Cerita Cinta Shasya

Cerita Cinta Shasya
Penasaran


__ADS_3

mega-mega merah mulai terpapar di langit menandakan hari telah petang. terlihat Bima masih mengacak-acak berkas beberapa mahasiswa baru diruangannya.


"Nah ini dia."


Bima mengambil sebuah file salah satu mahasiswa baru yang semalam telah dikumpulkan oleh anggota senat.


"natasya fadila jurusan manajemen FEB. oke, ternyata aku dan si kodok satu jurusan. baiklah, sampai ketemu besok nona. malam ini kau harus tidur dengan nyenyak karna kita tak akan tau apa yang terjadi di hari esok"


senyum licik tergambar jelas di wajah bima. dia menyusun berbagai rencana dalam fikirannya. baginya mengganggu nona kodok itu benar-benar jadi hiburan yang baru di kampus.


entah apa yang membuatnya sangat tertarik dengan Shasya. bahkan kini muncul rasa penasaran pada diri bima tentang kehidupan Shasya. menurutnya Shasya adalah perempuan unik yang sangat langka. baru kali ini dia bertemu perempuan yang tak tertarik kepadanya. jangankan tertarik, parahnya Shasya malah sangat berani melawannya.


"baiklah, kita lihat sejauh apa nona kodok ini bisa bertahan untuk menjadi liar seperti itu" ucap Bima masih dengan senyum mengerikannya.


dia mengambil ponselnya, mencatat nomor ponsel yang tertera pada lembaran kertas file dan menyimpannya. ketika dia merasa sudah mendapatkan informasi yang cukup. bima kembali menyusun berkas-berkas yang berantakan dan meletakkannya ke posisi semula.


lalu dia berjalan ke arah parkiran mengambil motornya dan langsung pergi meninggalkan kampus.


Rumah Shasya


"ih, kok dari tadi aku merinding ya" ucap shasya memegangi lehernya.


"ah sudahlah semoga besok tak ada masalah lagi dan semoga besok aku tak bertemu dengan kak bima. ih membayangkan wajahnya saja aku merasa ngeri."


Shasya menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya. matanya menatap langit-langit kamar. sejenak terlintas di fikirannya tentang kejadian kemarin yang kini membuat shasya tertawa.


"kok bisa ya ketua senat sebodoh itu, hahaha... harusnya kan dia menghindar waktu tau ada orang yang ingin menendang kaleng bukannya malah datang menyerahkan kepalanya untuk dijadikan sasaran. udah gitu masa cuma di bilang masih kecil emosinya udah sebegitu banget. dasar otak udang."


"tapi kalau difikir-fikir mau apa ya dia disana? masa iya dia mau mengintip pasangan yang lagi kasmaran? ada-ada saja" shasya terus tertawa geli.


"memang sih dia ganteng. tapi kebodohannya itu loh astaga benar-benar deh, apalah gunanya wajah tampan kalau bodohnya terlalu dominan"


"Coba aja kalau Rio liat kak bima pasti..."


ucapan Shasya terhenti. tatapanya kini berubah menjadi sendu. bagaimana tidak, sudah enam bulan Dia pergi. tak sekalipun kabarnya terdengar lagi.


"kira-kira Rio lagi apa ya?" batin Shasya.


Shasya meraih ponselnya yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya. dia memberanikan diri untuk mencoba kembali menghubungi Rio meskipun hanya dari Chat.


*Rio apa kabar?


kau masih ingat denganku?


bagaimana ini? kau menyuruhku untuk menunggu, namun tak sekalipun pesanku kau balas. siapa kau membuatku harus berjanji menunggumu?


ah sudahlah, jika kau mau kita berhenti untuk saling menghubungi, maka baiklah. aku akan mencoba mengikuti permainanmu*.


karena tak kunjung mendapatkan balasan. Shasya akhirnya melemparkan ponselnya dengan keras di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"terserah deh" batinnya.


tak berapa lama ponsel Shasya berdering tanda adanya panggilan masuk dengan semangat dia meraih ponselnya berharap rio yang menghubungi, sayangnya harapannya sirna karena yang menghubunginya adalah Syifa.


"halo fa"


"halo sya, besok kita ke kampus bareng ya. nanti aku jemput kamu oke"


"wah, kok tumben Syifa jadi sebaik itu. pakai jemput segala. jadi terharu"


"lebay deh, jangan terlalu geer Sya. aku jemput kamu juga karan aku males pergi sendiri ke kampus. kau kan tau kita belum terlalu mengenal kampus dan belun punya teman yang lain. berhubung karena cuma kamu teman yang aku punya saat ini jadi aku putuskan untuk pergi bersamamu".


"astaga, bisa gak sih fa, ngomongnya agak manis dikit. jadi kalau kamu mendapat teman baru, kau takkan mengajakku pergi bareng gitu? dasar sambel!"


"hahaha becanda sya"


"gimana kabar hidupmu Sya? masih aman kan?"


"aman? maksudnya?"


"iya masih aman kan?"


"maksudnya apa sih? aku gak paham."


"maksudku kak bima gak menggangu kamu lagi kan?"


"kau benar Sya, tetapi walaupun gila dia lumayan manis juga. terus denger-denger dia juga pinter loh sya"


"pinter apaan, kau denger dari mana?"


"dari anak-anak yang dibarisan tadi pagi"


"ah sudahlah, membicarakannya membuat bulu kudukku berdiri. merinding tau gak sih"


"hahaha.. hati-hati sya, nanti kau jatuh cinta"


"jatuh cintaa apaan? kau kan tau aku tak pernah jatuh cinta. gak mungkin dong cinta pertamaku yang berharga aku berikan ke dia. bisa sial aku"


"eh, kau tak boleh berbicara seperti itu. awas kualat loh"


"amit-amit. yasudah aku mau makan malam dulu. sampai jumpa besok, bye!"


"iya iya. bye"


Shasya menyelesaikan panggilan karena perutnya kini terasa lapar. bagaimana tidak, sedari siang shasya belum makan apapun. dirumahnya tak ada yang memasak karena ibu dan ayahnya tiba-tiba harus keluar kota sebab ada keluarga yang meninggal.


"kira-kira aku makan apa ya?" Shasya mulai berfikir.


"sepertinya makan mie instan enak nih" gumamnya.

__ADS_1


lalu dia berjalan ke dapur dan mencari-cari disetiap laci tempat penyimpanan makanan instan di dapurnya. tak satupun mie instan di temukannya di sana.


"yah, mienya tidak ada. yasudah aku beli saja"


Shasya mengambil kunci motornya dan langsung pergi menuju mini market terdekat.


*****


kini Shasya telah sampai di sebuah mini market, dia langsung berjalan menuju rak mie instan memilih beberapa mie kemudian dia prgi ke kasir untuk membayar mienya.


setelah selesai membayar, dia keluar dari mini market dengan riangnya.


"yeah, aku akan memasak mie instan super pedas. sepedas omongan mertua, hahaha."


Shasya berjalan menuju ke tempat motornya diparkir. namun tiba-tiba langkahnya terhenti matanya terpaku pada sesosok pria yang dia kenal.


"kak bima, mau apa dia malam-malam disini?" batin shasya, kemudian dengan langkah seribu dia berlari ke balik tembok mini market dan bersembunyi.


karena sedikit penasaran, Shasya mengintip dari balik tembok. terlihat Bima masuk ke dalam mini market lalu keluar dengan pelastik besar yang terisi penuh dengan barang yang dia beli.


"kenapa aku jadi kepo begini ya? sudahlah mie super pedasku lebih penting." batinnya.


namun lagi-lagi fikiran dan tindakannya tak sejalan. seolah lupa dengan mienya, Shasya terus mengikuti kemana bima pergi. terlihat bima menghampiri beberapa anak jalanan lalu membagikan roti dan snack yang ada pada kantong pelastik yang ia bawa dari mini market tadi.


Selain kepada anak-anak, Bima juga membagikan makanan tersebut kepada orang tua yang tampilannya terlihat seperti seorang pengemis.


"ternyata dia baik juga" batin Shasya.


"keluarlah, aku tau kau di balik tiang itu. mau apa kau mengikutiku?" suara Bima mengagetkan Shasya.


"astaga, mati aku" shasya membatin dan menghentakkan kakinya karna takut.


"eh kak bima, ngapain disini?" Shasya berusaha tersenyum


"tak usah mengalihkan pembicaraan. jawab saja pertanyaanku tadi" ketus bima


"pertanyaan yang mana ya kak?" Shasya berpura-pura tak mendengar.


"untuk apa kau mengikutiku?"


"siapa yang mengikuti kakak? aku hanya sedang berjalan menuju rumahku."


"bukannya Rumahmu di jalan anggrek?"


"kok kakak tau?"


"jalan anggrek itu arahnya kesana, lalu untuk apa kau berjalan kearah sini? sudahlah. aku lagi tidak mood untuk berdebat. pergilah pulang, ini sudah malam."


mendegar bima menyuruhnya pulang membuat Shasya merasa terselamatkan dari masalah besar. tanpa fikir panjang dia langsung berlari kembali menuju motornya yang masih terparkir di depan mini market.

__ADS_1


__ADS_2