
Seorang pengasuh dari pintu belakang dengan piring berisi cemilan buah ditangannya. Ia berjalan hendak bermaksud mengantarkannya untuk Jilsoo dan ia pun meletakannya dihadapan gadis kecil tersebut setelahnya.
Rupa si pengasuh yang sebelumnya tersenyum rang berubah saat melihat bintik-bintik merah ditangan Jilsoo saat Jilsoo hendak mengambil potongan buah Mangga dipiring yang baru saja dibawa untuknya. Pengasuh itu pun reflek
memegangi tangan Jilsoo saat itu juga.
“Nona, kenapa dengan tangan anda??” Tanyanya dan Jilsoo pun menoleh ke arahnya dengan darah segar yang mengalir kecil dilubang hidungnya. Pandangannya kearah pengasuh pun semakin terlihat gelap dan teriakannya pun tidak begitu jelas terdengar.
“Nonaaa!!” Si Pengasuh menjerit khawatir.
Jilsoo segera dilarikan dirumah sakit milik Kyungsoo group yakni khusus rumah sakit kanker. Kedatangan pemilik rumah sakit terbilang sedikit hiruk pikuk. Segala macam pejabat turun langsung baik yang sengaja mencari jilatan maupun tidak. Kepala dokter IGD segera memeriksa kondisi Jilsoo. Ia melihat seluruh bintik-bintik kecil ditubuh gadis kecil tersebut. Mereka mulai mengambil sampel darah untuk diuji laboratorium dan segala jenis pemeriksaan.
Seluruh pejabat rumah sakit berkumpul di IGD tepatnya dimana Jilsoo dilakukan perawatan.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya. Kami mendengar bahwa anak tuan dan nyonya sedang dibawa kesini. Maafkan kedatangan kami yang….”Kyungsoo tiba-tiba memberi isyarat untuk berhenti bertele-tele didepannya dengan mengangkat sebelah tangannya.
“Segera rawat anakku” Dada dan bahu Kyungsoo terlihat naik turun mengkondisikan sesaknya yang tidak beratuan. Ia buru-buru melarikan anaknya saat tahu Jilsoo pingsan dengan beberapa cairan darah dihidungnya. Julia termenung. Hanya satu sisi pandangannya saat ini kearah Jilsoo. Ia melihat satu persatu alat mulai menyakiti anaknya. Ia tidak tega. Ia mengedipkan kedua matanya beberapa detik, menyiapkan hatinya yang mulai teriris
dang menganga.
“Segera pindahkan nona Jilsoo ke kamar VVIP, cepat!!” Perintah direktur rumah sakit segera.
__ADS_1
Saat ranjangnya akan mulai ditarik dan dibawa keluar IGD, Julia tidak sengaja menoleh kearah ruang tetutup dengan pintu kaca disekelilingnya. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah papan nama milik pasien lain yang ia baca. “ Lee Ga Eun”
Pikirannya secara kilat mengingat sosok teman baru Jilsoo disebuah Yayasan yang ia ingat. Julia pun selangkah dua langkah mendekati ruangan tersebut untuk melihat lebih jelas siapa yang ada diatas ranjang tersebut karna tidak terlihat jelas. Saat ia telat hampir mendekati gagang pintu. Kedua manik Julia sedikit membesar. Lalu sesosok wanita paruh baya datang dari arah sampingnya dan menghentikan langkahnya saat melihat sosok
Julia.
Julia pun mengalihkan perhatiannya kearah wanita tersebut yang langsung dibalas dengan sapaan membungkuk ala negeri ginseng. “Anyeongaseo” tanpa suara Ibu Ga Eun memberi salam. Julia pun membalas dengan anggukan ringan.
“Nyonya, ayo kita pergi” Tutur seorang pengawal yang berada dibelakang Julia.
“Ahh” Julia buru-buru pergi saat tahu tujuannya datang ketempat itu. Ia berlari mengejar Jilsoo yang dibawa ke ruang VVIP.
Jilsoo mendapat perawatan khusus diruang VVIP dengan peralatan super canggih ditubuhnya. Julia yang setia menunggu disamping ranjangnya menunggu dengan harap-harap cemas sambil memegang sebelah tangan
Sampai saat ini Julia belum menangis. Entah kenapa air matanya tumben sekali tidak absen dipipinya.
“Yaya. Aku masih belum bisa pergi. Undur jadwalnya dan katakan pada menteri Thailand kalau aku tidak bisa hadir”
Julia mendengar sedikit suara Kyungsoo yang sibuk dengan telf genggamnya dengan seseorang dari seberang sana. Julia yakin itu adalah Chen si Sekretarisnya. Karna saat ini Kyungsoo sedang berada dirumah sakit, jadi pekerjaan langsung dialihkan kepada Chen. Julia melirik kearah para petinggi-petinggi rumah sakit yang masih stay didekat Jilsoo.
“Sebaiknya Bapak/Ibu kembali bekerja. Biar suster dan dokter jaga yang berada disini. Terima kasih atas perhatian kalian” Julia berbicara dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia sulit menggerakkan mimik wajahnya karna lelah.
__ADS_1
“Baik Nyonya. Jika ada apa-apa mohon beritahu kami. Kami mohon pamit” Mereka pun serentak membungkukkan diri dan berangsur-angsur meninggalkan ruangan.
“Huffttt untuk apa mereka berlama-lama disini padahal banyak pekerjaan yang harus mereka kerjakan.” Julia menunggu hasil pemeriksaan Jilsoo yang belum kunjung datang. Sebuah sentuhan pun mendarat lembut dibahu
Julia.
“Ia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir” Kyungsoo mencoba menenangkan Julia yang mulai rapuh. Rasa sayang Julia kepada Jilsoo melebihi seorang Ibu kandung. Kyungsoo tahu itu. Julia cukup mendengarkan. Rasanya ia terlalu lelah untuk membalas rasa prihatin Kyungsoo. Karna Kyungsoo memiliki rasa kepekaan yang tinggi, sebuah kecupan pun mendarat diatas puncak kepala Julia.
“Cih. Padahal ia dulunya cuma wanita rendahan. Sekarang berani-beraninya ia mengusir kita dari ruangan tersebut” Sebuah percakapan tidak terlalu alot tersebut terjadi disebuah ruangan Wakil Direkur utama bersama wakil kepala bagian bedah jantung. Tutur kata wakil bedah jantung tersebut terdengar menyindir sosok Julia yang mengusir para pejabat tinggi rumah sakit saat menjenguk anaknya. Sebenarnya bukan mengusir, tapi membiarkan mereka pergi agar anaknya bisa beristirahat tenang.
“Kau tahu?? Seekor burung liar yang biasa hidup dihutan belantara bisa saja dijerat untuk dipelihara karna bulunya yang indah” Gumam wakil dirut penuh dengan makna kiasan.
Wakil kepala bedah Jantung tersebut berbalik kearah Dirut setelah ia sempat membelakanginya sebentar karna sibuk menjelek-jelekkan Julia hingga ia lupa dengan sosoknya yang membelakangi Wakil Direktur Rumah sakit.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
__ADS_1
· The Future Princess.
· Cerita Julia dan Korea Selatan