
bulan semakin tinggi menandakan bahwa malam telah larut. terlihat seorang wanita cantik masih berguling-guling di tempat tidurnya. dia menarik nafas lalu duduk perlahan. kemudian berbaring lagi lalu berguling lagi. jelas sekali kegelisahan terpampang di wajahnya. ya... dia adalah Shasya.
malam itu Shasya benar-benar gelisah. dia bingung harus senang atau sedih. dia mengutuk hatinya sendiri karna membuatnya tak tenang.
"ih, apaan sih! terserah dia mau balik atau tidak lagian dia kan sementara doang ke sulawesinya. lebay banget sih aku." Shasya mencibir dirinya sendiri.
"sudahlah aku harus tidur. besok aku harus sekolah. Aaaaaarrrrghh. aku benci SEKOLAAAAAHHHH! eh salah, aku beni RIIIIIOOOOO, PERIUK BUNTAL! eh tapi Rio juga gak salah, ah gak tau lah!" Shasya menggerutu tak jelas.
Shasya menarik selimutnya, menutup wajahnya lalu berusaha tertidur. akhirnya rasa kantukpun menghampirinya dan ia mulai tertidur pulas.
****
Rio tersenyum dan tertawa melihat layar ponselnya. ternyata dia melihat video yang Ia ambil saat ulangtahun Shasya. video itulah yang menjadi saksi tentang pertemuan awal mereka. betapa konyolnya Shasya ketika itu dengan wajah penuh coretan lipstik dan mata yang berkaca-kaca karna terharu. Apalagi waktu Raut wajahnya yang seketika berubah ketika menyadari kondisi wajahnya.
Rio kembali tertawa ketika ingatannya membawa dia bernostalgia kenangan saat bersama Shasya. namun tiba-tiba saja wajah rio berubah kecut. Rio paham betul dia hanya pergi sementara. tetapi entah kenapa rasanya terlalu berat untuk pergi.
"sudahlah, aku juga harus menyelesaikan beberapa hal disana termasuk hubungannya dengan dinda" fikirnya.
Rio kembali menggeser layar ponselnya dan melihat tajam kesebuah foto wanita yang pasti akan dia rindukan. dia sengaja mengambil foto Shasya diam-diam ketika Shasya sedang bermain air. senyum pahit terlihat diwajah Rio.
"tunggu aku ya Sya, aku pasti kembali". ucapnya lalu memejamkan mata berusaha tidur.
****
pagi telah tiba, Rio sudah bersiap-siap meninggalkan medan. kini dia berjalan menuju taksi yang sudah dia pesan sebelumnya. Sebelum pergi, Rio mengirim subuah pesan singkat kepada Shasya.
"sya, aku pergi ya. ingat selama aku pergi jangan nakal. jangan berani-berani dekat sama lelaki lain atau aku akan muncul tiba-tiba dihadapanmu. Paham!"
Rio menatap ponselnya namun Shasya tak membalas pesan Rio.
"sudahlah, mungkin dia sudah masuk kelas" batin Rio.
Rio memasukkan kopernya ke dalam bagasi taxi lalu melangkah kembali memasuki taksi tersebut. setelah memastikan penumpangnya masuk, supir taksi itupun segera melajukan kendaraannya menuju bandara.
baru kali ini dia merasa terlalu berat meninggalkan sesuatu. padahal dia tak sampai seperti itu saat meninggalkan dinda. "mungkin benar, aku telah jatuh cinta dengan sungguh-sungguh" batinnya.
****
ponsel Shasy bergetar. Shasya menatap tajam pesan dari tuan tampannya lalu menghela nafas.
"dia sudah pergi" ucapnya.
"siapa yang pergi Sya?" tanya tiara
"Rio" jawab Syifa singkat
Shasya membelalakkan matanya kearah Syifa.
"apa? kau terkejut karna aku tau? aku kan sepupunya Sya. aku juga tau kalau kau mulai dekat dengannya." Syifa menjelaskan sambil memukul pelan punggung sahabatnya itu.
"kau tau?" tanya Shasya
"tentu saja. aku kan alumninya sekolah perdukunan. tentu aja aku tau" ledek Syifa.
"sudahlah, dia kan pergi untuk menyelesaikan sekolahnya. toh dia akan kuliah disini" Syifa berusaha menenangkan Shasya.
__ADS_1
"iya sih, yasudah sebentar lagi guru masuk. simpan Hp kamu" oceh Syifa.
Shasya memasukkan kembali ponselnya dan berdoa dalam hati.
"semoga dia selamat dan baik-baik saja."
******
bel pulang telah berbunyi. tiba-tiba ponsel Shasya berdering.
"Rio menelpon? bukannya dia sedang di pesawat".
Shasya menekan tombol hijau pada layar ponselnya dan menjawab telpon Rio.
"kok bisa nelpon sih? bukannya kamu dipesawat?" Shasya berbicara dengan nada tinggi.
"halo, selamat siang" ledek Rio
"apaan sih, jawab dulu kok kamu bisa nelpon?"
"woles kali Sya, galak amet. pesawatku delay, mungkin akan berangkat jam 4 sore. kamu udah pulang?"
"sudah, ini lagi bareng yang lain"
"kamu gak mau kesini?"
"buat apa?"
"emmmmm, yasudahlah tak usah. gak penting juga. yaudah aku tutup dulu ya. bye!"
"terserah lah" batin Rio.
sedangkan Shasya hanya menatap ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca. sebenarnya dia ingin menemui Rio tapi tak mungkin karna jarak bandara dan sekolahnya cukup jauh.
"kamu mau ikut aku ke bandara Sya?" tanya syifa.
"ngapain?"
"kata Rio pesawatnya delay. dia minta tolong ditemenin. memang sih anak itu, badannya aja yang besar. tapi manjanya minta ampun"
"aku ikut!"
"oke, kita kerumahku dulu ya, mau anter motor" ucap Shasya yang diiringi anggukan dari Syifa.
*****
Shasya memasukkan motornya kedalam pekarangan rumahnya kemudian langsung meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke bandara. setelah itu Shasya dan Syifa diantar seorang supir menggunakan mobil Syifa.
setibanya di bandara Shasya dan Syifa langsung menuju ke salah satu tempat makan. karna saat di jalan Rio bilang akan makan dulu di tempat itu.
Syifa dan Shasya mengedarkan pandangannya menyusuri tiap sudut meja. dan pandangannya terhenti kepada seorang pria yang duduk sendiri di sudut resto tersebut.
"itu dia." syifa langsung berlari ke arah Rio.
"Dorrrr!"
__ADS_1
"eh ayam... ayam...." ucap Rio sambil mengangkat kedua tangannya dan menjatukan burger yang sedang ia pegang.
"hahahhahaa"
terdengar suara Syifa tertawa lalu dia memegang perutnya dan terjongkok ketika dia berhasil mengagetkan sepupunya itu. beberapa pengunjung lain yang ada di sana juga ikut tertawa. Rio langsung berdiri dan menyelentik kening Syifa.
lalu mata Rio terpaku melihat Shasya yang berdiri sambil menahan tawanya. Rio langsung menarik Syifa dan melotot.
"kau gila, harusnya bilang dong Shasya mau ikut."
"kan kau tak bertanya. buat apa bilang?"
"iya sih tapi kan gak harus ngagetin gitu. tengsin aku. karna kau sekarang harga diriku melayang layang ntah kemana"
"yasudah biarkan saja dia melayang. gak usah sok macho deh, gak cocok!".
Rio melirik Shasya dan Syifa bergantian. lalu dia menarik nafas panjang dan menghampiri Shasya.
"kamu tau sya, aku fikir kau akan melepasku dengan terharu seperti di novel cinta atau film-film Romantis. gak taunya makhluk tanpa batang hidung ini merusak adegan romantis kita" ucap Rio lalu tangannya menepuk kening Syifa.
Shasaa tak kuat lagi manahan tawanya, akhirnya Ia tertawa lepas melihat kedua sepupu yang sebentar lagi akan terpisah itu.
"ih dasar, kau tu yang gak punya batang hidung" ucap Syifa kesal
"diam" celoteh Rio
"sudahlah, sesama makhluk tanpa batang hidung tak boleh saling menghina. gak baik" timpal Shasya yang diiringi tatapan tajam dari Rio dan Syifa.
"jadi kapan kau berangkat?" Shasya melirik kearah Rio.
"sekitar 1 jam lagi."
"oh". shasya mengangguk
"oh? tak ada ucapan selamat tinggal atau pelukan perpisahan?" Rio mendekat ke arah Shasya dan merentangkan tangannya
"jangan aneh-aneh" ucap Syifa lalu menarik lengan Shasya mendekat kearahnya agar menjauh dari Rio
Shasya hanya tersenyum melihat kekonyolan kedua orang itu.
"yasudah kamu hati-hati ya. harus rajin belajar. aku tak mau punya teman bodoh apalagi kalau sampai tak lulus ujian." ucap Shasya sinis kearah Rio.
"teman?" Rio mengerutkan keningnya
"iya, emang apalagi? pacar? kan gak jadian. weeek" ucap Shasya meledek.
"terserah deh. kamu juga hati-hati disini. jangan aneh-aneh. dan jangan dekat-dekat sama cowok lain. paham!" rio menegaskan.
"Siapa elu ngatur-ngatur anak gadis orang" celetuk Syifa.
"dasar perusak suasana" ucap Rio kesal.
waktu terus berlalu. akhirnya Rio pun berangkat memasuki pesawat dan meninggalkan kota medan. Shasya dan syifa langsung berjalan menuju mobil lalu pulang kerumah.
sebenarnya sebelum Rio pergi, Shasya ingin memeluk tubuh Rio namun diurungkannya karna dia merasa tidak enak dengan Syifa.
__ADS_1
Shasya tenggelam dalam fikirannya. dia tak tau entah kapan waktu bisa mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu.