
Terlihat Seorang wanita cantik dengan kulit putih bersih dan tinggi semampai sedang memerhatikan ponselnya dengan serius. Dia berjalan mundar-mandir kearah kanan dan kiri sesekali duduk dan kemudian berdiri lagi.
Dia adalah dinda, seorang puteri bungsu dari keluarga yang cukup terkenal di sulawesi. orangtuanya adalah pemilik usaha properti ternama yang sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri.
selain cantik, dinda juga terkenal sebagai pribadi yang baik. tentu saja banyak yang mengaguminya di sekolah. namun tak ada satupun lelaki yang berani mendekatinya di sekolah karena dinda bersekolah di sekolah yang sama dengan Rio.
Semua Siswa bahkan guru telah mengetahui hubungan mereka. bagaimana tidak, selama ada dinda di sana pula pasti ada Rio. dan karena mereka tak pernah melanggar norma-norma, maka gurupun tak pernah menegur mereka.
selama di sekolah, Rio dan dinda selalu terlihat harmonis. banyak yang menebak mereka akan bertunangan setelah tamat sekolah. dinda yang cantik dan berlatar belakang keluarga yang sangat baik tentu sangat cocok dengan Rio yang tampan dengan latar belakang keluarga yang hampir sama dengan dinda. sungguh pasangan yang ideal.
namun beberapa hari ini dinda terlihat murung. dia tak bersemangat melakukan apapun di sekolah maupun di rumah. hal ini dikarenakan Rio tiba-tiba saja pergi ke medan dan membuat dinda selalu merindukannya setiap saat.
dinda yang selama ini sangat jarang memainkan ponselnya, kini tak pernah sekalipun melepaskan ponsel dari tangannya. dia selalu menunggu Rio menghubunginya. walau sering kali dia harus kecewa karena Rio tak pernah memberikan kabar jika bukan karena dinda yang menghubunginya terlebih dahulu.
*****
waktu terus berlalu. pagi telah tergantikan dengan siang. Terlihat raut gelisah terlukis jelas di wajah dinda. Entah apa yang di tunggunya, dia terus saja menatap ponselnya dengan serius kemudian menghela nafas saat tak ada apapun yang terjadi pada ponselnya.
Kriiiing...kriiiing.....
Suara ponsel Dinda berdering. Dengan cepat diliriknya ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon dengan sangat bersemangat. Akan tetapi semangat diwajahnya seketika memudar karna kecewa yang menelponnya bukan Rio melainkan Rena sahabatnya.
dengan sedikit malas, dinda menyentuh tanda hijau di layar ponselnya.
"Ada apa na?" ucap Dinda memulai pembicaraan.
"ih jutek amet sih? tapi aku maklum kok, putri dinda lagi kehilangan pangerannya wajar agak sensi". ujar Rena dengan nada meledek.
"apaan sih? udah ah aku matiin telponnya nih kalau gak penting"
__ADS_1
"yaampun dindaaaa, gitu amet sih sama aku. aku tuh nelpon kamu karna aku tau hari ini kamu ulangtahun dan kamu lagi sendirian kan? yaudah cepat turun ke bawah, aku udah di bawah nih!" Rena langsung mematikan telponnya.
Dinda terkejut mendengarkan kata-kata Rena dan meletakkan ponselnya kesembarang tempat kemudian langsung berlari kebawah.
Matanya terus mencari-cari ke sekeliling ruang tamu yang ada di lantai satu rumahnya. matanya terhenti ketika mendapati ada tiga orang tengah berdiri dan tersenyum kearahnya sambil membawa kue tart dengan hiasan strawberry kesukaannya. mereka adalah Rena, Reno dan Sintia
"happy birthday Dinda. all the best yaa buat kamu. semoga sekolahnya lancar dan langgeng terus sama Rio" ucap Rena sambil memberikan kue yang ia pegang kepada Dinda.
Terlihat kedua teman dinda tersenyum bahagia hanya ada satu orang yang terlihat sedikit murung. Dia adalah Reno, saudara kembarnya Rena. Sadar akan raut wajah Reno yang terlihat tidak senang. Dinda langsung bertanya kepada Reno.
"ada apa? kok kelihatannya kamu banyak fikiran? kamu lagi ada masalah ya?" tanya Dinda kepada Reno.
"eh, enggak kok, oh iya selamat ulangtahun ya Dinda" ujar reno sambil tersenyum.
Rena mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada reno langsung mengalihkan perhatian Dinda dengan mengajaknya duduk untuk memotong kue.
"udah ayok potong kuenya, aku gak sabar mau makan kuenya" ucap Rena seketika berhasil mengalihkan perhatian dinda dari Reno.
"kapan kamu balik kesini? kok gak ngasi tau aku? jahat ih" tambahnya lagi.
"semalam aku balik din, khusus untuk ulang tahun kamu. dan besok sore aku kembali ke jakarta. ini kado buat kamu" sintia memberikan sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi.
"kok cepat banget baliknya. ayolah kamu balik minggu depan aja ya... aku masih ingin berlama-lama main bareng kamu" dinda memohon.
"aku gak bisa din, orangtuaku sudah memesan tiket untukku. sudahlah, sebentar lagi kan kita akan libur panjang. ini terima hadiah kamu" Sintia kembali menyerahkan kotak itu.
dengan senang hati Dinda menerima kado yang diberikan sintia dan membukanya.
"yaampun, serius ini untuk aku?" tanya dinda ketika melihat jam bermerk yang diberikan Sintia.
__ADS_1
Dinda tau harga jam tangan tersebut jauh dari kata murah. Bisa dibilang sahabatnya tersebut memang anak orang yang sangat berkecukupan sama sepertinya. namun sifat dinda yang rendah hati tak jarang membuat orang salah paham mengira dinda berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.
"iya, buat kamu. terima saja kenapa sih? gak usah pakai drama-drama segala." ucap sintia sambil menjitak kening dinda lalu tertawa.
"oh iya, Rio mana kok tumben tidak kelihatan? biasanya kan kalian seperti tom and jerry gak pernah akur tetapi gak pernah bisa terpisah juga." tanya Sintia diiringi tawanya dan Rena.
seketika wajah Dinda langsung murung.
"Dia di medan" ucap Dinda lirih.
mata reno seketika terbelalak. terlihat senyum tergambar di wajahnya. Reno yang sedari tadi hanya diam seketika berubah menjadi sedikit berisik entah apa saja yang dia katakan sampai-sampai membuat kuping Rena panas. Renapun tak segan-segan melempari saudara kembarnya itu dengan bantal yang ada di atas sofa tempat mereka duduk.
"diam deh No, apaan sih ngomong tuh yang jelas jangan berisik seperti kelakson telolet" oceh Rena.
"biarin, emang elu merepet gak jelas kayak mak rumpi" balas reno sambil meledek.
"sudahlah, kalian ini hobi banget sih bertengkar" dinda melerai.
"oh iya si Rio ngapain ke medan? kan ujian nasional kita sudah dekat" tanya Reno penasaran.
"entahlah, yang jelas orangtuanya yang menyuruhnya kesana". jawab Dinda.
"oh" reno membulatkan bibirnya tanda paham.
"din, sebenarnya aku itu penasaran gimana sih awal mula kamu pacaran sama Rio? udah bertahun-tahun tapi kamu gak pernah cerita apa-apa ke kami. tiba-tiba udah laporan aja kamu punya pacar. kami kan kepo juga." ucap Sintia dengan nada memelas berharap Dinda mau bercerita.
senyum dibibir Dinda mengembang. Terlihat dengan jelas dia sedang mengingat kejadian saat pertama kali dia bertemu dengan Rio. lalu dia melihat kearah teman-temannya.
"oke aku akan cerita, tapi janji jangan ngetawain aku ya" ujar Dinda.
__ADS_1
"iya janji" kata Sintia, Rena dan Reno secara serentak.
Dinda menghela nafas dan memulai cerita.