
Siang ini Shasya duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh kesukaannya. dia memainkan ponselnya sambil tertawa. Ternyata dia sedang ngobrol seru bersama Rio dari aplikasi chat.
tok...tok..tok...
Suara pintu yang diketuk.
"ya... sebentar" Shasya langsung berjalan menuju pintu kemudian membukanya. mata Shasya membulat ketika melihat seorang wanita cantik dan seorang balita berumur tiga tahun telah berdiri didepan pintu.
"yaampun tante Rara, ayo masuk tan". Shasya mempersilakan Rara yang merupakan adik dari ibunya untuk masuk ke dalam rumah.
"ibu kamu kemana Sya? tadi tante sudah janjian mau ke salon bareng ibu kamu."
"ibu di kamar tante, mungkin masih bersiap-siap".
"oh oke. Sya tante boleh titip Icha ya, sebentar saja. tante takut Icha rewel nanti kalau dia ikut ke salon". ucap tante memohon
"aman tante, Shasya juga sudah kangen banget sama Icha." ucap Shasya sambil membelai rambut Icha.
"loh Ra, kamu udah sampai? maaf ya nunggu lama." suara ibu langsung membuat Shasya dan Rara melihat kearahnya.
"belum lama kok kak, yaudah kita berangkat sekarang ya" ajak Rara.
"terus icha gimana?" tanya ibu
"Icha biar Shasya aja yang jaga bu. ibu sama tante gak perlu khawatir" jawab Shasya
" yasudah kalau begitu ibu sama tante kamu pergi dulu ya. kamu hati-hati dirumah" ucap ibu Shasya.
Shasya mengangguk tanda paham. Lalu Ibu dan tante Rara langsung pergi meninggalkan Shasya. Mungkin Shasya belum paham masalah apa yang akan menanti didepan matanya sehingga Ia masih santai dengan ponselnya sambil sesekali melirik ke arah Icha yang masih duduk manis.
"kak Sya, Icha mau main. ayo maiiiin" ucap Icha sambil menarik tangan ShaSya.
Shasya yang terkejut langsung meletakkan ponselnya kemudian mengikuti Icha.
"kamu mau main apa?"
"kuda komedi putar."
"waduh disini mana ada komedi putar Cha"
"gak mau tau, Icha mau main komedi putar."
__ADS_1
kemudian Icha menangis sambil menjerit. Membuat Shasya mulai kebingungan. Shasya berusaha menenangkan Icha dengan memberi berbagai macam mainan yang bisa dia temukan dirumahnya. Namun Icha tetap menjerit bahkan tangisnya semakin menjadi-jadi.
"haduuuh gimana ini?" batin Shasya semakin bingung. dia tidak tau apa yang harus dia lakukan agar Icha berhenti menangis. Akhirnya timbul fikiran Shasya untuk menghubungi Rio.
Shasya mengambil ponselnya dan menghubungi Rio
*****
Rio yang masih menatap ponselnya bertanya-tanya dalam hati kenapa Shasya tak membalas pesannya lagi. Sudah hampir satu jam, namun tetap tak ada balasan.
Matanya seketika membulat melihat Shasya tiba-tiba menelponnya. Rio tersenyum dan langsung menjawab panggilan tersebut.
"hallo sya, kenapa? kangen ya? tumben nelpon" oceh Rio.
"Ri, tolongin aku" ucap Shasya dengan nada panik
"kamu kenapa, kamu dimana? aku kesana sekarang" ucap Rio tak kalah panik sambil mencari kunci mobil dan langsung berlari menuju mobilnya.
"Aku di rumah, yaudah kamu kesini cepetan ya." Shasya langsung mematikan ponselnya.
Dengan kecepatan penuh Rio langsung bergegas ke rumah Shasya. Sesampainya di Rumah Shasya Rio langsung berlari dan mengetuk pintu dengan keras.
"sya, ini aku. buka pintunya" ucap rio masih terus mengetuk pintu
"syukurlah kamu udah sampai. tunggu disini sebentar" Ucap Shasya kemudian berlari masuk meninggalkan Rio yang membatu kebingungan.
Beberapa saat kemudian.
"ayo, kita harus pergi" ajak Shasya tangan kirinya menarik lengan Rio sedangkan tangan kanannya menggendong Icha yang masih menangis.
Rio mengikuti Shasya memasuki mobil dengan masih memasang wajah bingung. ditambah lagi dengan kehadiran seorang anak kecil yang kini ada dipangkuan Shasya.
"sya, siapa anak ini?" tanya Rio sambil melajukan mobilnya.
"anak tante, tadi ibunya menitipkan dia ke aku."
"oh, jadi sekarang kita mau kemana?" ucap Rio masih penuh tanda tanya.
"yaampun aku belum bilang kita mau kemana ya" diiringi tepukan tangannya di kening.
"kita ke lokasi arena bermain di mall tengah kota ya, dari tadi Icha menjerit-jerit minta naik komedi putar. aku stres dengerinnya. gak tau lagi harus gimana lagi menghadapi ini anak" jelas Shasya sambil menarik nafas.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari Rio. Shasya dan Icha sontak langsung melihat kearah Rio, kemudian saling bertatapan heran.
"yaampun Sya, kamu tau tadi aku itu panik banget sampai aku berlari dari rumah dengan celana pendek dan kaus seperti ini. Aku kira kamu di ganggu orang atau kemalingan" celoteh Rio masih tertawa tak percaya dengan kekonyolan yang dilakukannya.
Shasya akhirnya memperhatikan penampilan Rio. Terlihat Rio memakai celana jeans selutut dan kaos polos berwarna putih dengan rambut sedikit berantakan. Shasya tersenyum menahan tawanya namun akhirnya tawanya pecah ketika melihat sendal jepit dengan warna berlainan antara kanan dan kiri yang tengah Rio pakai.
"yaampun Ri sendalmu. Sorry sorry tadi aku panik banget dengerin tangisan anak kecil" ucap Shasya.
Rio dn Shasya tertawa bersama sedangkan Icha memasang tatapan heran melihat mereka berdua.
Mobil Rio dipenuhi suara tawa dari mereka berdua dan sesekali terdengar canda ramah yang dilakukan Rio kepada Icha. Mobil itu terus melaju menuju tempat yang dipilih Shasya.
Shasya memperhatikan toko-toko yang ada di pinggir jalan.
"stop..stop..stop.." Shasya menepuk punggung Rio.
Rio kaget dan langsung menghentikan mobilnya.
"buka sendal kamu" ucap shasya.
Rio membuka sendalnya dengan tatapan penuh tanda tanya. dengan secepat kilat Shasya mengambil sendal Rio lalu mendudukkan Icha di kursi tempat dia tadi duduk.
"Icha tunggu disini. kakak gak akan lama." ucap Shasya kemudian turun dari mobil.
tak berapa lama Shasya kembali membawa satu buah kantung plastik. Shasya masuk kedalam mobil dan kembali memangku Icha.
"kalau kamu kalem begini kan jadi kelihatan imut banget. dasar hantu kecil kakak" ucap Shasya sambil mencium kening Icha yang mulai tertidur.
"kamu pakai ini saja. aku gak bakal fokus menjaga Icha jika melihat sendal kamu yang berlainan begitu" perintah Shasya sambil memberikan kantung plastik yang Ia pegang kepada Rio.
Rio tersenyum.
"perhatian banget sih kamu" ucap Rio
"jangan salah paham, aku cuma gak mau malu nanti di mall." ledek Shasya sambil tertawa.
"Maaf ya Ri, udah buat kamu panik" Shasya memelas.
"iya iya.. terima kasih untuk sendalnya. pilihan kamu bagus aku suka" ucap Rio membelai lembut kepala Shasya kemudian tangannya turun lalu membelai kepala Icha.
"terima kasih makhluk kecil untuk kesempatan ini. tanpa kamu sadari, kamu memberi alasan sehingga abang bisa jalan bareng kakakmu". batin Rio
__ADS_1
Shasya yang melihat apa yang dilakukan Rio hanya tersenyum. "ternyata Rio orang yang sangat lembut" fikirnya.