
sedangkan Syifa yang telah mengucapkan kata-kata penguntit kini sedang fokus bermain ponsel seolah tak ada kejadian apapun. dia menganggap ucapannya hanyalah becanda semata. dia tak sadar kalau satu kata darinya benar-benar berpengaruh untuk ketenangan dan kelangsungan hidup temannya.
*****
Shasya kini telah siap untuk pergi ke kampusnya. tak mau berlama-lama lagi Shasya dan Syifa langsung berangkat bukan menuju kampusnya, namun menuju kafe di dekat kampusnya karena kini mereka sedang merasa lapar.
mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang sepi. beberapa saat kemudian, Shasya dan Syifa telah tiba di kafe tersebut. mereka memilih duduk di dekat pintu kaca yang mengarah ke jalan raya agar mereka lebih leluasa melihat ke luar.
setelah duduk, Syifa mengangkat tangannya memanggil pelayan.
"kau ingin makan apa?" tanya Syifa pada Shasya.
"nasi goreng saja. minumnya green tea"
"oke"
"mas, nasi gorengnya dua green tea nya satu dan fresh milk nya satu"
setelah mereka memesan, pelayan tersebut langsung meninggalkan mereka untuk menyerahkan daftar pesanan kepada koki. setelah koki selesai memasak, pelayan tersebut langsung mengantar pesanan ke meja mereka.
kini makanan telah tertata di meja. Shasya dan Syifa makan dengan lahap. sambil sesekali bercanda tawa.
*****
Bima dan Andi telah keluar dari ruangan kelas. mereka berdua telah menyelesaikan kelas paginya.
"Bim, gue laper. makan dulu yuk" ucap Andi.
"gue juga laper, tapi gue gak mau makan di kantin kampus. kita ke kafe depan aja ya"
"yakin loe bisa jalan sampai ke sana?"
"loe kira gue anak Mami. gak mungkinlah karena luka sekecil ini gue jadi gak bisa jalan."
ucap bima kesal.
"loe bilang hanya luka kecil, tapi karena luka itu loe bisa santai pakai jeans pendek ke kampus. dasar" ledek andi
"terserah loe deh. sudahlah jangan banyak cakap. loe mau ikut atau enggak?"
"oke oke. ayo kita kesana. dasar wanita" oceh andi
"sial, loe itu yang wanita"
Bima dan andi berjalan dari ruangan kampusnya menuju kafe. ketika mereka tiba di kafe, mata andi dan bima langsung tertuju pada dua orang wanita yang tengah makan.
"itu kan si eceng gondok sama si rumput" ucap Andi yang masih tak tau siapa nama asli kedua wanita itu.
sebenarnya Bima pernah bilang nama si eceng gondok adalah Shasya. tapi berhubung andi tak terlalu peduli dengan Shasya, dia jadi lupa dan tetap memanggil Shasya dengan nama pada saat orientasi yang lalu.
__ADS_1
"kita samperin yuk" ajak bima.
"jangan" tolak andi.
"loh ada apa? bukannya loe tertarik dengan temannya Shasya?" Bima mengerutkan alisnya heran.
"maksudnya jangan sampai tak jadi. hahaha"
"serius gue pengen banget jitak kepala loe" ucap bima kesal.
"woles kali Bim, emosian banget sih. sudahlah ayo kita kesana"
mereka berjalan memasuki kafe tersebut dan langsung duduk di kursi kosong yang ada pada meja Syifa dan Shasya. ketika melihat Bima, Shasya langsung terigat kata-kata Syifa saat masih di rumahnya. seketika bulu kuduknya merinding. apalagi saat ini Bima dengan santainya duduk di sampingnya tanpa permisi yang berhasil membuat Shasya semakin takut.
melihat perubahan di wajah Shasya. Syifa langsung membuka suara.
"kalian mau apa kesini? aku sama temanku sedang makan, tolong singkirkan apapun hal yang menjijikkan yang kalian rencanakan. atau paling tidak tunggu kami sampai selesai makan." ucap Syifa dengan nada tingginya.
"kami tak ada maksud apapun kok, kami hanya numpang duduk karena kami juga saat ini sedang kelaparan dan tentu saja kami kesini hanya ingin makan." jawab andi.
"di sana banyak meja kosong, kenapa harus ke sini sih?" tambah Syifa lagi.
"karena kami maunya duduk disini, ada masalah?"
"jelas masalah besar. aku gak percaya sama kalian berdua. jujur saja, aku curiga kalau nanti kalian akan melempar kecoa lagi ke magkuk kami disaat kami lengah."
"kalau bagimu itu sangat mahal, kenapa harus kau berikan pada kami? seharusnya hadiah itu kau simpan sendiri atau kau pajang pada kotak kaca agar bisa kau pandangi setiap hari."
"kami memberikan hadiah itu kepada temanmu juga ada alasannya"
"apa alasannya?"
"karena hadiah itu dan temanmu sangat mirip. dan tentu saja kau juga sangat mirip dengan salah satu diantaranya."
"kau...."
Syifa dan andi berdebat sangat sengit, sedangkan pelaku pemberian hadiah yakni Bima malah asyik memilih pesanan. begitu juga Shasya masih sibuk degan fikiran-fikiran ketakutannya karena bima saat ini berada di sebelahnya.
"sudahlah, itu sudah berlalu. kalian tenanglah" ucap Shasya berusaha memberanikan diri untuk melerai perdebatan Syifa dan Andi.
"hey, kau selesai kelas pada jam berapa?"
bima bertanya pada Shasya.
"eh, eemmm.. ja, jam empat sore kak" jawab shasya dengan gugup dan kini tangan Shasya mulai berkeringat.
"kau kenapa? sakit? kok mukanya pucat gitu kaya habis melihat hantu" bima kembali bertanya pada Shasya.
bagaimana mungkin aku tak pucat seorang penguntit yang mengerikan sedang duduk manis di sebelahku.
__ADS_1
"aku tak apa kak"
"bagaimana mungkin tak apa-apa, dia sedang mengira kakak seorang penguntit sungguhan. padahal tadi pagi aku cuma bercanda" Ucap Syifa dengan santainya seolah dia tau apa yang ada di fikiran Shasya.
"penguntit? Bima?. hahhahaha... kalian benar. wajah si bima memang bukan wajah orang baik yang bisa dipercaya" Andi tertawa mendengar Ucapan Syifa.
"sama banget seperti kamu" tambah Syifa lagi.
"hey rumput, bagaimanapun aku senior kamu. seharusnya kau memanggilku kakak. paham?"
"ogah"
"sudahlah, mau sampai kapan kalian berdebat?" suara Bima seketika menghentikan perdebatan Syifa dan andi.
"bagaimana mungkin kau bisa percaya kalau aku adalah seorang penguntit? astaga Sya.. Sya... anggaplah aku benar-benar seorang penguntit. kenapa kau harus takut padaku jika kau selalu menang pertandingan karate?" oceh bima.
"iya juga, kenapa aku gak kepikiran ya kalau aku bisa ilmu beladiri. hahaha.. dasar aku. eh, tapi bagaimana kakak bisa tau? jangan-jangan kakak beneran...." belum selesai Shasya berbicara, bima langsung memotongnya.
"gak usah mikir yang aneh-aneh. kasihan otakmu bekerja sangat keras. sudah pasti siapapun orang yang datang kerumahmu pasti akan tau karena melihat sertifikat yang terletak di dinding ruang tamu kamu."
"oh iya. aku lupa" Shasya menepuk keningnya.
"aku baru tau meskipun kau memiliki prestasi yang bagus, ternyata kau sebenarnya cukup bodoh. hahaha... dasar bocah" Bima kembali meledek.
"kau yang bocah" Shasya tak mau kalah.
"sudahlah, nanti kita pulang bareng saja. aku akan kerumahmu untuk mengambil motorku." ucap bima.
"kita pulang masing-masing saja. aku sudah janji pulang bareng sama Syifa. nanti kakak datang aja kerumah." shasya langsung menolak ajakan Bima.
"aku tak mau tau, biar temanmu pulang bareng sama andi dan kau pulang bareng aku." oceh bima tegas
"ogah. aku akan pulang sama Shasya" Syifa langsung memantahkan ucapan bima.
"Sudahlah, kami sudah selesai makan. jadi berhubung kakak-kakak baru selesai memesan makanannya, kami tinggal dulu ya." Syifa menarik tangan Shasya untuk berdiri.
"tapi fa kita kan.." belum selesai Shasya menolak, syifa langsung memberikan kode dengan menggunakan matanya.
ketika mereka telah berada cukup jauh dari andi dan bima, Syifa langsung berteriak.
"terima kasih traktirannya ya kak. hahaha..."
Syifa dan Shasya kemudian berlari meninggalkan kafe menuju kelas.
melihat tingkah kedua wanita itu, Andi dan Bima sontak ketawa.
"astaga, mereka benar-benar lucu sob." ucap andi masih tertawa.
"ya.. mereka sangat lucu dan manis" tambah bima.
__ADS_1