
“Seolma!? / Jangan-jangan?” Gumamnya lalu kemudian dia segera geleng-geleng tidak percaya. Dipikirannya terbesit hal-hal belum tentu terjadi. Walau pun menurutnya Ga Eun pasien dengan ciri-ciri mati otak, ia tidak mungkin berfikir kalau Ga Eun adalah incaran Julia untuk menjadi pendonor anaknya. Ahh tapi itu bisa saja mungkin. Jika Jilsoo bisa disembuhkan melalui anak itu, maka ia bisa menyelamatkan 1 nyawa.
Dokter Oh akhirnya memberanikan diri mendekati Julia. Biar bagaimana pun Julia adalah orang tua pasiennya. Saat ia akan mendekati Julia, bodyguard itu pun memantapkan posisi dengan menyiapkan kuda-kuda untuk
melindungi Julia. Julia yang merasa langsung melihat kea rah sumber yang membuat si bodyguardnya bergerak.
“Selamat malam nyonya” Sapanya sambil membungkukkan badan. Julia pun juga begitu.
“Apa nyonya tidak bisa tidur makanya memutuskan untuk berkeliling rumah sakit??” ia awalnya bingung seperti apa kalimat yang cocok untuk berbicara dengan seorang yang begitu penting dan terkenal ini. Meski pun sulit akhirnya ia mulai membuka kalimat. Belum pernah Ia sebedebar ini pikirnya.
“Apa kau yang merawat anak ini?” Tanya Julia kepada dokter disampingnya.
Si dokter pun memutarkan badannya kearah pasien yang ditunjuk oleh Julia.
“Benar nyonya, ia adalah pasien saya.” Ujarnya.
“Ia adalah temannya anakku. Aku pernah sesekali bertemu dengannya di Yayasan kanker milik kami, Jilsoo pernah menyebut namanya sesekali.” Dokter Oh mendengarkan cerita Julia. Ia jadi tahu kenapa Julia berdiri sebelumnya dihadapan pasien tersebut.
“Apa sakitnya parah?? Aku dengar dia belum dioperasi. Apa ada hal lain kenapa ia belum dioperasi?” Julia masih ingin bertanya lebih, tapi ia memutuskan untuk bertanya satu per satu dahulu.
“Saya belum berani mengatakan yang sebenarnya Nyonya karna para dewan masih belum memutuskan jadwal pertemuan penentuan terkait pasien ini” Dokter oh terdiam sesaat.
“Gadis kecil ini sudah tidak punya harapan lagi” Gumamnya sambil tertunduk.
Julia reflek melihat kearah dokter tersebut. “Maksudmu??” Tanya Julia memastikan.
“Saat dibawa kerumah sakit ini, kondisi pasien dalam keadaan tidak sadar. Kepala belakang terbentur keras dan pingsan. Efek ringan biasanya pasien hanya akan muntah. Tapi kondisinya berbeda dengan Ga Eun. Kedua
__ADS_1
pupil matanya membesar. Itu berarti ada masalah dengan otaknya.”
Mimik wajah Julia semakin berbeda. Ia terkejut mendengarnya.
“Karna ia tidak bisa bernafas sendiri jadi ia perlu alat bantu. Pada hasil CT Scan terlihat jika otaknya pengalami pendarahan. Dokter lain juga akan berfikir hal yang sama pastinya jika mereka melihat hasil
tersebut”
Bibir Julia mulai bergetar. Apa yang ia alami belum apa-apa dibanding Ibu yang sedang tertidur lelap itu.
“Saya hanya kepala Dokter IGD, yang bisa mengambil keputusan atas gadis kecil ini hanyalah para dewan saat pertemuan tersebut”
Tapi para dewan yang ia temui hari ini tampak seperti santai dan tidak ada tanda seperti orang yang punya pekerjaan. Itu artinya para bawahannya bekerja dengan santai tanpa mengedepankan SOP. “Hufftttt” Julia
menghembuskan nafas gusar. Tampaknya ia belum maksimal melihat kinerja para bawahannya. Perlukah ia turun tangan saat ini pikirnya.
“Ya Nyonya” Jawabnya sambil melangkah sekali.
“Tanyakan kebagian kantor perawat apakah jadwal penentuan pasien Lee Ga Eun sudah keluar atau belum, sesudah itu laporkan padaku” Perintahnya.
“Baik Nyonya”
“Maaf nyonya, tadi malam saya sudah memastikan ke bagian perawat kalau jadwal itu belum keluar” Dokter Oh segera memberi tahu sebelum bodyguard tersebut akan menuju kantor perawat. Dan respon Julia cukup
sangar mendengarnya.
“Sampaikan kepada Wakil Direkturnya untuk menghadap keruanganku pagi ini”
__ADS_1
Hampir saja ujung bibir Dokter Oh tertarik. Ia bahagia akhirnya orang konglomerat dan nomor satu dirumah sakit ini turun tangan untuk pasiennya. Memang kedudukan dan uang bisa mengalahkan segalanya meski pun tidak
semua. Dan pagi itu juga para dewan kocar-kacir berdatangan kerumah sakit. Ada yang belum sempat menyisir rambut. Ada juga yang sibuk memasang ikat pinggang. Sebagian dari mereka ada yang bertemu dilobby sambil mengeluhkan berita pagi ini.
“Aku langsung kemari tanpa sempat sarapan karna katanya Presdir meminta kita untuk rapat mendadak. Apa anaknya meninggal?” Tanya wakil kepala bedah Jantung kepada rekannya.
“Huss jaga mulutmu. Ini rumah sakit” Bantah rekannya yang sesama dokter.
Semua dewan rumah sakit berkumpul diruang kerja Presiden rumah sakit yang pernah dipakai Julia saat Kyungsoo tidak ada. Sebagian dokter terkejut dengan keberadaan Dokter Oh yang ikut duduk ditempat itu. Jika rapat dengan Presiden jarang melibatkan kepala IGD setahu mereka. Apa dokter tersebut baru naik jabatan?? Pikir mereka bingung.
Tidak lama kemudian pintu presdir terbuka menampilkan sosok Kyungsoo dan Julia beserta Chen dan Kei dibelakangnya. Seluruh dewan langsung berdiri dan memberi salam hormat. Yang duduk dipodium pertama adalah Julia, bukan Kyungsoo. Berarti rapat tersebut Julialah yang akan mengaturnya. Sedangkan Kyungsoo duduk disamping paling pertama berhadapan dengan Wakil Dirut sekaligus menjabat Dirut sementara.
“Saya sengaja mengumpulkan para dewan disini terkait adanya laporan kelalaian” Tutur Julia
Semua direksi terkejut termasuk Wakil Dirut sendiri. Ia bingung karna belum ada laporan apa-apa terkait masalah yang terjadi dirumah sakit kecuali anak Kyungsoo dan Julia yang dirawat disini. Mereka saling melihat satu sama lain dengan mimik kebingungan dan bertanya. Sedangkan Kyungsoo hanya bersantai merilekskan punggungnya ke kursi. Ia cukup menjadi penonton saja karna mungkin tidak kuat melihat istrinya murka nanti.
“Dokter Oh silahkan memberikan laporan langsung disana” Ujar Julia dengan paras wajah sedikit marah.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
· The Future Princess.
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan