
Shasya mulai merasa terusik dengan tingkah laku rio kepadanya. bahkan dia menjadi sulit fokus pada pelajarannya. bayangan Rio menolongnya dengan memijat kakinya yang keseleo serta belaian lembut tangan Rio yang mengacak-acak rambutnya seakan membekas di hatinya dan berbutar terus di memori ingatannya.
"ah sudahlah, Rio hanya lalat. ya... dia sejenis serangga bau yang sedikit berbulu. sama sekali tak penting" oceh Shasya pada dirinya sendiri.
Shasya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja belajar. kini Shasya telah duduk dan mulai fokus belajar di meja belajarnya.
sebenarnya Shasya Tak pernah sekalipun melewatkan waktu belajar malamnya. Dia sangat suka belajar, karena dia merasa hidupnya akan lebih mudah ketika dia mengetahui banyak hal. Dia juga tak mau jika posisi juara umum miliknya direbut oleh orang lain. hanya kali ini saja fokusnya sedikit terganggu karna Rio.
Dia mengambil buku pendidikan pancasila yang ada di rak buku. kali ini dia belajar dengan serius karna kebetulan besok ada kuis dimata pelajaran itu. Dia mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang ada dibuku itu.
sebelum majelis permusyawaratan rakyat dan dewan pertimbangan agung dibentuk, segala kekuasaan dijalankan oleh....
"ah, ini mah gampang", oceh Shasya kemudian dia menuliskan jawabannya dibuku catatan khusus untuk belajar malamnya.
"tentunya oleh presiden dengan bantuan komite nasional yang terdapat dalam UUD 1945". tulis Shasya sambil tersenyum.
ketika Shasya lagi asyik belajar, tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada chat yang masuk melalui aplikasi WA. Dia terkejut ketika melihat tuan tampan tertulis jelas dilayar ponselnya. ya.. itu pesan dari Rio.
"astaga, mau apalagi sih itu anak? baru aja aku berhasil kembali fokus belajar dan dia muncul lagi." Shasya mengerucutkan bibirnya kesal.
Shasya membuka pesan dari Rio.
"malam sya, lagi apa?" chat awal dari Rio.
"malam.belajar" jawab Shasya singkat
"kamu udah makan?"
"udah"
"besok ada kegiatan?"
"sekolah"
"maksudnya sepulang sekolah kamu ngapain?"
__ADS_1
"tidur"
"kamu belajar apa"
"pendidikan pancasila"
"kamu suka belajar itu? jarang-jarang loo perempuan belajar PKN kayak kamu, biasanya pasti belajar Matematika atau Fisika dan sejenisnya"
"hmmm. buatku semua pelajaran sama aja."
*****
terlihat Rio menggaruk kepalanya. Dia tak tau lagi topik apa yang mau dia bahas karena jawaban singkat yang selalu diberikan Shasya. Lalu dia mencoba memberanikan diri untuk mengajak Shasya jalan-jalan besok setelah Shasya pulang sekolah.
"Sya, besok keluar yok" tulis Rio
"kemana?" balas Shasya
" terserah kamu mau kemana".
"kok gitu sih, temenin aku jalan-jalan dimedan dong. aku belum pernah kemana-mana lo selama dimedan"
"bodo amet" balas Shasya dengan dinginnya mengakhiri chat mereka.
"Arrrggh ini cewek benar-benar gak bisa ramah" Rio menggafuk kepalanya mulai frustasi.
Rio gelisah. Dia tak tau lagi harus bilang apa untuk melanjutkan chatnya. Dia tak menyangka ternyata Shasya bisa sedingin itu ketika membalas chatnya. Apalagi setelah pertemuan mereka di warung bakso kemarin.
Rio melirik jam dinding dirumahnya. teryata masih pukul 20:30. Dia mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju rumah Syifa. Rasa penasaran tentang Shasya membuatnya tergerak untuk menemui Syifa, sepupunya yang merupakan sahabat terdekat Shasya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, setelah sepuluh menit Riopun Tiba di Rumah Syifa.
tok...tok..tok...
Suara ketukan pintu yang kemudian dibuka oleh Syifa.
__ADS_1
"eh Rio, ada apa, ayo masuk dulu?" ucap syifa heran melihat sepupunya datang kerumah malam-malam.
"aku mau tanya sesuatu sama kamu fa." jawab Rio sambil berjalan menuju ke ruang tamu dan duduk disebuah kursi. terlihat syifapun ikut duduk disebelah Rio.
"kamu mau tanya apa? kayaknya pasti tentang Shasya kan?" oceh Shasya dengan nada meledek.
"kok kamu tau" tanya Rio terkejut.
"ya tau lah, orang keliatan banget kok kamu suka sama dia. tapi gak akan mudah bro, Shasya itu terkenal sebagai Ratu es disekolah. seganteng dan sebaik apapun kamu gak akan bisa menggeser buku-buku pelajaran tercintanya itu." Syifa mencoba menjelaskan sambil sesekali menepuk punggung Rio.
"kau tau, kemarin ada mahasiswa yang magang disekolah kami gantengnya setengah mati. terus kalau masalah otak jangan ditanya lagi, beeeh pinter banget. mahasiswa itu nembak shasya. kau tau apa jawab Shasya?" ucap Syifa yang diiringi tanya kepada Rio.
Rio hanya menggeleng.
Syifa tersenyum kemudian melanjutkan Ceritanya.
"Shasya bilang, maaf kak saya masih sekolah. dan ibu saya bilang saya gak boleh banyak bicara apalagi percaya sama laki-laki asing. kakak tau, laki-laki asing itu banyak modusnya. lalu Shasya pergi tanpa ekspresi seolah tak ada yang terjadi. Mahasiswa itu hanya tertunduk malu karna dia tak menyangka akan ditolak dengan sekonyol itu sama Shasya." tambah Syifa sambil tertawa dan menggelengkan kepala mengingat tingkah temannya yang memang selalu lucu ketika dia menolak siapa saja yang mengajaknya berpacaran.
"kau serius Shasya kayak gitu?" tanya Rio tak percaya.
"hmmmm.. itu sih tak seberapa, ada juga adik kelas kami yang berusaha nembak Shasya ala-ala sinetron pakai gitar, nyanyi-nyanyi gitu. tau apa yang Shasya lakukan? dia cuma ngasi soal Aljabar trus nyuru adik itu menjawab soal. adik itu bingung gimana cara menjawabnya, lalu Shasya berdiri didepan adik kelas itu, mengacak-acak rambutnya sambil bilang, belajar yang bagus ya nakku, nanti kalau kamu udah pinter baru datang lagi ke Mama terus Shasya pigi gitu aja, sama sekali gak ngeliat kebelakang. padahal muka anak itu ampun deh, merah padam. ya.. gitulah Shasya. sebenarnya dia baik banget, laki-laki yang berhasil mendapatkan hatinya pasti akan beruntung banget. sepadan laa sama kerja keras untuk meluluhkan hatinya juga". jelas Syifa.
Syifa terus bercerita panjang lebar yang kini membuat Rio sedikit pesimis sekaligus membuat dia semakin tertarik. Dalam hatinya Rio berjanji akan terus mencoba dan berjuang menjadi lelaki pertama yang meluluhkan hati Shasya.
Setelah Rio puas mencari tau tentang Shasya, Rio langsung pamit pulang kerumahnya. Dia tersenyum sepanjang jalan membayangkan kekonyolan Shasya menghadapi penggemar-penggemarnya.
"liat aja Sya, aku pasti jadi orang pertama yang berhasil masuk ke hati kamu dan aku akan jadi cinta pertama tentunya jadi cinta terakhir kamu juga". batin Rio.
*****
Shasya tersenyum merasakan perasaan bahagia yang berbeda ketika Rio menghubunginya, namun sebisa mungkin Shasya menahan fikiran-fikiran anehnya dan mencoba tetap realistis. Dia tak mau kalau dianggap wanita gampangan. Dia juga tak mau kalau sampai benar-benar jatuh cinta dengan Rio yang menurutnya cukup menyebalkan.
Dia masih harus fokus menyelesaikan kuliahnya karna dia ingin mendapatkan beasiswa di universitas untuk meringankan beban orangtuanya. Apalagi Ujian Nasional semakin dekat. Dia tak mau kalau sampai nilainya jelek hanya karna fokusnya terpecah antara sekolah dan hubungan dengan pria menyebalkan yang pada akhirnya hubungan itupun tak jelas arahnya.
tak mau ambil pusing lagi, Shasya kembali melanjutkan aktifitas belajarnya.
__ADS_1