Cerita Cinta Shasya

Cerita Cinta Shasya
Rumah Shasya


__ADS_3

Mendegar bima menyuruhnya pulang membuat Shasya merasa terselamatkan dari masalah besar. tanpa fikir panjang dia langsung berlari kembali menuju motornya yang masih terparkir di depan mini market.


*****


Bima terus saja melihat kearah mana Shasya pergi. hatinya seolah tak tenang membiarkan Shasya yang seorang wanita pulang sendiri malam-malam. dia merasa sedikit khawatir. akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti Shasya kembali sekaligus dia ingin mengambil motornya yang juga terparkir di depan mini market.


setelah melihat Shasya pergi mengendarai motornya, bima langsung menaiki motornya dan bergegas mengikuti Shasya. tanpa Shasya sadari, keadaan mulai berbalik dan dia lah kini yang sedang diikuti oleh bima. setelah memastikan Shasya aman dan telah masuk kedalam rumahnya seketika bima sadar dengan apa yang dia lakukan.


"astaga, kurang kerjaan banget sih aku mengawasi bocah itu" batin bima yang masih sibuk melajukan motor miliknya.


Shasya telah masuk ke rumahnya, kemudian berjalan ke dapur dan mulai mengasah kemampuan memasaknya. dia memotong bawang dan beberapa buah cabai rawit. kemudian memasak mie nya. setelah dirasa cukup matang, dia kemudian menyajikan mie nya di sebuah mangkok.


"wah kelihatan enak banget, apa sih yang aku tak bisa haha, siapa dulu Shasya... baiklah selamat makan..." Ucap Shasya membanggakan dirinya.


Saat Shasya membuka mulutnya hendak memasukkan mie ke dalam mulutnya. tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk.


"astaga, siapa sih yang malam-malam bertamu" oceh Shasya kesal.


dengan wajah kesal, Shasya berjalan kearah pintu. dan betapa terkejutnya dia ketika melihat bima telah berdiri di depan pintunya dengan tampilan yang berbeda.


"astaga kak bima kenapa? kok jadi kotor begini? ayo masuk dulu kak."


Shasya benar-benar kaget ketika melihat keadaan bima yang seperti habis jatuh atau kecelakaan dengan pakaian yang kotor dan sedikit luka pada punggung dan telapak tangannya.


"maaf aku bikin kau kaget, aku boleh pakai kamar mandinya sya?"


"iya kak boleh, dari sini lurus belok kanan. aku antar saja deh."


Shasya membantu Bima yang terlihat sedikit kesusahan saat berjalan dengan memapah Bima menuju kamar mandi. setelah bima masuk ke kamar mandi, dengan cepat Shasya mengambil baju kaos serta celana pendek milik ayahnya lalu kembali ke toilet.


"kak, ganti baju kakak dengan ini saja" ucap Shasya sambil menggedor pintu kamar mandi.


"tidak usah Sya, aku pakai bajuku saja"


"baju kakak sangat kotor, tadi juga aku melihat ada luka di tangan kakak. takutnya luka kakak akan infeksi kalau terkena kuman dari baju kakak. sudah lah pakai saja ini"


Shasya memaksa.


"baiklah, maaf merepotkan" ucap bima lalu membuka pintu kamar mandi dan mengambil baju yang diberikan Shasya.


Tak beberapa lama Bima keluar dari kamar mandi dan berjalan perlahan menuju ruang tamu. terlihat Shasya tengah duduk dengan kotak obat di pangkuannya. lalu bima duduk di sofa tepat di sebelah Shasya.


"coba sini aku lihat luka kakak" Shasya menarik tangan bima. terlihat beberapa luka gores yang tak terlalu dalam di tangannya. Shasya langsung membersihka luka Bima dengan menggunakan kapas yang telah diberi alkohol.


Bima meringis kesakitan setiap kali kapas tersebut mengenai lukanya. ternyata tak hanya tangan, bagian lutut bima juga terlihat luka. berbeda dengan luka yang ada pada tangan, luka di lutut bima terlihat lumayan dalam. dengan sigap Shasya membersihkan luka-luka itu, lalu mengoleskan obat. kemudian membalut luka yang terlihat cukup besar dengan sebuah perban.


Shasya seolah tak peduli yang dia tolong adalah orang yang mengusik ketenangannya dari semalam. baginya menolong orang lain adalah yang terpenting. masalah kesal ataupun dendam nanti saja dilanjut lagi.

__ADS_1


Bima terus memperhatikan apa yang dilakukan Shasya. dia cukup kagum dengan keterampilan Shasya dalam membalut luka. kini luka ditubuh bima sudah terobati dengan sempurna.


"kok bisa sih tubuh kakak luka-luka begini?" tanya Shasya.


"aku terjatuh dari motorku" jawab bima singkat.


"oh, bagaimana bisa kakak terjatuh dan bukannya pulang malah mampir kesini? dan darimana kakak tau ini rumahku?" Shasya muliai curiga.


Bima terdiam, tentu saja dia tau itu adalah rumah Shasya karena tadi dia mengikuti shasya. namun tak mungkin dia mengatakan kalau dia memang terjatuh karena sebuah lubang besar yang tertutup oleh genangan air tepat seratus meter dari rumah shasya.


ya... bima terjatuh karena fikirannya masih sibuk menertawai kekonyolan dirinya yang tanpa sadar mengikuti shasya hanya untuk memastikan keselamatan wanita liar itu sehingga dia tak fokus mengendarai motornya.


"krrruuuccuukk."


Suara perut bima terdengar sangat kencang. betapa malunya dia saat ini. belum sempat dia mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan situasinya kepada Shasya, malah kini perutnya menambah rasa malu pada diri bima.


"kakak lapar?" tanya shasya


"tidak, aku tak lapar" jawab bima.


"sudahlah tak usah malu. ayo sini ikut aku" Shasya berjalan menuju dapur diikuti oleh Bima.


"tadi aku masak mie instan. astaga, mienya sudah lembek karena kelamaan dimakan." ucap Shasya sedikit malu ketika melihat keadaan mienya yang memang sudah sedikit mengembang.


"sepertinya enak, boleh aku minta sedikit?" tanya bima.


"aku masakin lagi saja ya kak, ini sudah tidak enak"


"baiklah kalau kak bima mau. jangan salahkan aku kalau mienya sudah tak enak karena terlanjur dingin"


Shasya berjalan mengambil sebuah mangkok lalu membagi mienya menjadi dua. kemudian memberikan mangkok tersebut kepada Bima. lalu mereka makan bersama.


"ternyata si kodok jago masak juga ya. mienya enak banget. padahal hanya mie instan biasa tapi rasanya sangat berbeda" batin Bima.


setelah selesai makan, Shasya merapikan kembali mangkuk tersebut dan membawanya dari meja menuju tempat cucian piring. setelah itu Shasya mengajak bima untuk duduk di ruang tamu.


kini mereka berdua telah duduk di sofa yang terletak diruang tamu. mata Bima mengawasi setiap sudut rumah. Rumah yang tak terlalu besar namun terasa sagat nyaman. di sisi kanan ruang tamu terdapat berbagai macam piala yang terpajang di lemari.


"ternyata dia wanita yang berprestasi" fikirnya.


"kamu sendirian? orangtua kamu ada di mana?" tanya Bima


"ibu sama ayah lagi keluar kota, ada keluarga yang meninggal. jadi mereka pergi kesana"


"oh"


bima berfikir sejenak, bagaimana mungkin wanita secantik Shasya tak memiliki kewaspadaan sama sekali. dia membiarkan bima yang merupakan laki-laki untuk masuk ke rumahnya saat dia sedang sendirian.

__ADS_1


namun seketika fikirannya berubah ketika melihat sertifikat juara satu karate sekota medan yang ada di barisan sertifikat-sertifikat yang terpajang di ruang tamunya.


"pantas saja dia berani. kalaupun ada orang yang berniat jahat padanya pasti akan menyesal seumur hidup" fikir bima seketika tergambar senyuman kecil di wajahnya.


"itu sertifikat kamu semua?" bima memecah keheningan.


"iya, kenapa? aku hebat kan?" Shasya mulai menyombongkan diri.


"ya ya ya, kau hebat, sangat hebat, benar-benar hebat sampai aku ingin memasukkanmu ke rekor dunia" Bima mencibir.


"biasa aja kali. mohon maaf, aku juga sudah pernah masuk rekor dunia kok. waktu itu aku dan teman-temanku membuat kain rajut terpanjang di dunia." Shasya kembali membanggakan diri.


"astaga, kau serius?" bima tak percaya


"tentu saja. aku tak suka membual. itu sertifikatnya" Shasya menunjuk kearah sertifikat yang tertulis rekor dunia


"gila kau dok" Bima berdecak kagum.


"sudahlah, sekarang yang perlu kita fikirkan bagaimana kakak pulang ke rumah? aku tak menerima tamu untuk menginap" ketus Shasya.


"kau tenang saja, aku sudah menghubungi andi tadi. mungkin sebentar lagi dia sampai. aku akan diantar pulang olehnya."


"oh, oke"


"aku titip motorku dulu disini ya. jaga baik-baik, jangan sampai hilang" ucap bima tegas


"tak akan hilang, paling besok aku jual saja." Shasya berbisik.


"apa kau bilang?"


"tak ada"


selang beberapa waktu pintu rumah Shasya kembali diketuk.


"mungkin itu andi"


Shasya dan bima langsung berdiri kemudian berjalan kearah pintu. ternyata benar yang mengetuk pintu adalah andi. lalu bima kembali masuk untuk mengambil tas serta baju kotornya yang telah di masukkan Shasya ke dalam sebuah plastik. setelah selesai, Bima dan andi langsung berpamitan untuk pulang menggunakan mobil andi.


di tengah perjalanan.


"waw, kau sudah berkunjung kerumahnya saja. pergerakanmu sangat cepat kawan" ledek andi


"diam lah, kau tak lihat aku terpaksa?" oceh bima sambil menunjukkan luka-lukanya.


"iya lah, terpaksa banget. entah bagaimana bisa terpaksa singgah di rumah si Shasya yang jalannya jelas berlawanan arah dengan rumahmu" andi kembali menggoda bima.


"sudah diamlah sebelum bulu kakimu kucabut satu per satu" ancam Bima.

__ADS_1


"santai bro, jangan emosi"


andi terus melajukan mobilnya sampai akhirnya mobil mereka melambat dan berbelok di sebuah rumah besar di kawasan perumahan elit kota medan yang menjadi tempat tinggal bima dan keluarganya.


__ADS_2