamu lupa hariini kan ulang tahunku. Rio aku rindu". tak terasa air mata mulai membasahi wajah wanita itu.