
Shasya dan Bima kini telah berada di perpustakaan. suasana hening khas perpustakaan mempermudah Shasya dan Bima mencari inspirasi untuk tugas Shasya.
"tema angket kamu apa?" tanya bima yang masih sibuk memilih buku dari rak buku yang ada di perpustakaan.
"bebas kak, yang penting berhubungan dengan ekonomi mikro." jawab shasya tak kalah sibuknya dengan bima.
"ya sudah bagaimana kalau tentang pendapat senior terhadap umkm yang ada di kampus?" bima memberikan solusi.
"ide bagus kak, ya sudah itu saja. sekarang kita harus mencari buku yang berhubungan dengan umkm saja ya kak biar lebih fokus." ucap Shasya dengan antusias.
Bima mengangguk dan tersenyum. sesekali mereka bercanda dengan mengganggu kegiatan satu sama lain. shasya dan bima kini terlihat sangat dekat dan membuat siapa saja yang melihatnya berfikir mereka memiliki hubungan yang lebih dari pada teman.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat tajam ke arah mereka. dia adalah Naila, teman seangkatan Bima. Naila mengenal Bima sejak semester awal. mereka cukup dekat, sudah sangat lama Naila memendam perasaan kepada bima. Namun Bima tak pernah tau karena naila tak pernah mengungkapkannya kepada bima. sedangkan bagi Bima Naila hanyalah adiknya.
naila berjalan mendekat kearah bima dan Shasya. lalu dengan sengaja menabrakkan dirinya kepada Bima yang membuat tubuhnya hampir terjatuh ke lantai. dengan cepat Bima langsung menangkap tubuh Naila agar tak terjatuh.
"yaampun Nai, kamu melamun ya? tubuhku yang seperti gajah ini saja tak bisa kau lihat." ucap bima sambil mengacak rambut naila gemas.
"sudah hentikan." Naila berusaha menepis tangan bima dan kembali merapikan rambutnya.
"maaf ya bim, aku tak sengaja." ucap naila lagi.
Naila melirik ke arah Shasya.
"pacarmu bim?" tanya naila.
"hai kak, aku Shasya. junior di FEB" Shasya mengulurkan tangannya dengan senyuman.
"naila," ucap Naila membalas senyum dan uluran tangan Shasya.
di dalam hatinya, Naila sangat enggan berbicara dengan Shasya. namun dia ingin memiliki kesan baik di hadapan bima.
"wah, kakak cantik banget. satu jurusan juga ya sama aku?" Shasya sangat antusias ketika melihat kecantikan Naila. dia tak menyangka akan berkenalan dengan gadis yang sangat cantik di kampusnya.
__ADS_1
"terima kasih. manis banget sih kamu." suara naila terdengar sangat lembut. naila berusaha menyembunyikan rasa canggung dan tidak suka ketika melihat Shasya dan Bima dekat.
"kalian pacaran?" tanya Naila terus terang.
"hahaha... kakak bercanda ya? bagaimana mungkin aku pacaran dengan kak bima. kami hanya berteman kok kak," jawab Shasya sambil tertawa. dia tak menyangka ada yang menganggap dirinya berpacaran dengan bima.
"benarkah? tapi kelihatannya kalian sangat mesra." oceh naila masih berusaha memastikan hubungan mereka.
"mesra apaan kak? kak bima itu nyebelin. dia seperti tipe lelaki playboy. ogah banget aku jadi pacarnya kak" Shasya meledek kearah bima. yang membuat raut wajah kesal tergambar jelas di wajah bima.
naila bernafas lega. ternyata dia hanya salah paham. ternyata dia masih punya harapan untuk bisa menjadi kekasih bima.
"oh iya, ngomong-ngomong kalian sedang apa disini?" naila kembali memulai pembicaraan.
"begini kak, sebenarnya aku sedang meminta bantuan kak bima untuk tugas angketku. jadi kami kesini untuk mencari bahan untuk tugas itu" jelas Shasya.
naila mengerucutkan bibirnya dan mengangguk tanda paham.
"apakah kamu mau aku bantu juga?" naila menawarkan diri. dia tak bisa membiarkan Shasya dan bima berduaan. meskipun Shasya menyangkal hubungan mereka, namun bagi naila perasaan itu akan muncul jika mereka terlalu sering berduaan.
naila mengangguk dan tersenyum.
"waaah terima kasih kak, tak hanya cantik, kakak juga sangat baik. yaampun aku beruntung banget hari ini" oceh Shasya.
bima hanya bisa terdiam. ada perasaan tak suka di hati bima. awalnya dia berharap bisa mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan Shasya ketika mereka mengerjakan tugas tersebut bersama. namun kehadiran naila seolah menghancurkan harapan yang sedari tadi melintasi fikiran dan hatinya.
astaga, kenapa sih naila pakai muncul segala. kalau begini bagaimana mungkin aku bisa mendekati Shasya. si shasya lagi pakai bilang dia tak mungkin menjadi pacarku. playboy dari mana coba? pacaran aja masih sekali. itupun aku yang ditinggal pergi begitu saja. sial!
bima menggerutu kesal. dia mengambil beberapa buku kemudian berjalan ke arah meja meninggalkan Shasya dan naila yang masih sibuk berbincang. naila melihat perubahan wajah dari bima mulai menyadari bahwa bima seperti memiliki perasaan teehadap Shasya. namun melihat bagaimana sikap Shasya, naila yakin Shasya belum menyadari apapun.
"loh kak bima kemana kak?" tanya Shasya ketika sadar bima telah menghilang.
"itu! dia duduk disana." jawab naila.
__ADS_1
"oh yasudah, kita kesana juga yuk kak." ajak Shasya.
"baiklah, ayo" naila melangkahkan kakinya menuju ke tempat bima diikuti oleh Shasya.
"sudah selesai perkenalannya?" tanya bima jutek.
"apaan sih bim, emosian banget" ledek naila.
bima mengalihkan pandangannya dari sebuah buku yang ia baca ke arah Shasya. sedangkan Shasya tak menghiraukan tatapannya dan masih saja sibuk dengan buku-bukunya.
naila yang memperhatikan tingkah bima semakin yakin bahwa bima lah yang tertarik dengan shasya. naila melihat ke arah shasya dengan tajam.
apa sih yang menarik dari wanita ini sampai bima melihat dia sampai segitunya banget? maafkan aku bima, aku tak rela jika kamu menjadi miliknya. sudah cukup lama aku memendam rasa cintaku untukmu. aku tak rela jika dia merebut kamu dengan begitu mudah. aku akan menunjukkan kepadamu bahwa akulah wanita yang terbaik.
naila terus menggerutu di dalam hatinya. sejujurnya dia bukanlah wanita yang jahat. namun rasa cintanya yang sangat mendalam kepada bima membuatnya tak rela jika harus merelakan perasaannya begitu saja.
naila merasa, jika bima memang ingin memiliki kekasih tentu saja wanita itu adalah dirinya dan harus dirinya. dia tak akan terima jika bima memilih wanita lain untuk mengisi hari-harinya.
"aku boleh meminta nomor ponsel kamu sya?" ucap naila seketika membuat bima melihat kearahnya.
"oh, boleh kak. sebentar ya kak" shasya mencari nomor ponselnya di kontak yang ada pada ponselnya.
"ini kak," ucap Shasya sambil mengarahkan ponselnya mendekat kepada naila.
setelah selesai mencatat nomor ponsel shasya, naila mencoba menghubungi nomor tersebut. selang beberapa saat, ponsel Shasya berdering.
"itu nomor kakak. nanti kalau kamu ada pertanyaan tentang tugas, silahkan hubungi kakak saja. dengan senang hati kakak akan membantumu." ucap naila dipenuhi dengan senyuman indah di wajahnya.
bima membulatkan matanya, dia merasa naila seperti merencanakan sesuatu kepada Shasya. tak ingin berfikiran negatif, bima menggelengkan kepalanya dan bergumam dalam hati. "tak mungkin naila bermaksud buruk. dia wanita yang baik. semoga dia benar-benar membantu Shasya. kehidupan kampus Shasya akan lebih baik jika dia memiliki senior sebaik naila untuk membantunya." batin bima.
maafkan aku sya, aku tak ingin kamu menghubungi bima dengan alasan tugas. aku juga akan memastikan bima menjauh dari kamu. karena cepat atau lambat bima akan menjadi milikku. kita sama-sama wanita. aku yakin kau akan mengerti itu. bagiku tak akan ada cerita indah jika yang aku cintai pergi dan memilih bersama dengan wanita lain.
naila membatin sambil tersenyum penuh arti kepada Shasya dan bima.
__ADS_1
****
jika egois bisa membuatmu hanya melihat ke arahku. maka biarlah aku menjadi wanita yang paling egois di dunia. agar kamu tetap berdiri bersamaku dan hanya menatapku meski tanpa pernah mencintaiku.