
Shasya dan Syifa terlihat berlari sambil tertawa hingga akhirnya mereka tiba di kelas dan duduk di kursi mereka masing-masing.
"kau gila fa, gimana kalau nanti mereka kembali mengganggu kita" ucap shasya masih dengan nafas yang tersengal.
"biarkan saja Sya, soalnya aku kesal banget dengan temannya kak bima itu. kan lumayan, kita bisa makan gratis. kalau saja aku tau akan seperti ini, pasti tadi aku pesan makanan banyak-banyak. hahaha. " Syifa tertawa.
"kau tenang saja. nanti kalau memang mereka mengganggu kita lagi, kita gangguin lagi aja Sya" tambah nya lagi.
"terserah kamu deh. sumpah aku capek banget." oceh Shasya.
"sama"
mereka kembali tertawa. mereka merasa sangat konyol. bahkan saat masih SMA mereka sama sekali tak pernah melakukan hal kekanakan seperti saat ini.
tak berapa lama dosen masuk ke dalam ruangan. kelaspun di mulai. meskipun kehidupan mereka di kampus terasa sangat berbeda dari sekolah. Shasya tetaplah Shasya yang akan langsung merubah mode menjadi serius ketika sesang belajar. itulah yang membuat Syifa sangat kagum pada sahabatnya itu.
*****
"baiklah, sampai disini dulu pertemuan kita hari ini. tugas kelompok kali ini kalian harus menyebarkan beberapa kuisioner kepada senior yang satu jurusan dengan kalian. lalu jawaban kuisionernya kalian serahkan minggu depan. selamat siang semua" ucap dosen mengakhiri kuliah hari ini.
"gila aja baru juga hari pertama masuk tugasnya udah begini amet. bagaimana mungkin menyebarkan angket pada senior, satupun gak ada yang aku kenal." Syifa menggaruk kepalanya kesal.
"ada fa, bukannya kemarin kau bilang kak bima satu jurusan dengan kita?" tanya Shasya.
"benarkah, sepertinya aku tak pernah bilang apapun" ucap Syifa ketika dia sadar dia tak pernah tau kalau Bima jurusan menejemen.
Shasya terdiam. sebenarnya dia tau bahwa kak bima satu jurusan dengan dia melalui KTM bima yang sempat terjatuh saat bima mengganti pakaiannya ketika di rumah Shasya.
"Sudahlah gak usah dibahas. sekarang kita hanya perlu berfikir bagaimana caranya agar kak bima menolong kita untuk menyebarkan angket ke teman-temannya yang lain." oceh Shasya.
"kau benar, tapi apa mungkin mereka akan membantu kita? kau tau sendiri lah bagaimana hubungan kita dengan mereka"
terdengar nada putus asa pada suara Syifa.
"tenang saja, yang penting kita susun rencana dulu. berhubung motor kak bima masih ada di rumahku. anggap saja aku sedang meminta biaya parkir motornya. jadi nanti aku akan menyuruhnya membayar dengan membantu kita menyebarkan kuisioner ini." shasya berbicara dengan yakin.
"baiklah, ayo kita coba. semakin cepat tugas diselesaikan ajan semakin baik" Syifa mulai semangat.
tiba-tiba terdengar suara gaduh dari lapangan kampus. seperti suara orang yang menuntut sesuatu namun karena sumber suara itu jauh dari kelas Shasya dan Syifa. yang terdengar hanyalah seperti ocehan-ocehan tak jelas.
"suara apa itu sya? kok kayaknya ribut amet." tanya Syifa yang mulai tertarik dengan suara yang masih tak jelas itu.
"iya, suara apa ya? atau jangan-jangan...." Shasya dan syifa saling tatap.
"ada demo.." ucap mereka secara bersamaan.
__ADS_1
"wah, ayo kita kesana. aku belum pernah melihat demo secara langsung. astaga, sekarang aku benar-benar merasa jadi mahasiswa" ucap Syifa dengan antusias.
"kau yakin mau kesana? apa kau tak takut bahaya fa?" Shasya mulai ragu-ragu.
"takut sih, tapi rasa penasaranku lebih kuat. ayo cepat kita harus kesana" Syifa berlari sambil menarik Shasya untuk ikut serta.
setibanya mereka di lapangan tempat demo berlangsung. mereka seakan takjub dengan keberanian Senior-senior yang menyampaikan aspirasi mereka.
"wahai Rektor. kami meminta peningkatab fasilitas kampus. kami tak mengizinkan jika uang kuliah yang telah kami bayarkan lenyap begitu saja. setuju teman-teman"
"setuju!"
"kami juga meminta kegiatan korupsi, kolusi dan nepotisme yang ada di kampus ini harus segera di tindak dengan tegas!"
"betul!"
"dan bagi pelaku tindakan tersebut harus di adili dengan seadil-adilnya"
"setuju"
begitulah beberapa isi dari orasi yang dilakukan oleh para pendemo.
Shasya dan Syifa sebenarnya tak paham apa yang mendasari terjadinya demo namun mereka ikut berteriak seolah setuju disetiap akhir kata dari orasi tersebut. sesekali mereka tertawa dan mengangkat tangan mereka dengan semangat. entah apa tujuan mereka, tetapi terlihat raut bahagia di wajah mereka. mereka merasa seolah telah ikut andil menyampaikan pendapat mereka meskipun sebenarnya mereka tak punya pendapat apapun.
tiba-tiba seorang Pria menarik paksa Shasya keluar dari kerumunan penonton. begitu juga dengan Syifa.
"mau ikut kontes dangdut. sudah tau disini lagi ada demo, masih aja bertanya" ucap Shasya kesal.
"kalian tak tau arti bahaya ya? bagaimana kalau tiba-tiba demonya jadi ricuh atau ada aksi anarkis?" Andi juga buka suara. dia mengomel pada Syifa.
"kalau ricuh ya tinggal lari saja." jawab Syifa santai.
"astaga, mereka benar-benar wanita gila Bim" ucap andi.
"kau yang gila" balas Syifa.
"sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini. disini sangat ramai orang dan tentunya sangat berbahaya." ucap bima sambil menarik tangan Shasya untuk pergi dan keluar dari kerumunan diikuti oleh andi yang juga menarik paksa Syifa untuk ikut serta.
kini mereka telah berjalan cukup jauh meninggalkan kerumunan mahasiswa yang sedang demo. setelah merasa aman, Bima dan Andi melepaskan tangan mereka masing-masing dari shasya dan Syifa. lalu mereka duduk di bangku taman yang ada di kampusnya.
"kalian itu bagaimana sih? apa kalian lupa kalau kalian itu wanita? kenapa kalian sebodoh itu?" ucap bima dengan nada kesal.
"apaan sih kak bima, itukan cuma demo biasa. dan kami juga mahasiswa jadi harus bisa berunjuk rasa." ucap Shasya dengan nada lantang.
Bima bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Shasya yang masih berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
ctak..
Bima menyelentik kening Shasya.
"aduh, sakit kak bima" Shasya mulai kesal. Shasya langsung mengelus keningnya yang di selentik bima.
"tolong lah, bodohnya itu jangan kebangetan. kata siapa mahasiswa harus ikut unjuk rasa dengan cara seperti tadi? apa kalian tau akar masalahnya kenapa bisa ada unjuk rasa?"
oceh bima yang berhasil membuat Shasya terdiam.
sedangkan Syifa masih syok karena kelakuan andi yang dengan tiba-tiba menggenggam tangannya. belum pernah ada yang seberani itu memegang tangannya dengan cukup lama. kini dia hanya terpaku melihat tangannya yang masih terasa seperti di genggam sambil berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
"walaupun kami tak tau apa tuntutan dari para mahasiswa tersebut, yang penting sebagai mahasiswa bukankah kita harus saling mendukung." ucap Shasya dengan nada yang mulai ragu-ragu.
"hey kodok, penyampaian orasi itu harus didasari dengan pengetahuan yang jelas. jangan hanya ikut-ikutan saja. kau harus tau tuntutannya apa, sebab demonya apa. karena kalau kau hanya ikut-ikutan saja bisa-bisa berbahaya untuk kau kedepannya. selain itu gak semua aksi demo didasari dengan tuntutan yang benar. jadi sebelum melangkah kau harus benar-benar tau keadaan yang sebenarnya. jangan sampai mendukung sesuatu yang salah. itu baru mahasiswa. paham?" ucap bima berusaha menjelaskan.
"oh" Shasya menggaruk kepalanya karena malu akan kepolosannya. dia bahkan tak terfikir dampak dari sebuah orasi tersebut.
"kau kenapa diam aja? bukankah biasanya kau sangat agresif untuk melawan?" andi buka suara kearah syifa yang tak mengeluarkan sepatah katapun.
"emmm... kau memegangku, astaga kau benar-benar memegang tanganku" syifa bergumam tanpa sadar.
"memangnya kenapa kalau aku memegang tanganmu? bukankah itu hal yang biasa dilakukan ketika membawa paksa seseorang?" tanya andi heran.
"itu karena selain Rio, kau lelaki pertama yang berani menyentuh tangannya dengan begitu lama" jawab shasya dengan santainya.
"Rio? siapa dia? pacar Syifa?" tanya andi penasaran.
"bukan, tapi pacarku" jawab Shasya sekenanya.
"pacarmu?" bima terkejut
"astaga, biasa aja kali kak. aku bercanda, Rio itu sepupunya Syifa" jawab Shasya.
"oh" ucap andi dan bima serentak. entah apa yang membuat bima dan andi kini merasa lega.
"bukan pacarku, tapi orang yang kuharap jadi suamiku. ya.. walaupun sekarang aku tak tau bagaimana kabarnya." batin shasya seolah menjelaskan harapan yang ada di dalam hatinya.
"maaf jika kau bingung, temanku yang satu ini memang sangat polos. jangankan pacaran, berbicara panjang dengan laki-laki selain keluarga saja dia tak pernah" ucap Shasya kepada andi.
Andi dan Bima saling tatap kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
"astaga bima, loe dengar dia bilang apa? baru kali ini aku bertemu dengan wanita sepolos dan sejujur kalian" ucap andi yang diiringi anggukan dari bima.
"sudahlah, ayo kami antar saja kalian pulang sebelum kalian berdua mendadak pingsan." ucap bima kembali memegang tangan Shasya.
__ADS_1
begitu juga dengan andi, dia sangat bersemangat untuk kembali menyentuh tangan Syifa. karena menurutnya, tingkah Syifa yang syok seperti itu sangat manis dan menggemaskan. dan tentu saja dia akan sangat beruntung jika berhasil mendekati syifa.
dalam hatinya dia bertekat, cepat atau lambat dia harus berhasil mendapatkan hati Syifa. karena kini dia benar-benar jatuh hati pada Syifa dengan segala keluguan dan kepolosannya tentunya dengan sikap berani melawan yang ada pada diri syifa juga menjadi daya tarik tersendiri yang membuat andi semakin yakin.