
Thor nggak sengaja nabur bawang ke sini.
Ga Eun menguping dari balik pintu kepala Yayasan. Ia terdiam menunggu sambil mengingat inti pembicaraan antara Ibunya dan Ibu Kepala Yayasan. Ia tahu, pasti donor untuk matanya sulit didapatkan. Ia memiliki antrian untuk bisa mendapatkan donor mata yang sesuai. Ia duduk bermenung sambil memainkan jari jemarinya hingga sang Ibu pun keluar dan terhenjak kaget saat melihat Ga Eun dihadapannya.
“Oemma sudah siap?? Aku baru saja datang” Ujarnya tersenyum seakan-akan tak mendengar kejadian barusan. Sang Ibu pun mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan menuju taman untuk makan siang. Sang Ibu telah
membawa makanan kesukaan Ga Eun. Mereka bercengkrama dan menceritakan hari-harinya saat berada di Yayasan sambil bergandengan tangan menuju kursi taman.
Ia pun menceritakan pertemuannya bersama seorang anak bernama Jilsoo. Ia menceritakan rupa Jilsoo yang sangat imut, cantik dan pendiam persis seperti dirinya dan ia pun mendapat jeweran kecil di pipi dari sang Ibu
saat ia menyamakan kecantikan Jilsoo dengan dirinya. Dan ia pun meringis kesakitan.
Ga Eun mencicipi makanan yang dibawakan oleh Ibunya. Mereka duduk dibangku taman sambil mencicipi makanan yang berada dihadapan mereka. Hidangan Sup rumput laut dan tumisan daging ayam kesukaannya.
“Ibu, aku kan tidak berulang tahun sekarang?? Kenapa ibu membawakanku Sup Rumput Laut??” Tanyanya yang hanya dibalas kode “Sudah makan saja.” Si Ibu pun langsung menyuir kecil-kecil daging ayam dan meletakannya diatas mangkok makan milik Ga Eun. Sungguh, ia rindu saat-saat seperti ini. Makanan kesukaan yang jarang ia dapatkan sewaktu ia sehat dulu. Ayam yang hanya bisa digantikan oleh seekor ikan asin yang lumayan hanya untuk dirinya seorang.
Bagaimana ibunya dengan lihai memisahkan antara daging dan tulang dan memberikannya setelah itu untuk dirinya sendiri. Ibunya yang selalu mengalah terhadapnya dan bekerja membanting tulang tanpa pernah sekali pun mengeluh. Ia cukup bahagia hidup hanya berdua tanpa seorang Ayah yang laritanpa bertanggung jawab atas hidupnya dan ibu. Sungguh, ia tak butuh sosok itu.
Ditengah-tengah itu, Ibu Ga Eun mengeluarkan benda pipih dari saku baju lusuhnya sambil mengetik sesuatu dan melihatkan layar ponsel kepada Ga Eun “Ibu tidak lagi bekerja dikuli bangunan. Ibu sudah mendapat pekerjaan yang lebih baik. Ibu sekarang jadi Asisten rumah tangga dan gajinya lumayan” Ga Eun membaca isi tulisan pendek dari balik ponsel ibunya.
“Bukankah Ibu juga bersih-bersih di Appartmen seseorang?” Tanya Ga Eun.
Sang Ibu pun kembali mengetik sesuatu dan melihatkannya lagi kepada Ga Eun. “Pekerjaan itu masih ibu lakukan. Tapi ini tempatnya berbeda lagi. Teman ibu yang menawarkan. Sepetinya pemilik appartmen itu seorang selebritis pria. Ibu akan mendapatkan tanda tangannya untuk Ga Eun jika ibu bertemu dengannya”
__ADS_1
Ga Eun sebenarnya tidak setuju ibunya bekerja keras seperti ini untuk dirinya. Apalagi menjadi kuli bangunan. Pekerjaan sulit seperti itu lebih cocok jika laki-laki yang mengerjakannya. Setiap Ibunya datang menjenguknya, ia selalu menanyakan mengenai pekerjaan itu. Apakah Ibunya masih bekerja disitu dan jawabannya pasti berbohong. Tapi entahlah kali ini apakah Ibunya kembali berbohong atau tidak.
“Ibu tidak berbohong dengan Ga Eun kan??” Tanya Ga Eun menyoroti mata sang Ibu secara intens. Dan sang Ibu pun mengangguk secara cepat.
“I-ibu” Panggil Ga Eun lembut. Sang Ibu pun melirik kearah anaknya seketika.
“Apakah aku boleh berhenti minum obat??” Tanyanya yang mulai memecah kesunyian.
Sang Ibu menatapi anaknya tertegun. Ia mulai merasakan kejolak sakit saat mendengar pilu anaknya seperti sebuah permohonan.
“Hiks” Ga eun terisak. Sudah lama ia ingin protes mengenai hal ini “Obat itu. Semakin lama semakin banyak. Bahkan ukurannya semakin besar. Hiks hiks”
“Ga hiks Eun selalu ter-sedak sa-at meminumnya hiks” Pipi Ga Eun memerah, bukan karna panas. Tapi tak tahan menahan gejolak emosinya dan ingin menumpahkan kekesalan dan air matanya beriringan dan mengadu kepada
“B-bisakah a-ku tak meminum-nya la-gi??? Hiks hiks” Ga Eun selalu menyeka air matanya tiap kali tejatuh melintas diatas gundukan pipi yang semakin lama semakin tirus.
A-aku selalu menim-bang be-rat badanku setiap hari kar-na hiks semakin lama celanaku sema-kin long-gar hiks hiks. Kata suster aku akan gemuk kembali jika aku rajin meminum o-bat, tapi ken-apa obat yang ku minum selalu ber-beda ti-ap minggunya bah-kan” Ga Eun tersedak dan terdiam tak dapat melanjutkan protesnya yang menyiksa dan serasa menusuk ulu hatinya.
Setelah sekian detik mengumpulkan keberanian dan menahan diri, ia pun menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya sekali lagi agar ibunya tak berkecil hati “Aku akan rajin minum obat Ibu. M-maafkan aku hiks.”
Wanita paruh payah yang lusuh itu pun memeluk sang anak. Ia pun menangis memeluk anaknya dan mereka pun berhambur terisak didalam pelukan.
“Mian Hae huhuuuhuuu hiks” Ujar Ga Eun dalam pelukan Ibunya yang semakin erat.
__ADS_1
Sang Ibu hanya menjawab dengan gelengan. Andai ia dapat memutar balik waktu. Ia akan berupaya menjaga makanan anaknya yang bergizi seperti anak-anak lainnya. Ayahnya yang tidak bertanggung jawab dan
pergi meninggalkan dirinya setelah tahu dirinya hamil. Hingga saat ini ia tak lagi tahu dimana batang hidung pria tersebut setelah berhasil merenggut mahkotanya.
Tidak hanya ini cobaan yang ia dapat. Ia pernah diusir dari keluarganya karna ketahuan hamil, lalu berlari mencari pondok kecil untuk dirinya sendiri. Hingga ia kembali diusir tetangga karna hamil diluar nikah dan tidak memiliki suami. Cukup banyak yang ia hadapi hingga sekarang ia kembali dihadapkan dengan cobaan yang paling berat. Anaknya yang mengidap penyakit kanker disebelah matanya.
Ga Eun harus melepas kepergian Ibunya. Kini sudah waktunya sang Ibu kembali bekerja untuk mengumpulkan biaya operasi untuk dirinya. “Oemma” Panggil Ga Eun terisak-isak saat akan melepas Ibunya pergi. Sang Ibu memberikan tanda agar ia menghapus air matanya dari jarak beberapa langkah dari dirinya.
“Hhuhhuuuuu”
Tangis Ga Eun berhamburan saat Ibunya perlahan-lahan pergi dari balik gerbang Yayasan. Ia mengantar sang Ibu pergi. Begitulah setiap saat ketika ia harus kembali berpisah demi kesehatannya. Terkutuklah penyakit ini yang membuat ia dan ibunya saling berjauhan menjaga jarak.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
· Future Princess.
Cerita Julia dan Korea Selatan
__ADS_1