Cerita Julia dan Korea Selatan 2

Cerita Julia dan Korea Selatan 2
Episode 28 / Berkunjung ke Yayasan.


__ADS_3

Berbagai macam insiden terjadi dikeluarga Julia. Itu wajar menurutnya karna ia bukanlah keluarga kecil dengan strata rendah yang mungkin bisa menerima cobaan kecil. Ah tidak, Tuhan maha segalanya. Jangan menganggap semua cobaan yang menimpa kalangan bawah adalah yang termudah. Semuanya dialami dan pastinya sesuai dengan kekuatan manusia itu masing-masing. Tidak memandang strata apapun. Ia pun langsung mengumpat atas dirinya sendiri yang memiliki pandangan begitu menggelikan akan dirinya.


Bagi Julia, keluarga kecilnya adalah segalanya. Jilsoo yang semakin beranjak umur, menggemaskan dan akan tumbuh seperti layaknya anak-anak kecil seumurannya.


Julia dan Jilsoo mengunjungi sebuah Yayasan anak berkebutuhan khusus yang tidak jauh dari pusat kota Seoul. Suasana di Yayasan yang begitu menyenangkan. Ratusan anak-anak bermain sesamanya dengan berbagai penyakit yang dideritanya dan sebagian dari mereka banyak menderita kanker baik stadium awal mau pun stadium akhir. Diantara banyaknya anak-anak yang bermain, terkadang mereka kesulitan karna harus bisa bermain dengan selang infus yang menempel dipunggung tangannya, kursi roda dan tongkat sebagai penopang tubuhnya.


Lihatlah, mereka yang masih kecil saja diberi cobaan yang begitu kerasnya. Wajah yang seperti malaikat ini mungkin lebih dahulu dijemput Tuhan ketimbang kita yang sehat walafiat ini. Tapi, apakah mereka pernah


mengeluh sekali saja?? Dilihat dari wajahnya, kita dapat berpikir bahwa mereka baik-baik saja. Apalagi yang bisa mereka mengerti tentang hidup ini??


“Adik kecil, apa kau tahu Surga itu dimana??” Seorang anak kecil berbalut perban disebelah matanya mengajak Jilsoo berbicara.


“Surga???” Jilsoo bahkan bertanya balik, tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh seseorang dihadapannya ini.


“Kata Ibu Suster, Surga itu indah. Tapi aku tidak percaya.” Ujarnya hingga menarik perhatian Jilsoo.


Umur Jilsoo telah beranjak 4 tahun. Sudah pandai berbicara dan menangkap apa yang diajarkan. Sifatnya yang santun dan tak banyak bicara ini agak terlihat berbeda dari anak-anak seumurannya yang periang dan penuh dengan permainan. Julia dan Kyungsoo berfikir bahwa anaknya seperti orang dewasa. Tak banyak bicara namun lebih menyukai tindakan.


Jilsoo menghampiri Ibunya yang sedang asyik bercengkrama dengan seorang suster dan menarik ujung baju sang Ibu.


“Ya sayang” Julia melirik ke arah sumber yang telah menarik ujung bajunya.


“Ibu. Surga itu apa??” Julia melirik Jilsoo dengan tatapan heran. Suster yang kebetulan berada disampingnya langsung tersenyum mendengar pertanyaan Jilsoo. Julia menggerakkan tubuhnya dan meraih tubuh kecil


Jilsoo, mengangkat dan menggendongnya hingga terukirlah senyuman hangat diujung bibirnya.


“Hhmmm apakah Ibu boleh menceritakannya?? Ini sangat panjang” Ungkap Julia yang membuat Jilsoo mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Ada sebuah bangku panjang disisi bangunan yang tidak jauh dari mereka berada. Julia berjalan menuju tempat santai tersebut sambil menggendong Jilsoo. Setelah duduk, Julia menyandarkan Jilsoo disebelahnya,


barulah cerita dimulai.


“Surga itu indah nak. Semua manusia yang berkelakuan baik akan tinggal disana selamanya.”


“Apakah Soo akan tinggal disana juga??” Julia memandangi anaknya dengan raut wajah sedih. Kenapa hal itu ia sebutkan?? Membuatnya terenyuh saja, pikirnya.


“Jilsoo akan tinggal disana nanti kalau Jilsoo jadi anak yang baik dan suka menolong orang” Jawab Julia.


“Bukankah kita sering menolong orang?? Ibu dan Ayah suka memberi makanan dan uang kepada mereka” Sambil melihat ke sekeliling area yayasan yang dipenuhi anak-anak.


Julia terdiam sesaat. Apakah anaknya terlalu pintar?


“Nak. menolong orang itu tidak hanya mengenai makanan dan uang. Tindakan pun juga. Contohnya membersihkan duri dijalanan. Membantu kakek nenek yang mau menyebrangi jalan dan masih banyak lagi.”


“Kenapa Jilsoo bertanya itu kepada Ibu??”


“Kakak yang menggunakan perban disebelah matanya bilang padaku bahwa ia tidak percaya Surga.”


Julia tersenyum. Baginya biarkan anak-anak mengetahui ilmu dengan lingkungannya sendiri.


Hari beranjak sore. Dari pagi Julia dan Jilsoo bertanggang ke Yayasan tersebut dan seperti biasanya membagikan makanan yang biasa Julia pesan untuk anak-anak.


“Apakah besok kau akan kemari???” Tanya seorang anak yang memiliki perban disebelah matanya sambil menarik gaun Jilsoo yang akan menaiki mobil. Anak itulah yang sebelumnya bertanya mengenai surga kepada dirinya. Jilsoo pun berbalik melirik ke arah sumber suara yang bertanya kepadanya.


“Soo kesini kalau Ibu juga kesini” Julia mendengar kedua anak tersebut hingga ia ikut nimbrung.

__ADS_1


“Bibi akan kesini kalau ada waktu ya sayang” Julia membungkukkan diri mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kedua anak kecil tersebut.


“Benarkah?? Kapan??” Tanya anak tersebut.


“Tidak pasti. Mungkin minggu depan”


“Baiklah, Bibi janji akan datang lagi minggu depan. Siapa namamu??” Sambung Julia kembali.


“Ga Eun, Lee Ga Eun imnida” Sambil membungkukkan badan ke hadapan Julia. Hati Julia tersentuh karna sikapnya yang sopan dan sebelah matanya yang bercahaya. Ia tidak begitu mengenal anak tersebut. Tapi dari luka


yang ia dapat dari sebelah matanya. Ia yakin anak itu mengidap kanker mata. Julia pun bangun dan menatap kearah Jilsoo yang tidak memalingkan tatapannya kearah Ga Eun.


Seorang kepala Yayasan yang ikut mengantar kepergian Julia dan Jilsoo pun mendekati Ga Eun “Ga Eun na, Bibi sangat sibuk. Jika Bibi punya waktu pasti ia akan kesini” Ujar kepala Yayasan tersebut.


“Ibu kepala, nanti saya akan menghubungi anda kembali” Pamit Julia dan Jilsoo pun memasuki mobil dibantu sang bodyguard. Mobil pun melaju meninggalkan Yayasan, berjalan menjauh hingga tampak kecil dan menghilang dari


kejauhan.


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung dan baca juga


·         Love in Seoul City.


·         Future Princess.

__ADS_1


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


__ADS_2