
Pagi ini hujan menari indah membasahi bumi. Aku yang kini telah bersiap untuk pergi ke sekolah hanya bisa memandang jauh keluar jendela.
"yaampun kenapa harus hujan sih." batin Shasya.
lima menit telah berlalu, hujan masih menjalankan tugasnya membasahi bumi.
"gimana nih, hujannya gak reda-reda. gimana mau berangkat sekolah? udah gitu hari ini Shasya ada kuis pula, gak mungkin dong kalau Shasya gak masuk sekolah hari ini bu." ucapku meracau.
"gak boleh gitu sya, hujan itu anugerah jadi harus disyukuri. lagian kalau hujan gini kan biasanya ujian atau kuis bakal diundur kok" ucap ibuku berusaha menenangkan.
"kalau guru lain iya bu, tapi tak berlaku bagi pak bambang."
Shasya menyandarkan kepalanya ke jendela.
Tiiiin....tiiin....tiiiiiin.....
Suara klakson mobil terdengar sangat keras di depan rumah mengagetkanku.
"siapa itu?" tanyaku penasaran.
Tiba-tiba ponselku berdering, kulihat nama yang tertara dilayar ponsel.
"Tuan tampan? mau apa dia menelpon pagi-pagi begini" tanyaku dalam hati.
sebenarnya aku masih sering tersenyum geli setiap kali melihat nama yang dituliskan Rio diponselku tapi entah kenapa aku enggan untuk menggantinya.
Tak pikir panjang lagi, aku mengangkat telpon Rio.
"ada apa?" tanyaku dengan nada tinggi.
"woles kali Sya, ambil payungmu dan lari kearah mobil di depan rumahmu sekarang. aku akan mengantarmu dengan aman ke sekolah" ucap Rio
"serius itu mobil kamu? gapapa nih aku nebeng?"
"udah cepetan, nanti kamu telat"
"syifa gak ikut?"
"dia udah dianter ayahnya tadi. udah ayo cepat!"
__ADS_1
"iya iya bentar"
Aku langsung berlari mencari payung. setelah menemukan payung, aku bergegas mengambil tas dan bekalku tak lupa aku pamit kepada ibuku lalu pergi keluar rumah menuju mobil. sebenarnya wajah ibuku sedikit berubah mengisyarakan tanda tanya.
aku yakin sekali yang mau ditanya ibu adalah kenapa tiba-tiba Rio menjemputku. jadi aku bergegas mempercepat langkahku keluar rumah. tentu saja untuk menghindari pertanyaan ibu tersebut.
Rio membuka kaca mobilnya dan tersenyum kearahku. Aku membalas senyumnya dan segera membuka pintu mobil kemudian masuk kedalam mobil.
"halo, cantik banget sih pakai seragam gitu. pantes banyak yang suka" Kata Rio membuka percakapan sekaligus menyalakan mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke sekolahku.
"wah kamu baru tau ya? astaga kan emang aku cantik, terus kenapa? suka? maaf gak tertarik!" Ucapku sedikit menyombongkan diri.
"hahaha kamu itu ya, lucu banget sih. jangan kegeeran deh. aku itu cuma suka ngomong jujur. kalau bagus ya kubilang bagus, kalau jelek ya ku bilang jelek. dan.... kalau cantik tentu saja kubilang cantik" ucap Rio sambil melirik kearahku kemudian telunjuknya menyentuh hidungku.
"apaan sih. jangan pegang-pegang." kataku sambil memegang hidungku yang tadi disentuh oleh jari Rio.
Rio tersenyum.
"serius deh sya, kamu itu gemesin banget. udah deh gak usah sok galak gak pantes buat muka imut kayak kamu".
"sekali lagi kamu ngomong kayak gitu aku bakal turun"
"ya.. enggak lah" kataku sambil tertawa.
Aku melirik ke arah Rio, terlihat Rio masih tersenyum dengan matanya tetap fokus kearah jalan.
"apa liat-liat? jangan melirik-lirik kayak gitu, aku gak bakal tanggung jawab jika nanti kamu mendadak jatuh cinta" ujar Rio yang membuatku langsung membuang muka dan menatap jendela.
"pede banget sih kamu. gak mungkin ding aku jatuh cinta pada kecebong kayak kamu. paling juga kamu yang udah jatuh cinta sama aku. udah deh jujur aja gak perlu sok gak mau gitu". ucapku bercanda sambil memukul lengan Rio.
"iya, emang aku suka. terus masalah buat kamu?" ucap Rio,
sejenak aku terdiam dan mencerna ucapan Rio. melihat perubahan wajahku Rio langsung mengacak-acak rambutku menggunakan tangannya.
"gak usah mikir yang aneh-aneh. otak kamu gak kecilmu gak akan mengerti. jadi jangan lakukan perbuatan sia-sia".
" ih enak saja, sudah cukup jangan pegang-pegang! ntar rambutku jadi berantakan tau. " kataku kesal sambil memukul tangan Rio.
"kamu pulang jam berapa?" tanya Rio.
__ADS_1
"jam 1, kenapa?"
"aku jemput ya"
"tak mau, aku bisa pulang naik angkot"
" maaf nona, aku tak menerima alasan apapun. ingat, jangan berani-berani kabur atau pulang duluan. kalau sampai kamu ngilang nanti aku bakal datang ke rumahmu terus aku temui ibu kamu dan mengaku bahwa aku adalah pacarmu" tegas Rio kemudian menatap kerahku.
"tapi kalau kamu mau seperti itu juga boleh sih. silahkan saja kabur aku tak keberatan"
"kamu gila? jangan mimpi deh. aku tak mengizinkan kamu berbicara kepada ibuku. paham!" kataku melawan.
"terserah aku dong. lagian aku cuma mau ngomong dan mengaku pacarmu ke orangtua kamu. tenang aja, aku bakal berperilaku sopan kok di depan ibu kamu. dan bisa dipastikan ibu kamu akan setuju" kata Rio kembali mengacak-acak rambutku.
"hahaha.. tenang aja kali sya, woles. aku cuma bercanda" tambahnya ketika melihat mataku mulai melotot ke arahnya.
"awas aja kalau kamu beneran berani ngomong yang tidak-tidak aku bakal memukul kepalamu sepuluh kali dari sebelah kanan dan sepuluh kali dari sebelah kiri. paham!" kataku sambil menunjuk kearah Rio.
Rio tertawa terbahak-bahak sambil menggelengkan kepala. bukannya takut, Rio malah merasa ancamanku itu lucu. seperti anak kecil yang melawan ketika diancam tak diperbolehkan makan es krim.
Tak berapa lama kamipun tiba di sekolahku. aku langsung mengambil payung yang kuletak di kursi belakang lalu aku membuka pintu mobil. akan tetapi tiba-tiba tangan kiri Rio memegang tanganku dan menahanku.
"tunggu aku ya Sya, inget jangan kemana-mana. hari ini kamu harus membayar ongkos kepadaku karena telah nganterin kamu. oke!" ucap rio kemudian dengan tangan satunya lagi membelai lembut rambutku.
"ongkos apaan? aku tak minta diantar"
"tetap saja kau sudah kuantar. jadi kau harus membayar dengan memberikan waktumu untukku. aku tak menerima alasan apapun."
"iya iya, terus aja perhitungan" ucapku kesal.
"baiklah, kamu udah mengiyakan. aku tak mau ada alasan pembatalan nanti ya. ingat, gak boleh batal. oh iya ancamanku tadi benar-benar berlaku ya."
"cerewet"
"ingat Sya kau telah berjanji" tegas Rio
"terserah!"
lalu Aku turun dari mobil. jujur, aku gak tau harus ngomong apa lagi. sebenarnya aku sedikit kesal namun ada rasa bahagia yang menyelimuti hatiku. bahkan parahnya saat ini debaran jantungku terasa begitu kencang. sangkin kencangnya sampai-sampai aku takut seseorang yang ada di dekatku bisa mendengarnya.
__ADS_1
Dengan langkah seribu aku langsung berlari meninggalkan Rio yang mungkin sedang tertawa merayakan kemenangannya karna berhasil membuatku menuruti keinginannya.