Cerita Julia dan Korea Selatan 2

Cerita Julia dan Korea Selatan 2
Episode 39 / Aku harus bagaimana?


__ADS_3

“Dokter Oh silahkan memberikan laporan langsung disana” Ujar Julia dengan paras wajah sedikit marah.


“Tanggal 03 September pukul 09.00 pagi ada pasien dengan riwayat memar dibelakang kepala. Pasien reflek tidak bernafas dan langsung diberi alat bantu oksigen.” Semua mata tertuju pada si Dokter kepala IGD. Mereka bingung kenapa dokter tersebut harus memberi laporan didepan Presdir dan istrinya.


“Kedua pupil mata membesar dan disaat itu juga dilakukan CT Scan”


Hasil CT Scan langsung tampak dimonitor proyektor sehingga semua yang hadir bisa dapat melihatnya.


“Bisa kita lihat kalau itu adalah SAH, ia tidak bernafas sendiri tanpa reflex vital stem yang artinya kemungkinan besar ini adalah mati otak”


“Lalu kenapa jika ia mati otak??” Tanya wakil kepala bedah Jantung yang membuat Julia dan rekan-rekannya jengkel.


“Pasien itu sudah datang dari pagi dan langsung diberi tindakan. Hasil diagnosa juga sudah keluar. Saya pikir bagian terkait mungkin sudah melakukan jadwal pertemuan untuk membahas pasien tersebut. Tapi sampai pagi ini jadwal itu belum ada” Sambungnya sambil melihat ke Wakil bedah Jantung tersebut. Ketua bedah Jantung yang berada disampingnya jengkel melihat bawahannya yang tidak bisa melihat kondisi dan malah mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai pangkatnya.


“Kami juga sudah memeriksa ulang dengan pemeriksaan Neurologi namun hasilnya sama. Tidak adanya pernapasan spontan atau reflek batang otak membuat hasilnya tidak mempengaruhi. Sesuai yang kita tahu jika


melihat riwayat hasil CT Scan dan EEG pasien, bisa dipastikan bahwa pasien ini tidak lagi memiliki harapan.”


“Cukup dokter Oh” Panggil Julia menghentikan dokter tersebut. Kalimat terakhir membuatnya sedikit terluka.


“Wakil Dirut bagaimana keputusanmu terkait yang disampaikan dokter Oh?” Tanya Julia menohok. “Bukankah jadwal itu harusnya sudah ada setelah mendapat diagnosa?” Sambungnya lagi yang membuat Wakil Dirut


terdiam.

__ADS_1


“Ingat kita bekerja dibidang Jasa kesehatan, artinya kita memberikan pelayanan terbaik tanpa memilih seluk-beluk orang tersebut dan tanpa membuat mereka menunggu lama. Anda sebagai dokter tentunya bukan setahun dua tahun bekerja disini bukan ?”


“Maafkan kami Nyonya. Untuk menentukan jadwal rapat mengenai kasus ini paling lama dilakukan sebelum 2 hari lalu barulah kita bisa menentukan hasil keputusannya dalam rapat” Ujar Wakil Dirut.


“Berapa lama jarak antara pengumuman jadwal dengan diadakannya rapat wakil Dirut??” Tanya Julia menohok lagi.


“Paling lama 3 hari setelah jadwal keluar Nyonya”


“Dia bukan Nyonya. Dia presdirmu sekarang” Kyungsoo segera menyela pembicaraan Wakil Dirut yang selalu menyebut Julia dengan sebutan Nyonya. “Ahh Maafkan saya tuan” Ia segera meminta maaf dan Kyungsoo


hanya membalas dengan anggukan ringan.


“Tiga hari ?? Dokter Oh coba jelaskan kenapa harus menunggu 3 hari setelahnya baru bisa mendapat putusan.” Tanya Julia sedikit lebih keras. Semua dewan mulai cemas dengan sikap Julia. Ia bukan wanita yang dapat diperlakukan dengan remeh, sama dengan yang dipikirkan Wakil Dirut dan para antek-anteknya.


“Sebenarnya jika mengikuti protocol. Tidak perlu menunggu putusan selama 3 hari. Jika sudah dapat dipastikan, maka hasil sudah bisa diputuskan langsung saat itu juga atau besok setelahnya jika tidak memungkinkan” Menurut Dokter Oh. “Karna kita khawatir akan membuat wali pasien menunggu lama” Sambungnya.


Para dokter pun saling berdiskusi akhirnya sambil melihat kembali hasil riwayat pasien. Tidak butuh waktu lama putusan pun keluar.


“Saya sebagai Wakil Dirut dan Dirut sementara. Sesuai peraturan kita, memulai komite untuk menentukan kematian otak. Kita sekarang menyimpulkan apakah ada yang keberatan dengan putusan ini??” Tanya Wakil Dirut


kepada seluruh anggota.


“Tidak”

__ADS_1


“Tidak” Masing-masing bagian menjawab dengan serentak dan sama.


“Baiklah. Dengan rapat komite putusan ini saya mengumumkan bahwa pasien a.n Lee Ga Eun dinyatakan mati otak” Putusan pun telah diberikan. Dokter Oh lega. Namun Julia merasa sedih. Ia seperti ikut merasakan yang


dirasakan oleh si Ibu tersebut.


“Ouch???” Ibu Ga Eun terdiam sesaat mendengar hasil putusan yang disampaikan juru bicara rumah sakit menggunakan kalimat tangan bersama dokter Oh. Ia melihat kebawah sebentar lalu beralih melihat kembali kearah


dokter. Bukankah ia bisa dioperasi??, bukankah ia hanya sakit mata saja dan bisa disembuhkan??. Ia berjanji akan membayar berapa pun asalkan anaknya dapat melihat sempurna kembali.


“Maafkan saya Ga Eun Oemma. Ga Eun kelihatan sudah tidak berdaya” Tutur sang Dokter iba. Inilah putusan yang paling sulit bagi dirinya setiap kali harus menyampaikan luka menyakitkan kepada wali pasien. Meski inilah pekerjaannya, tapi nalurinya tetap saja ingin ikut berkata kasar. Ia bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan manusia dengan tangannya. Ia juga manusia biasa. Wanita yang ia lihat mulai rapuh dihadapannya itu mulai menangis histeris didepan anaknya yang tidak berdaya.


“Anakku, apa yang harus aku lakukan??. Anakku, aku harus bagaimana denganmu?. Anakku bisakah kau jangan tinggalkan Ibu?? heughh”


Julia yang melihat dari balik pintu kaca IGD juga tak dapat menahan haru. Air matanya berurai linang. “Anakku, ibu disini” Seluruh perawat, pasien dan dokter ikut terhanyut dalam kesedihan diruangan tersebut. Suasananya tak lagi seperti ruang IGD pada umumnya, melainkan tempat peristirahtan terakhir.


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung dan baca juga


·         Love in Seoul City.

__ADS_1


·         The Future Princess.


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


__ADS_2