Cerita Cinta Shasya

Cerita Cinta Shasya
Pernyataan Cinta


__ADS_3

kufikir inilah akhirnya. namun ternyata ini adalah awal dari segalanya. dia yang hadir secara tiba-tiba mengusikku dengan kata cinta. kemudian mendobrak hatiku dengan keras lalu masuk kedalam dan menetap di sana. seketika membuatku tak bisa lagi mengucapkan apa-apa.


-----------------------------------------------------------------------


Seminggu telah berlalu. kini Rio telah membeli tiket untuk kembali ke Sulawesi. dia memutuskan untuk kembali besok pagi. namun ada yang mengganjal dihatinya. dia masih berfikir bagaimana caranya untuk memberitahu Shasya tentang keberangkatannya besok.


akhirnya terbersit ide di benaknya untuk mengajak Shasya liburan karena kebetulan hari ini adalah hari minggu. Rio langsung mengambil ponselnya dan menelpon Shasya.


"Sya, hariini kamu ada acara?"


"enggak kok, kenapa Ri?"


"ke pantai yuk"


"pantai? sekarang?"


"iya."


"ayo, aku juga sudah lama banget gak ke pantai. kita ajak yang lain juga yaa."


"gak usah, aku cuma mau pergi berdua sama kamu."


"emmmm,, baiklah ayo"


"yasudah, kamu siap-siap ya. satu jam lagi aku jemput"


"oke"


Rio langsung bersiap-siap. dia mengenakan pakaian santai yakni kaos hitam dan celana jeans panjang tak lupa memakai jaket yang berbahan jeans juga.


di lain tempat.


Shasya membongkar-bongkar lemarinya. dan kini terlihat banyak pakaian yang berserak dilantai. dia tak tau harus memakai apa. entah kenapa tiba-tiba dia merasa bajunya tak ada yang layak pakai.


akhirnya pilihannya jatuh pada mini dress berwarna biru muda yang terkesan sangat lembut. tentu saja cocok untuk kepribadiannya yang hangat. dia juga memoles bedak di wajahnya dan menggoreskan lipstik merah muda pada bibirnya.lalu dia mengikat rambutnya sehingga terlihatlah leher jenjang miliknya.


"sempurna" ucapnya sambil memandang wajahnya di cermin.


*****


tok...tok...tok...


suara ketukan pintu terdengar di rumah Shasya. Ibu Shasya langsung berjalan kearah pintu dan membukanya. terlihat Rio sudah berdiri disana.


"eh Rio, ada apa ya kesini?"


"Rio mau jemput Shasya bu, sekalian mau izin membawa Shasya pergi ke pantai ya bu"


"oh ya sudah, kamu masuk dulu biar ibu panggil Shasya"


"iya bu"


Rio masuk ke dalam Rumah Shasya dan duduk di Sofa yang terletak di ruang tamu.


selang beberapa waktu Shasya keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu.

__ADS_1


"hay, maaf ya udah lama nunggu" ucap Shasya yang membuat Rio melihat ke arahnya.


Rio terdiam. matanya terus terpaku pada Shasya. ini kali pertama buat Rio melihat Shasya berdandan.


"Cantik". ucap Rio tanpa sadar


"kamu bilang apa?" tanya Shasya. bukan karna Shasya tak mendengar. tapi karena memastikan apa yang dia dengar.


"tidak, yasudah ayo kita pergi. aku takut kesiangan" Rio berusaha mengalihkan pembicaraan.


"hmmm. oke"


Shasya dan Rio masuk ke mobil. dengan kecepatan sedang Rio melajukan mobilnya menuju ke pantai tersebut. perjalanan dari rumah Shasya menuju pantai kurang lebih memakan waktu 2 jam.


di tengah perjalanan Rio melihat mini market. dia memarkirkan mobilnya dan mengajak Shasya membeli beberapa cemilan untuk mereka makan saat bersantai dipinggir pantai. setelah selesai, mereka langsung kembali melajukan mobilnya.


kini mereka telah sampai di pantai. raut bahagia terlihat di wajah Shasya. baginya pantai itu tempat yang sangat tenang dan tentunya membawa ketenangan. itulah yang membuat dia sangat menyukai pantai.


Shasya berlari kesana kemari layaknya anak kecil, Ia menarik tangan Rio mengajaknya bermain air. Rio menurut dan ikut larut dalam kebahagiaan sederhana yang kini tercipta. mereka tertawa bersama dan sesekali saling menggelitik pinggang. suasana saat itu benar-benar sangat menyenangkan.


Sampai akhirnya mereka lelah dan duduk bersebelahan. Shasya menyandarkan kepalanya pada bahu Rio. Rio tertegun, hatinya semakin berkecamuk. Ia ingin mulai berbicara namun tak sepatah katapun mampu Ia ucapkan.


Rio mendekatkan wajahnya ke kepala Shasya. mencium keningnya dengan mata yang berkaca-kaca. "kenapa aku memulai ini semua? sekarang sangat sulit buatku untuk meninggalkannya. padahal aku tau pasti ini hanya sementara" batin Rio.


"hey, kamu kenapa? ada yang mau kamu bicarain?" suara Shasya mengembalikan fokus Rio padanya.


"Sya, dengerin aku." ucap Rio lirih


"ada apa sih, kok serius banget?"


Shasya terdiam, matanya membesar. sontak dia langsung mengangkat kepalanya dari bahu Rio.


"pada siapa? apa ini? apa maksudnya?" batin Shasya berkecamuk. dia berfikir Rio telah jatuh cinta pada oranglain. dan hatinya belum siap untuk menutup kembali pintu yang telah terbuka.


"waaw, sama siapa?" bibir Shasya bergetar sambil berusaha mengeluarkan senyum yang terlihat dipaksakan.


Melihat reaksi Shasya, Rio langsung tersenyum dan menyentil keningnya.


"hahaha.. mukanya biasa aja kali Sya. kenapa? kamu gak rela aku pacaran sama orang lain?"


deg.


"mati aku, dia tau isi hatiku" batin Shasya.


Rio menggenggam erat tangan Shasya lalu menatapnya tajam. kemudian dia menarik nafas panjang.


"Sya, aku jatuh cinta sama kamu. dari awal kita ketemu. kamu berhasil membuatku hanya fokus padamu. terima kasih telah mengisi hari-hariku." ucap Rio sungguh-sungguh.


Hati Shasya bergetar. Dia tak tau harus berkata apa. disatu sisi dia senang ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. disisi lain dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak pacaran setidaknya sampai dia lulus dari sekolahnya.


"Sya, aku jatuh cinta sama kamu. tapi aku tak memintamu untuk jadi pacarku. Aku tau kita masih sekolah. kamu punya prinsip dan aku hargai itu. maaf karna telah mencintaimu secara tiba-tiba." Rio menjelaskan ketika dia sadar perubahan besar terjadi diwajah Shasya. terlihat sangat jelas raut kebingungan diwajahnya.


Shasya tersenyum. dia semakin yakin Rio berbeda dengan semua lelaki yang mendekatinya dulu. Rio tak pernah memaksakan apapun pada Shasya. dia merasa baru kali ini seseorang berkata jujur padanya tanpa mengharapkan status atau apapun darinya.


"sebenarnya aku gak tau apakah aku jatuh cinta padamu atau tidak, tapi aku akan merasa kehilangan jika kamu tak ada. kamu lelaki terbaik yang pernah aku temui.Aku sayang sama kamu Ri. terima kasih karna kamu selalu ngertiin aku". ucap Shasya sambil mengelus lembut tangan Rio. dan kembali menyandarkan kepalanya dipundak Rio.

__ADS_1


"bagaimana kalau seandainya aku tak sebaik yang kamu fikirkan sya?"


"maksudnya?"


"bagaimana kalau aku hanya memberikan harapan palsu untukmu? bagaimana jika setelah hariini aku pergi ninggalin kamu?"


"itu hak mu Ri, kau tulus atau tidak padaku itu hakmu. sedangkan aku hanya percaya apa yang aku rasakan. bagiku ucapanmu ini terlihat sangat jujur. selebihnya terserah padamu. sederhana aja, kalaupun pada akhirnya kau meninggalkanku yang bisa kulakukan hanyalah mengontrol rasa kecewaku padamu agar tak berlanjut dan tak terlalu mempengaruhi hidupku."


Shasya menatap mata rio dengan tajam,


"aku tau kok, kamu mau kembali ke sulawesikan??"


Rio terkejut ternyata Shasya sudah tau arah dari pembicaraan mereka. dia mengangkat kepala Shasya dan mengarahkan wajah Shasya kepadanya. dilihatnya mata indah Shasya kini mulai mengeluarkan bulir-bulir air yang hampir jatuh ke pipi.


"maafkan aku kalau akhirnya perasaan ini menyakitimu" Ucap Rio sambil menghapus airmata Shasya.


"aku tak apa, toh kamu juga kembali kesana hanya untuk sementara. dan aku akan menunggumu. kamu lelaki pertama yang buat aku berharap waktu berhenti saat ini." Shasya menghela nafas.


"maafkan aku Sya, bukan hanya kepergianku yang akan menyakitimu. namun kenyataan bahwa aku telah memiliki pacar. itulah yang terberat untuk hubungan ini. aku tak bisa melepasnya karna aku masih menyayanginya dan aku juga tak mau membohongi hatiku karna mencintaimu" Rio membatin.


"sudah lah Ri. tak perlu difikirkan. aku tak apa. pergilah!" Shasya menyadarkan Rio dari fikirannya yang semakin kalut.


"terimakasih dan tunggulah aku. setelah semua selesai aku akan datang padamu" ucap Rio dan membelai lembut Rambut Shasya.


"kapan kamu pergi?"


"besok pagi"


"yasudah ayo kita pulang."


"iya"


Shasya dan Rio bergerak menuju mobilnya lalu mengendarainya pulang kerumah. hariini adalah hari terakhir mereka bersama. mereka tak tau pasti kapan mereka akan bertemu kembali.


tak ada cerita apapun selama mereka di dalam mobil. hening, benar-benar hening.


sesekali Rio melirik ke arah Shasya yang tengah larut dalam fikirannya lalu mengelus lembut rambut Shasya.


"mungkin terlalu berat bagi Shasya karna harus merasakan jatuh cinta dan perpisahan di saat bersamaan. apalagi Ini kisahnya yang pertama." ucap rio dalam hati


Shasyapun masih berusaha tenang mencoba menguatkan hatinya.


"ya sudahlah, mungkin memang takdirnya harus begitu. toh nanti juga akan ketemu lagi." batin Shasya.


selang beberapa saat akhirnya mereka tiba dirumah Shasya. sebelum turun, Tiba-tiba Shasya memeluk Rio. dan hal itu cukup membuat Rio terkejut. lalu dia membalas pelukan Shasya.


"sudahlah. ini bukan akhir lo Sya, aku janji akan kembali" Rio berusaha menenangkan Shasya.


"yasudah ayo turun, kamu pamit juga sama ibu ya" ucap shasya manja.


"iya iya, lepasin dulu pelukanmu"


Shasya melepaskan pelukannya lalu turun dari mobil lalu berjalan dan tentunya diikuti oleh Rio. Rio mengucapkan beberapa kata untuk pamit pada ibu Shasya karna besok dia akan kembali ke sulawesi. setelah selesai dia kembali ke mobil dan melajukan mobilnya pulang kerumahnya.


sedangkan Shasya terus berdiri didepan rumahnya dengan mata yang masih tertuju ke arah mana rio pergi. meskipun kini mobil rio sudah tak terlihat lagi, Shasya tak bergeming dan masih terus menatap lurus.

__ADS_1


"Sya..sya... kan sudah dibilangin jangan jatuh cinta. galau sendiri kan jadinya" ucap shasya kepada dirinya sendiri.


__ADS_2