
Andi terus melajukan mobilnya sampai akhirnya mobil mereka melambat dan berbelok di sebuah rumah besar di kawasan perumahan elit kota medan yang menjadi tempat tinggal bima dan keluarganya.
setelah sampai di rumah, andi langsung membantu Bima menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. karena luka di lutut bima menyebabkan bima susah berjalan.
"menginaplah disini, sudah terlalu malam" ucap bima kepada andi.
"emang gue ada izin mau pulang? tak perlu loe bilang, gue memang berencana menginap disini kok."
tanpa segan, andi langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur setelah terlebih dahulu melepas sepatunya.
"dasar sate" umpat Bima melihat tingkah temannya itu.
"eh ndi, loe tau ternyata Shasya itu bukan gadis sembarangan" ucap Bima ikut berbaring di ranjang.
"maksudnya?"
"ternyata dia itu wanita yang hebat, pintar dan bisa ilmu bela diri" Suara bima terdengar sangat antusias
"terus?" Andi terkesan tak peduli bahkan sibuk dengan ponselnya.
"dia juga baik dan pandai masak. mie instan buatannya saja enak banget. beda sama perempuan lain yang aku kenal. biasanya mereka cuma tau bagaimana cara berdandan dan sibuk mencari pacar saja"
"iya, terus?" andi masih sibuk dengan ponselnya
"kok terus melulu sih? loe dengar tidak? sudahlah gue tak ingin berbicara lagi" oceh bima kesal karena andi terlalu sibuk dengan ponselnya. entah apa yang dia lihat namun konsentrasinya sama sekali tak terbagi sedikitpun pada Bima.
"apasih, gak usah kayak cewek deh. pakai merajuk segala" cibir andi.
"loe keterlaluan. temen lagi cerita loe malah sibuk sendiri dengan ponsel. ngeliat apa sih loe?" bima merampas ponsel andi dengan kasar.
"astaga, bukannya ini si Rumput liar teman si eceng gondok yang waktu itu ikut kena prank kita?" mata bima membulat ketika melihat galeri ponsel Andi yang ternyata isinya foto-foto Syifa.
ternyata dari pertama kali acara orientasi dimulai, mata andi tak bisa lepas dari Syifa bahkan andi mengambil banyak foto tanpa sepengetahuan Syifa.
"pantesan loe mau ikut mengganggui si kodok. ternyata ada udang di balik sambel" ledek bima.
"tentu saja, loe kira gue akan mau ikut jadi bodoh seperti loe jika gue tak tertarik pada temannya?"
__ADS_1
"sialan loe"
suara tawa mereka terdengar sangat kencang.
"memang sih, mereka berdua menarik. terlihat seperti gadis yang tak mudah didekati namun baik" oceh bima
"apa loe tertarik pada eceng gondok?" tanya andi
"tentu saja tidak. loe gak usah mikir kejauhan. bagaimana mungkin seorang bima tertarik pada wanita dengan begitu mudah?" ucap Bima sombong.
"sombong banget loe. jadi kenapa dari tadi yang kau bahas Shasya Shasya dan Shasya terus?"
"masa iya sih gue bahas Shasya? loe salah dengar kali." Bima berusaha mengelak.
"sudahlah, gue kenal loe dari orok. tak usah sok ganteng deh. loe tak pernah membahas wanita sebaik dan secantik apapun dia. lagian tak masalah jika orangnya dia." tegas andi.
"asal jangan dia!" andi kembali menegaskan sambil menunjuk foto syifa.
"kalau gue tertarik sama si rumput bagaimana?" tanya Bima
"yasudah gue sama si eceng gondok saja" andi menjawab dengan santainya.
kemudian mereka kembali tertawa.
"tapi sebenarnya gue heran sama mereka. baru juga nongol sehari tapi kok bisa ya mereka berhasil mencuri perhatian gue. lebih heran lagi sampai loe juga ikutan tertarik?" ucap andi sambil merampas ponselnya dari tangan bima.
"gak usah ngarang. kalau loe suka sama mereka. gak usah ngajak-ngajak gue. gue gak tertarik sama si eceng gondok"
"terserah loe. entar waktu loe sadar. jagan minta tolong ke gue kalau loe mau deketin dia"
"bayak cakap. tidur loe!" ucap bima lalu memutar arah membelakangi andi kemudian memejamkan matanya.
"sial. gue belum siap ngomong" umpat andi kemudian dia langsung terdiam karna sebuah bantal yang dilayangkan oleh Bima mengenai wajahnya.
"iya iya, gue tidur" ucap andi kesal sambil kemudian memejamkan matanya.
kini kamar Bima yang tadinya berisik mulai hening. ketika bima merasa andi sudah tertidur, bima membuka kembali matanya. dia kebali memikirkan perkataan andi. lalu tanpa dia sadari fikirannya berpindah dari ucapan andi ke perilaku shasya hari ini. lalu dia mengangkat pergelangan tangannya yang telah diberi obat oleh shasya. seketika senyum mengembang diwajahnya.
__ADS_1
"mungkin andi benar. aku sedikit menyukainya. hanya sedikit saja" bima membatin.
tak terasa ngantukpun menghampiri bima. dia memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpi.
******
Shasya kini telah terbaring di atas ranjangnya. fikirannya melayang tentang hal yang terjadi malam ini. baginya malam ini adalah malam yang sangat panjang. banyak kejadian tak terduga yang terjadi dan anehnya semua berhubungan dengan bima.
"sepertinya aku salah paham deh sama kak bima. dia bukan orang jahat seperti yang ada dalam fikiranku." batin shasya.
Shasya menghela nafas. dia tak menyangka sosok bima yang usil dan seolah tak punya kerjaan saat mengganggunya di kampus, bisa berubah menjadi manis dan penuh kasih sayang kepada mereka yang kurang beruntung yang ada di pinggir jalan mini market tadi.
"tapi kenapa ya kak bima bisa muncul tiba-tiba di depan rumahku? apa jangan-jangan dia mengikutiku?"
"tidak tidak, buat apa dia mengikutiku?"
"terus mau apa dong? kan gak mungkin secara kebetulan dia tau alamat rumahku"
"eh tapi tadi dia kan tau alamat rumahku di jalan anggrek. berarti dia memang tau aku tinggal disini"
"kok bisa sih? darimana dia tau?"
"aneh banget sih itu orang. tadi saat di mini market kelihatannya dia baik-baik saja. terus kenapa saat datang ke rumahku kondisinya mendadak menyedihkan gitu. apa jangan-jangan dia terjatuh di lubang yang ada diperempatan itu?"
"ah sudahlah, terserah. besok aja aku tanya langsung sama orangnya"
Shasya seolah perang dengan dirinya sendiri. terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam fikirannya karena menurutnya kejadian bima muncul secara tiba-tiba di depan rumahnya sangat tidak masuk akal. kalaupun hanya sekedar lewat bagaimana mungkin dia berani mengetuk sembarang rumah hanya untuk menumpang ke kamar mandi.
shasya meraih ponselnya. dan dilihat tak ada satupun pesan masuk di ponselnya. sebenarnya dia masih menunggu Rio membalas Chatnya. meskipun bayak kejadian yang terjadi malam ini, tak sekalipun berhasil membuat Shasya melupakan Rio dan berhenti menunggu kabar dari Rio.
"Rio..Rio.. jadi ini maksudmu ketika mengatakan kalau kau bukan lelaki yang baik?"
"iya kau benar, kau memang bukan lelaki yang baik. dan tentu saja aku yang salah karena menganggapmu baik. yasudahlah, sekarang terserah kau saja. aku tak akan menunggumu lagi."
Shasya melantangkan suaranya seolah-olah Rio ada disekitarnya. Shasya berharap Rio dapat mendengarnya agar Rio bisa memberi kejelasan apakah Shasya harus tetap menunggu atau harus ikhlas melepas karena kini Shasya mulai bosan dengan penantian tak berarah.
*s**ebuah penantian itu akan berarti ketika kau tau pada arah mana dia akan berujung dan akan menjadi sia-sia jika pada akhirnya berujung tanpa arah*.
__ADS_1
(tianaa)