
kedengarannya kamu kayak tau banget rasanya di Php-in? emang kamu udah pernah mengalami itu?" tanya bima.
"pernah" ucap shasya. matanya seketika memandang langit. dia seolah menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya. melihat perubahan wajah Shasya, bima menjadi semakin penasaran dan ingin mencari tau lebih jauh tentang Shasya.
"waah, mukanya biasa aja kali kak" Shasya menepuk lengan bima perlahan ketika dia melihat perubahan wajah dari bima.
"serius wanita seperti kamu juga pernah di php-in?" suara bima terdengar seolah tak percaya.
"kok kaget gitu kak, emang salah ya kalau aku pernah jadi korban php? aku wanita biasa tau kak." ucap shasya.
"gak salah sih. tapi masa iya sih wanita secantik dan secerdas kamu bisa di tinggal begitu saja. bodoh banget laki-laki itu." ucap bima sambil menggelengkan kepalanya.
"gak usah sok gombal kak, gak mempan juga buat aku. aku gak bakal berdebar seperti fans-fans kakak." Shasya dan bima tertawa.
"kakak tau enggak terkadang aku merasa kakak juga tipe pria tukang php lo" ucap Shasya sambil tersenyum manis ke arah bima.
deg...
jantung bima seketika berdegup kencang. ini pertama kalinya dia melihat Shasya tersenyum semanis dan setulus itu padanya.
"kenapa begitu?" tanya bima dengan senyuman menyelidik.
"kakak itu mudah banget dekat sama perempuan, mudah bikin nyaman dan..." shasya menghentikan ucapannya. kedua tangannya memegang pipi Bima lalu mengarahkan wajah bima mendekat ke wajahnya. bima menelan ludah, prilaku Shasya berhasil membuatnya gugup. bahkan jiwa kelaki-lakiannya meronta.
"nah ini dia yang menarik, kakak itu menggemaskan banget tau!" ucap Shasya sambil menggerakkan kepala bima ke kanan dan ke kiri lalu mencubit pipi bima gemas. Shasya berusaha menahan tawanya ketika melihat raut malu di wajah bima. Shasya melepaskan tangannya lalu memalingkan wajahnya agar bima tak melihatnya tertawa.
"astaga sya, sumpah ya... mengobrol bareng kamu aku merasa seperti seorang wanita" Bima tertawa sambil menggelengkan kepala.
"aku semakin tak yakin jika kamu pernah di phpin. aku malah percaya kalau kamu lah tukang phpnya" tambah bima lagi.
"bukan cuma kakak yang gak percaya, aku sendiri juga tak percaya. tapi begitulah kenyataannya. dan itu benar-benar menyakitkan. kakak tau, dengan bodohnya terkadang aku masih merindukannya. tapi entahlah, hidupkan harus berlanjut. jadi gak baik kalau galau gak jelas kaya gitu. " Shasya berusaha tersenyum. namun bima tau dibalik senyuman shasya terdapat luka yang cukup dalam.
"Rio?" tanpa sadar bima menyebutkan nama lelaki yang masih berusaha Shasya lupakan.
shasya melebarkan matanya karena terkejut.
"kok kakak tau?" tanya Shasya bingung.
"kan ibu kamu cerita sama aku waktu kita di mall" jawab bima santai.
__ADS_1
"oh iya, aku lupa. hehehe" Shasya tertawa sampil menggaruk kepalanya karna malu.
"gimana ceritanya? kok dia bisa php-in kamu sampai buat kamu menggalau berkepanjangan seperti ini?" bima bertanya berusaha mencari tau seperti apa hubungan antara Shasya dan Rio.
"mau tau aja atau mau tau banget?" Shasya berusaha menggoda bima.
"ah elah ini bocah. orang sudah serius juga." ucap Bima kesal.
"haha.. habisnya kakak kepo sih. udah ah, gak usah bahas masa lalu aku kak. gak penting!"
shasya berusaha menghindar. dia belum siap menceritakan tentang Rio kepada siapapun. bahkan Syifa yang merupakan sahabat baiknya saja belum pernah mendengar cerita apapun tentang Rio darinya.
"baiklah kalau kamu belum mau bercerita. tapi kapanpun kamu mau cerita aku siap dengerin kok." ucap bima. terdengar ketulusan yang terpancar dari suara rendahnya yang berhasil membuat hati Shasya mendadak tenang.
"oh iya kak, kakak belum menjawab pertanyaanku tadi loh" oceh Shasya seolah kesal.
"pertanyaan yang mana?" tanya bima.
"ih kak bima ngeselin deh. tentang kak andi loh. dia beneran suka sama Syifa atau cuma sekedar main-main?"
"mana aku tau, tapi kelihatannya sih dia beneran tertarik kepada Syifa. sudahlah biarkan saja mereka. kalaupun nanti andi berbuat yang tidak-tidak kepada Syifa, aku akan membantumu membotaki si andi." ucap bima sambil bercanda.
Shasya melihat dengan tatapan serius ke arah bima. lalu mereka tertawa bersama. ternyata fikiran mereka kompak memikirkan bagaimana konyolnya wajah andi jika memiliki kepala yang botak.
Shasya menggoyang-goyangkan kakinya dan menatap lurus ke depan.
"bagaimana dengan kamu?" tanya bima.
"hmmmm.. maksud kakak?" Shasya bertanya kembali.
"maksud aku bagaimana dengan kamu? apakah kau tak ingin menemukan jodoh di dunia kampus?" tanya bima terus terang.
"oh, entahlah kak. yang jelas kalau tentang cinta pertama sepertinya aku sudah gagal. jadi aku tak tau bagaimana cara memulai suatu perasaan yang berakhir dengan kata jodoh." jelas Shasya dengan pandangan yang masih lurus ke depan tanpa melihat bima.
"yaampun Sya, kau berbicara tentang istilah jodoh, apakah kau tak pernah mendengar istilah lainnya? bukankah banyak yang bilang cinta pertama dari seorang wanita memang jarang berhasil? karena pada hakikatnya cinta pertama itu memiliki tugas untuk mengajarkan wanita bagaimana arti dari kebahagiaan saat bersama, rindu saat berjauhan dan sakit ataupun menderita saat kau kehilangan. jadi jika kau menemukan cinta berikutnya kau akan lebih menghargainya." bima menjelaskan berusaha meyakinkan Shasya untuk mencoba kembali membuka hatinya.
"apa benar seperti itu kak? tapi kenapa rasa sakit yang aku alami jauh lebih besar dari rasa bahagiaku?" Shasya menatap bima dalam. terlihat matanya kini mulai berkaca-kaca.
"cuma satu hal yang membuatmu merasa sakit yang berlebihan seperti itu." bima membalas tatapan Shasya. lalu tangan bima memegang lembut tangan Shasya.
__ADS_1
"keikhlasan kamu Sya. itulah yang kurang dari cinta pertamamu." ucap bima sambil tersenyum.
"hmmmm.. ya, mungkin kakak benar. baiklah mulai sekarang aku akan mencoba untuk mengikhlaskannya. aku juga sudah bosan merasa sakit sendiri seperti ini." Shasya membalas senyum bima.
"jangan terlalu memaksakan diri sya, biarkan saja semua mengalir apa adanya. kau tak perlu berusaha keras untuk melupakan. karena jika kau berusaha melupakan maka kau harus kembali mengingat semua yang ingin kau lupakan. pada akhirnya kenangan itu akan kembali menyakitimu. paham?"
bima melepaskan tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Shasya. lalu dia mengarahkan tangannya ke atas kepala Shasya dan mengelusnya dengan sangat lembut.
"iya kak, terima kasih. kalau melihat kakak yang seperti ini aku baru percaya kalau kakak itu orang penting di kampus kita" ucap Shasya sambil meledek bima.
"kau..." bima menyelentikkan jarinya ke kening Shasya.
hahaha....
tawa mereka berdua menggema di depan gedung fakultas. Shasya merasa sedikit lega. beban berat yang dipikul oleh hatinya seperti mulai berkurang karena perbincangan sederhana antara dia dan bima.
benar kata kak bima, mungkin sekarang saat yang tepat untuk melepaskan dan mengikhlaskan Rio. maafkan aku karena hari ini akan menjadi hari terakhir penantianku Ri.
Shasya membatin.
"ya sudah, saat ini apa yang harus aku bantu?" tanya bima yang berhasil membuat Shasya terkejut.
"maksud kakak apa?" tanya Shasya bingung.
"bukankah kau bilang dari tadi kau mencariku karena kau ingin meminta pertolonganku untuk tugasmu?" bima mengerutkan keningnya seolah tak percaya Shasya melupakan tujuan awalnya.
"astaga, aku lupa. hahaha... yasudah kita ke perpustakaan dulu ya kak. aku mau minta tolong bantuin mencari topik yang bagus untuk dijadikan bahan angket. setelah itu kakak isi satu angket kemudian kakak harus membantuku menyebar dan mengumpulkan angket ke senior yang lain. oke!" jelas Shasya dengan semangat.
"terus apa keuntungan buat aku karena telah menolong kamu?" oceh bima.
"keuntungan? tentu saja ada. aku akan merubah pandanganku kepada kakak. dari orang yang sangat menyebalkan menjadi orang yang sedikit menyebalkan. hahaha..." ledek Shasya.
"haha.. sudahlah. aku tak akan pernah menang melawanmu" ucap bima mengalah.
"ayo kita ke perpus sekarang." Shasya bangkit dari duduknya dan menarik bima ke arah yang salah.
"emangnya kamu tau perpus dimana?" tanya bima sambil menghentikan langkah Shasya.
"yaampun" shasya menepuk keningnya.
__ADS_1
"haha.. dasar wanita bar-bar. perpustakaan itu arahnya ke sana." Rio memegang bahu Shasya dan memutar tubuh Shasya ke arah perpustakaan yang sebenarnya.
Shasya berjalan dengan cepat sambil menahan malu diikuti oleh bima yang terus tersenyum menahan tawa sambil sesekali menggelengkan kepalanya.