Cerita Cinta Shasya

Cerita Cinta Shasya
Pintu Yang Terbuka


__ADS_3

aku telah mengeraskan hati. menguncinya rapat-rapat hanya agar tak ada yang bisa mengusik diri. entah sejak kapan dia mulai mempengaruhi segalanya. hariku, senyumku bahkan hatiku...


------------------------------------------------------------------------


Dengan langkah seribu aku langsung berlari meninggalkan Rio yang mungkin sedang tertawa merayakan kemenangannya karna berhasil membuatku menuruti keinginannya


*****


waktu terus berlalu, kini Shasya tengah duduk sendirian termenung di kursi yang ada disamping gerbang sekolah. Matanya terpaku pada pintu gerbang. berharap seseorang yang telah memaksanya berjanji muncul dengan segera.


Sudah lebih dari lima belas menit lamanya Ia menunggu. Tapi yang ditunggu tak kunjung tiba. Sebenarnya Syifa telah menawarkan diri menemani Shasya menunggu. Namun karna takut ketahuan siapa yang ia tunggu, Shasya melarang syifa menemaninya. Shasya takut kalau Syifa akan menyebarkan cerita yang tidak-tidak tentang hubungannya dan Rio.


"lama banget sih ini bocah berbulu" ucap Shasya mulai kesal.


Selang beberapa saat, terlihat sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan gerbang sekolah Shasya. Shasya langsung bergerak menuju mobil tersebut. Ya.. mobil itu adalah mobil milik Rio yang sudah daritadi dia tunggu. Dengan wajah cemberut Shasya duduk di bangku depan tepatnya di samping Rio.


"maaf aku telat Sya, tadi aku ada urusan sebentar." ucap Rio yang merasa bersalah ketika melihat wajah Shasya yang kesal.


"kau tau, kalau saja lima menit lagi kamu tak datang, aku akan benar-benar pulang dan tak akan ada kesempatan lagi untukmu mengajakku keluar." ucap Shasya sambil melotot kesal kearah Rio.


"yaudah, kan aku sudah datang. aku akan menebus kesalahanku. bagaimana kalau aku traktir kamu makan. tapi janji ya kamu jangan marah lagi".


"harus makanan enak yang mahal! kalau tidak, aku tak mau. waktuku itu sangat berharga." kata Shasya dengan nada tegas.


"haha.. dasar bocah!" ucap rio tertawa.


"kamu tuh yang bocah lambat!" ujar Shasya sambil mencubit pinggang Rio.


Rio mengacak-acak rambut Shasya dengan gemasnya. Terlihat Shasya berusaha memukul tangan Rio agar berhenti melakukan hal tersebut.


"Rio jangan. sudah cukup. berhenti melakukan itu nanti rambutku berantakan lagi" kata Shasya sambil kembali merapikan rambutnya yang mulai berantakan.


Rio tak menggubris larangan Shasya malah dengan Sengaja Rio terus saja mencari celah agar bisa sesekali kembali mengacak-acak rambut Shasya dan tentunya tetap mencoba fokus mengemudi.


"kamu kok berani sih bawa mobil begini? apa kamu tak takut dirazia karna tak punya sim?." Shasya bertanya heran.


"kenapa harus takut? Aku punya sim. Aku udah 19 tahun loo" ucap Rio.


"19 tahun? benarkah? bukannya kamu masih kelas tiga SMA? atau jangan-jangan kamu pernah tinggal kelas ya? hahaha... dasar bodoh" ledek Shasya.

__ADS_1


"hei, kata siapa aku bodoh. aku itu cuma dua kali mengulang sekolah karna ayahku harus pindah tugas. kau tau, mengulang-ulang sekolah di tempat yang berbeda itu sama sekali tak enak. benar-benar merepotkan. harus terus mencari teman baru dan harus beradaptasi lagi." kata Rio kemudian menarik lalu menjepit kepala Shasya diantara dada dan lengannya sambil tetap menyetir.


"ih awas. apaan sih kamu ini berbahaya rio kau sedang menyetir dan aku tak ingin mati muda" jerit Shasya meronta-ronta dan memukul lengan Rio.


Rio tertawa terbahak-bahak ketika melihat Shasya yang seperti anak kecil. Dia tak menyangka ada sisi manis aang tersembunyi dibalik sikap Shasya yang dingin dan cenderung galak itu.


Mobil Rio melambat dan berbelok ke sebuah restoran bali. Mata Shasya terbelalak. "kok bisa sih dia tau aku suka makan disini?" batin Shasya.


"kenapa Sya? kamu gak suka makan disini?" tanya rio ketika melihat Shasya yang termenung.


"eh enggak kok, aku suka. Suka banget" jawab Shasya tersenyum.


"aku juga suka" balas rio lalu menatap Shasya dengan tajam.


"hey, aku suka makanannya bukan suka sama kamu!" Shasya mulai gugup karna tatapan yang diberikan Rio.


"yang bilang aku suka sama kamu siapa? maksudku aku juga suka..... makanannya" lagi-lagi rio berbicara sambil mencubit hidung Shasya.


"udah ah ayo masuk, aku lapar. dan ingat kamu yang teraktir ya" kata Shasya lalu membuka pintu mobil. Rio mematikan mesin mobilnya dan berjalan mengikuti Shasya dari belakang.


Merasa Rio berjalan terlalu lama, Shasya kembali dan menarik tangan Rio.


"wah, berani banget pegang-pegang aku". kata Rio seketika membuat Shasya langsung melepaskan tangannya.


"eh, sorry sorry" kataku panik.


Melihat Shasya yang melepas tangannya dengan panik, Rio langsung menarik tangan Shasya lalu menyatukan jari mereka. Shasya berusaha melepas genggaman tangan rio tapi sayangnya usaha Shasya gagal karna genggaman tangan Rio begitu erat. Akhirnya Shasya menyerah dan kini Merekapun masuk kedalam restorant sambil bergandengan tangan.


Mereka memilih duduk di sebuah tempat lesehan berbentuk seperti pondok yang posisinya disudut restoran itu.


"kamu mau pesan apa?" tanya Rio.


"nasi putih, Cumi asam manis dan sate lilit. minumnya leci tea" jawabku tanpa melihat buku menu.


Rio menyipitkan matanya seolah tak percaya Shasya memesan makanan tanpa melihat buku menu sama sekali.


"hey Rio, cepat pesan kasian mbaknya berdiri terlalu lama. lagian aku benar-benar sudah lapar." kata shasya sedikit merengek.


"iya iya, berisik banget sih, aku pesan nasi putih, ayam bakar dan cah kangkung saja ya mbak." ucap rio tersenyum kepada pelayan.

__ADS_1


"baik, mohon ditunggu pesanannya ya " ucap pelayan sopan kemudian berlalu meninggalkan kami.


"kamu sudah sering kesini?" tanya rio.


"banget". jawab Shasya singkat


"sama siapa?"


"orangtuaku lah, mau sama siapa lagi."


Rio mengangguk tanda mengerti.


hening..


Tiba-tiba Rio mendekatkan tubuhnya kepada Shasya lalu menyandarkan kepalanya dibahu Shasya. Shasya yang bingung harus melakukan apa mendadak terdiam. kemudian dia memberanikan diri memukul kepala Rio


"aduh. Sakit tau Sya"


"Siapa suruh kau berani meletakkan kepalamu di bahuku. kau berat tau!"


"aku lelah, pinjam bahumu sebentar. pelit banget sih" ucap Rio.


"hmmmm. biarin. weeeek" jawab Shasya kemudian menjulurkan lidahnya.


"Sya, tolong jangan terlalu mengunci rapat hatimu ya." bisik Rio sambil kembali menyandarkan kepalanya ke bahu shasya.


karna tak yakin dengan apa yang dia dengar, Shasya langsung bertanya pada Rio.


"kau bilang apa?"


"tak ada, aku cuma meracau saja" ucap Rio kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Shasya.


Jantung Shasya berdegup kencang ketika melihat wajah Rio benar-benar dekat dengan wajahnya. Seketika Shasya memalingkan wajahnya. Rio yang sadar akan kegugupan Shasya malah tertawa terbahak-bahak.


Shasya merasa kesal karna Rio tertawa dengan sangat keras. dia lalu memukul punggung Rio dengan cukup keras.


Muka Shasya memerah getaran dihatinya semakin hebat ketika Rio kembali membelai lembut Rambutnya lembut sambil tersenyum.


Akhirnya makanan Shasya dan Rio tiba. Mereka makan dengan lahap sambil sesekali bercanda dan tertawa. Entahlah Shasya mulai merasa pintu hatinya yang lama tertutup kini mulai terbuka seolah memberikan celah bagi Rio untuk masuk ke dalamnya.

__ADS_1


dia tak bisa lagi berbohong. meskipun sikapnya masih tetap galak namun hatinya perlahan mulai merasa nyaman dengan kehadiran Rio disisinya.


__ADS_2