Cerita Cinta Shasya

Cerita Cinta Shasya
orientasi kampus 2


__ADS_3

di dalam tenda Shasya sama sekali tidak bisa tidur. fikirannya kacau. ada rasa sesak didadanya. dia terhanyut dalam khayalan yang membawanya mengenang cerita lalu bersama Rio.


"hmmmm, sekarang dia sedang apa ya?" ucap Shasya. lalu dia keluar dari tendanya dan berjalan perlahan menikmati dinginnya angin malam saat ini.


tiba-tiba langkah Shasya terhenti. matanya terpaku kepada muda mudi yang tengah duduk berpasangan sambil menatap bintang yang terpampang jelas diatas kepala mereka.


"yaampun, udah tengah malam tetapi mereka masih saja menempel sana-sini. is...is..is... dasar anak muda." shasya menggelengkan kepala.


Shasya memutar arah untuk kembali ke tendanya. matanya membulat ketika melihat beberapa kaleng bekas minuman yang dibuang sembarangan oleh seseorang.


"bahkan untuk membuang sampah pada tempatnya saja mereka gak bisa. apa harus banjir dulu biar pada tau rasa semua. eh, jangan sampai banjir deh. ntar aku juga yang repot." Shasya tertawa kecil.


tanpa aba-aba Shasya menendang kaleng pertama ke arah tong sampah yang kebetulan dekat dari tempat dia berdir dan..


"Gooool" Shasya mengangkat tangannya karena kaleng pertama berhasil masuk. lalu kegiatan itu diulang berkali-kali sampai di kaleng terakhir.


"para hadirin sekalian, tendangan ini aku persembahkan untuk seluruh bapak dan Ibu petugas kebersihan beri tepuk tangan yang meriah" Ucap Shasya selayaknya pemenang ajang pencarian bakat. lalu dengan yakin Shasya mundur beberapa langkah lalu


"satu...dua...tigaaa..."


Shasya menendang kaleng tersebut dengan keras sambil memejamkan matanya.


"Aaaauuwwww" suara jeritan terdengar sangat kencang. Shasya membuka sebelah matanya dan mengintip siapa yang menjerit. matanya seketika terbuka ketika melihat Bima yang sedang meringis kesakitan tangan kanannya memegang keningnya sedangkan tangan kirinya.


"astaga mati aku" ucap Shasya ketika sadar kaleng yang dia tendang tadi mengarah ke kening Bima.


Bima melirik kearah asal kaleng tersebut seketika Shasya langsung berbalik arah dan berlari kencang.


"hei, berhenti! mau lari kemana kau?" teriak Bima.


"udah gila kali ya dia, ya gak mungkin lah aku berhenti. aku belum siap mati." ucap Shasya semakin mempercepat larinya.


" Aaaaa....Ibuuuuuu..." jerit Shasya lagi ketika Bima semakin dekat dan hampir menangkapnya.


Shasya terus berlari kencang. ketika dia tak mendengar suara langkah kaki lagi, Shasya menghentikan larinya dan menoleh sedekit kebelakang. nafasnya tersengal, dia langsung terduduk ditanah karna kelelahan. namun dia merasakan aura dingin dari arah belakang tubuhnya. ketika dia melihat kebelakang


"Dapat!" Seseorang memegang pundak Shasya.


"aaaaaarrh" Shasya menjerit karna kaget dan mnejadi lebih kaget lagi ketika melihat Bima lah yang telah menangkapnya. ternyata Bima memotong jalan sehingga ia lebih dulu sampai dari pada Shasya dan bersembunyi sampai melihat Shasya telah lengah.


"Woy kodok! udah bikin jidat aku benjol begini bukannya tanggung jawab malah kabur" bima berbicara dengan nada lantang


"hehehe... maaf kak, gak sengaja"


"haha.. hehe.. haha..hehe.. gak lucu tau! sakit ni!"

__ADS_1


"ih katanya otot kawat tulang besi. kena kaleng aja heboh gitu. lemah kamu kak" Shasya mencibir pelan


"hey aku bima bukan gatot kaca. gak usah ngomong yang tidak tidak. bawa aku kerumah sakit. aku harus USG in kepalaku"


"USG? kepala kakak hamil?" Shasya menahan tawanya.


"Hamil jidad lu, aku harus periksa takutnya aku geger otak. aku gak mau tau, gak nerima alasan pokoknya harus USG paham!"


"Rontgen kak rongeeeent. Ah elah bambang. jadi aku yang emosi"


"sama aja. pokoknya periksa"


"suka hati kakak aja udah. tapi mau USG dimana tengah malam gini kak? eh rontgen maksudnya. tuh kan aku jadi ikutan bodoh" Shasya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.


"emang kau bodoh"


"tau ah, yang betul betul aja la kak. aku ngantuk banget nih. capek lari-lari."


"siapa yang menyuruhmu lari?"


"Siapa yang menyuruhmu punya tampang yang menyeramkan?"


"aku seram? gak salah?"


"hei chili tua. dimana-mana tampang kayak aku ini terkenal tampan loo. banyak wanita yang tergila-gila."


"kakak tuh kecombrang ungu!" oceh Shasya tak senang karna disebut Chili tua.


"ya.. ya.. ya.. pasti mereka semua orang gila" tambahnya lagi dengan nada seolah berbisik .


"kau bilang apa?"


"tidak. sudah ya kak. aku balik ke tenda dulu. jangan malam-malam tidurnya. nanti kena timpuk kaleng lagi. bye"


Shasya melambaikan tangannya dan segera berlari kembali menuju tenda.


"Dasar Kodok" Ucap Bima geram.


Bima berjalan kembali menuju tendanya dengan masih memegang kaleng ynag ditendang Shasya. terlihat garis senyum di bibirnya ketika melihat tingkah konyol Shasya saat berlari untuk menyemalatkan diri darinya.


"Natasha Fadila, persis seperti namanya menarik dan cantik. sepertinya hari-hari di kampus ini bakal jadi lebih seru" gumam Bima dalam hati.


*****


Shasya telah kembali ke tendanya. dia duduk sambil menarik selimut menutupi kakinya jantungnya masih berdegup kencang. terasa sekali hawa ketakutan menghantuinya. Shasya membaringkan tubuhnya sambil sesekali mengelus dada.

__ADS_1


"astaga, kenapa seharian ini aku selalu berurusan sama kak bima sih? bisa mati muda aku kalau jantungku bekerja keras terus. mending kalau dag dig dug nya karna jatuh cinta seperti saat bersama Rio."


ocehan Shasya terhenti ketika tanpa sengaja bibirnya mengucap nama Rio. raut wajahnya berubah seketika. terlihat tatapan sendu di matanya.


"Rio, aku kangen. kenapa kau harus mendekatiku dan menyatakan perasaanmu jika pada akhirnya kau meninggalkanku seperti ini." ucap Shasya. terlihat butiran air mata mulai menggenang.


"aku tak masalah untuk berhubungan jarak jauh, dan aku juga tak keberatan jika harus menjaga hati asal kamu tetap menjaga komunikasi kita. sekarang ini bagaimana aku bisa yakin kalau pesanku saja tak pernah kau balas! jangan salahkan aku jika nanti aku mendapatkan penggantimu. itu semua salahmu!"


bukan jarak yang membuat cinta menghilang tetapi cinta itu hilang karena kepercayaan yang semakin memudar sebab hilangnya kabar.


(tianaa).


****


Shasya membenamkan dirinya ke dalam selimut. sesekali airmatanya terjatuh membasahi pipi. namun segera ia hapus menggunakan tangannya.


dia bukanlah wanita yang lemah. dia juga bukan wanita yang mudah terbawa perasaan.


"ah, kalau cuma kenangan singkat bersama Rio sih bukanlah hal yang penting. dasar Rio bodoh, Rio nyebelin! biarin aja, semoga jerawatmu bertambah satu di hidung karena telah membohongiku" Shasya menjerit tiba-tiba. tanpa sengaja ia membangunkan Syifa yang tengah tidur di sebelahnya.


"kau kenapa? kok belum tidur? tanya Syifa.


"aku dalam masalah fa."


"masalah? masalah apa sya?" Syifa langsung bangun dari tidurnya dan duduk mengarah ke Shasya.


Shasya membatin. tak mungkin jika dia bilang kalau dia sedang merindukan Rio. akhirnya dia hanya menceritakan insiden kaleng antara dia dan Bima.


"kau gila Sya? astaga Sya... jelas sekarang kamu memang dalam masalah besar" Syifa menepuk jidatnya seakan tak percaya apa yang telah dilakukan oleh sahabatnya itu.


"terus aku harus bagaimana fa, kuliah belum dimulai aku udah dapat musuh." Shasya memelas.


"sudahlah, kita berdoa saja. semoga bima bukan orang yang pendendam"


"Semoga."


Shasya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. dia baru sadar bukan kisah cintanya dengan Rio yang patut ia fikirkan sekarang akan tetapi kisah hidupnya di kampus yang seharusnya ia khawatirkan.


"yaampun. kenapa harus sesial ini sih" batun Shasya.


"sudahlah, ayo kita tidur Sya. udah hampir pagi nih. besok kan kita harus ikut upacara pembubaran kegiatan orientasi."


Syifa membaringkan tubuhnya dan mulai masuk kealam mimpi. Shasyapun ikut membaringkan tubuhnya. baginya hariini cukup panjang dan melelahkan.


"sudahlah, nanti saja aku fikirkan bagaimana caranya menghadapi bima biar hidupku tetap aman" ucapnya. dia memejamkan matanya dan mulai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2