
bima tengah membaringkan tubuhnya di sebuah sofa yang terletak di ruang tamu rumahnya. fikirannya melayang. dia teringat tentang ucapan ibunya Shasya.
"sebenarnya Rio itu siapa sih? dari cara ibu Shasya menjelaskan sepertinya dia orang yang pernah dekat dengan Shasya. hmmmm atau jangan-jangan.... ah tidak mungkin, Shasya tak mungkin punya pacar." Bima terus berfikir dengan keras.
"ah sudahlah. jika memang dia pacarnya Shasya, pasti cepat atau lambat aku akan tau sendiri. Shasya kan orang yang cukup mudah membocorkan rahasia hidupnya." celoteh bima sambil tersenyum membayangkan tingkah konyol shasya di setiap pertemuan mereka. bima melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul sepuluh malam. entah mengapa saat ini dia merasa seperti melupakan sesuatau.
"astaga." bima menepuk keningnya dengan keras.
"aku lupa janji untuk mengerjakan tugas bareng yang lain, haduh bisa gawat kalau andi sampai merepet." dengan sigap Bima mengambil ponselnya kemudian menelpon andi.
"eh kancil, kemana aja lo? kita semua udah nungguin sampai 3 jam lebih tau!" ucap andi dengan nada yang sangat tinggi seketika membuat Bima menjauhkan ponselnya dari telinga.
"sorry, gue sakit perut." bohong bima.
"yasudahlah, lagian kita juga udh mau pulang. besok lo yang harus nyerahin tugas ini sama dosen paham!" ujar andi.
"iya iya" bima langsung mematikan ponselnya dan melemparkannya ke sembarang arah, kemudian dia memejakan mata dan mulai tertidur.
*****
Shasya duduk bersandar di tempat tidurnya. dia terlihat melamun. mood nya seketika berubah karena mendengar ibunya menyebut nama orang yang coba Ia lupakan. sebenarnya meskipun Shasya berusaha dengan sangat keras untuk melupakan Rio, jauh didalam lubuk hatinya tetap saja ada Rio disana.
Shasya teringat dengan quotes yang dia baca di media sosial miliknya. "beruntunglah kalian para pria yang menjadi cinta pertama dari seorang wanita, karena sampai kapanpun kalian tak akan pernah terlupakan." oceh Shasya dengan lantang.
"sudah lah, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan cinta, lebih baik aku memeriksa tugas kuliahku saja." Shasya turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju meja belajarnya. dia membuka buku catatan untuk melihat apakah ada tugas yang harus dia kerjakan.
"yaampun aku lupa tugasku untuk menyrbarkan angket untuk seniorku. bagaimana ini? waktunya sudah sangat dekat." Shasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena panik.
"oh iya, kak bima kan senior ku di jurusan yang sama denganku. aku harus minta tolong." ucap Shasya ketika dia mengingat bahwa bima adalah senior yang satu jurusan dengannya. dengan segera dia mengambil ponsel lalu mencari nama bima di ponselnya.
"astaga, aku kan gak punya nomor kak bima. apes banget sih aku. disaat lagi butuh malah ketemu jalan buntu. sudahlah besok saja aku cari kak bima dikampus. semoga saja dia kuliah besok." Shasya berjalan kembali ke tempat tidurnya kemudian berusaha untuk terlelap karna kini malam bemar-benar sudah larut.
*****
__ADS_1
Shasya telah bersiap menuju kampus. dia berusaha untuk pergi pagi-pagi untuk mencari bima. dia merasa benar-benar sangat butuh bantuan dari seniornya itu. setelah ia merasa cukup rapi, Shasya langsung keluar menuju dapur sekedar pamit kepada ibunya tanpa sarapan lalu pergi menuju motornya dan berangkat ke kampus.
setibanya Shasya di kampus, dia langsung menyisir seluruh gedung fakultasnya. dia berharap dapat bertemu dengan bima. sebagai mahasiswi baru, dia merasa sangat membutuhkan bima untuk membantunya mengerjakan tugas. kini semua sudut dan semu lantai yang ada di gedung tersebut telah dilalui Shasya, namun sayangnya yang dicari tak kunjung terlihat batang hidungnya.
"kak bima dimana sih? dia gak kuliah kali ya?" ucap Shasya sambil menghapus keringat yang mulai berjatuhan di keningnya.
Shasya melihat sebuah bangku yang ada di halaman depan gedung. tanpa aba-aba dia langsung berjalan ke arah bangku itu dan langsung duduk. sesekali dia memijat kakinya karna lelah.
"ah sudahlah lebih baik aku istirahat dulu. capek juga ternyata keliling fakultas cuma untuk nyari seseorang" ucap Shasya. tanpa dia sadari seseorang mendengar ucapannya.
"emang kamu nyari siapa?" tanya orang tersebut.
"kak bima, akhirnya ketemu juga. aku udah nyari kakak sampai keliling gedung ini tau!"
oceh Shasya antusias ketika melihat bima sudah duduk di sebelahnya.
"serius kamu cari aku? tumben banget. emang ada perlu apa?" tanya bima tak kalah antusias.
"emmmm.. begini kak, aku ada tugas dari dosen." ucap Shasya ragu-ragu namun perkataannya berhenti ketika Bima memotong.
"loh kok kakak tau?" ucap Shasya bingung.
"teman kamu tadi udah minta tolong luan." bima menjawab santai.
"temen aku? maksud kakak Syifa?" shasya kembali bertanya.
"ya, emang kamu punya teman yang lain?" ucap bima sambil tertawa.
"apaan sih kak, jadi sekarang Syifa dimana?" Shasya melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sahabatnya namun sayangnya sahabatnya tersebut tak kunjung terlihat.
"dia masih ngerjain angketnya bareng andi." bima menjawab. kemudian bima menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku tempat dia dan Shasya duduk.
"oh. eh maksud kakak syifa berduaan sama kak andi gitu? serius kak? kok bisa?" Shasya terlihat panik namun terselip senyum dibibirnya ketika dia mengetahui akhirnya Syifa bisa ngobrol santai berdua dengan lawan jenis.
__ADS_1
"ya serius lah. untuk apa aku bercanda" jawab bima.
"kak, aku mau tanya serius sama kakak" ucap Shasya seketika membuat wajah bima berubah.
dia mau bertanya apa? jangan-jangan dia mau nanya aku punya pacar atau enggak. masa sih dia bakal nembak gitu aja. kayaknya gak mungkin deh. sepertinya aku mulai kegeeran lagi nih.
"kak, Kak.. KAK BIMAAA." jerit shasya.
"EH KUDA LUMPING!!" ucap bima kaget sambil sedikit loncat dari kursinya.
"hahaha... apaan sih kak?" Shasya tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
"kamu yang kenapa tiba-tiba menjerit begitu" ucap bima malu.
"habisnya kakak dipanggilin bukannya menjawab malah melamun." ucap Shasya masih tertawa.
"emang kamu mau tanya apa tadi?" bima berusaha mengalihkan pembicaraan.
"bentar yaa,, aku tarik nafas dulu biar aku bisa berhenti ketawa." ucap Shasya kemudian menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan. namun masih terlihat senyum diwajahnya. dia bemar-benar tak menyangka seorang bima yang memiliki tampang sangar bisa terkejut dan mengeluarkan kata-kata tak terduga tersebut.
setelah dia merasa bisa mengendalikan tawanya. Shasya mulai mencoba kembali bertanya.
"kak andi itu orangnya gimana sih kak?" ucap shasya dengan wajah polos. dia sama sekali tak tau jika pertanyaannya tersebut mampu membuat bima salah tingkah karena dia mengira Shasya akan bertanya tentangnya.
sial, malu banget aku. untung saja aku tak mengatakan apapun sebelum dia bertanya. bima.. bima ada-ada saja kau.
"untuk apa kamu bertanya tentang andi? kamu suka sama dia?" tanya bima.
"ya enggak lah, gak mungkin aku suka sama kak andi." bantah Shasya.
"terus?" bima menatap Shasya seolah curiga.
"aku cuma ngerasa kak andi seperti sedang mendekati syifa. temanku itu polos banget tau kak. aku gak mau kalau dia sakit hati karna di php-in. sakit tau kak kalau di kasi harapan terus ditinggal gitu aja" oceh Shasya sembari menyelipkan curahan hatinya.
__ADS_1
"kedengarannya kamu kayak tau banget rasanya di Php-in? emang kamu udah pernah mengalami itu?" tanya bima.
"pernah" ucap shasya. matanya seketika memandang langit. dia seolah menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya. melihat perubahan wajah Shasya, bima menjadi semakin penasaran dan ingin mencari tau lebih jauh tentang Shasya.