Cerita Julia dan Korea Selatan 2

Cerita Julia dan Korea Selatan 2
Episode 37 / Menyelamatkan satu nyawa.


__ADS_3

Matahari pun menghilang digantikan bulan. Malam pun menetap. Kondisi rumah sakit masih begitu terasa berbeda. Kehadiran beberapa petinggi dan pejabat pemerintah datang menjenguk Jilsoo.


“Apa sudah ada panggilan untuk rapat putusan pasien a.n Lee Ga Eun” Tanya kepala dokter kepada seorang perawat receptionis. Si perawat segera melihat jadwal disebuah benda pipih persegi empat dihadapannya.


“Dokter belum pulang???” Tanya siperawat bingung. Bukan menjawab pertanyaan si Dokter, ia malah bertanya sebaliknya. Si Dokter kembali setelah dapat beristirahat sebentar beberapa menit. “Ehemm” Ia hanya menjawab dengan dehaman. Si perawat hanya bisa terdiam. Setelah beberapa detik memperhatikan computer si perawat pun dengan lekas memberi jawaban. “Masih belum ada jadwal untuk rapat dok”


“Huuffttt” Setelah dehaman yang ia lakukan, kini ia menghela nafas gusar. Si Dokter melirik kearah ranjang Ga Eun yang sedang didampingi dengan setia oleh Ibunya. Dengan wajah lelah, si Ibu terus memperhatikan anaknya dengan kondisi sekarat. Ia pun merasa tambah kecewa dengan pihak menejemen rumah sakit yang masih sibuk dengan anak pemilik rumah skait tempat ia bekerja. Ia merasakan atmosfir luar biasa dengan adanya mereka


dirumah sakit ini.


Ia bahkan hampir sulit menyesuaikan dirinya didepan Kyungsoo karna wajah pria itu sedikit tegas dan kaku. Arrghhh ingin rasanya ia melakukannya semua sendiri tanpa menunggu embel-embel pejabat rumah sakit. Ia melihat kearah jarum jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 09.00 malam. Harusnya ia pulang sore hari tapi ia tidak bisa karna ada satu pasien yang harus ia tangani hingga tuntas.


Ia pun memutuskan untuk menginap dirumah sakit saja sambil melihat kondisi para pasien lainnya. Toh ia sangat malas untuk pulang dan tidak tahu harus melakukan apa dirumah. Dia adalah pria single yang mencintai pekerjaannya. Menolong manusia dengan identitas Dokter adalah pekerjaan yang istimewa untuknya. Baiklah, ia pun memutuskan untuk beristirahat saja diruang kerjanya.


Kepergian si dokter membuat si perawat yang tadi merasa kesal “ahh dia begitu cuek. Untung saja tampan” Gumamnya.


Julia kelelahan karna sampai malam ini ia terus menerima banyak orang yang menjenguk anaknya.


“Kalau begitu saya dan istri permisi nyonya dan tuan. Semoga Jilsoo cepat sembuh. Saya akan membantu mencarikan dokter terbaik dari luar negeri” Ucap penjenguk selanjutnya sambil membungkukkan tubuhnya dengan

__ADS_1


sopan dan serentak.


“Terima kasih atas kedatangannya pak Walikota” Ujar Julia.


Dan akhirnya Julia memerintahkan untuk tidak menerima tamu seorang pun karna ia tidak ingin membuat Jilsoo terganggu.


“Jangan lagi menerima tamu baik siapa pun. Aku lelah, Jilsoo juga harus beristirahat. Mereka bahkan berani membahas kerjasama disaat seperti ini??” Pekiknya dengan kecewa berat.


“Maafkan aku” Tutur Kyungsoo merasa bersalah. Ia pun mendekat dan memegang kedua bahu Julia dan memijatnya dengan ringan.


Karna rasa penat yang dirasa, Julia dapat tertidur dengan posisi duduk disamping ranjang Jilsoo. Meski pun tidak nyaman, tapi matanya terlanjur redup disana.


Namun beberapa jam kemudian ia terbangun dan segera mengalihkan perhatiannya kearah Jilsoo. Ia lagi-lagi kecewa karna kondisinya masih tetap sama seperti yang sebelumnya. Tadi ia berharap jika ia tidur sebentar, mungkin saja Jilsoo akan bangun karna sudah lama ia tertidur, tapi ternyata tidak. Kedua maniknya tidak lagi merasa kantuk. Waktu menunjukkan pukul 01 tengah malam.


Julia tidak peduli dengan bodyguard tersebut karna ia mulai terbiasa. Bodyguard yang mengikuti menyamakan langkahnya dengan Julia. Tidak cepat, tidak juga terlalu lambat asal beliau masih berada dalam jangkauannya. Tubuh tinggi tegap dan atletis syarat untuk bisa menjadi pelindung atau bodyguard. Ia mengikuti kemana Ibu muda cantik tersebut melangkah.


Beberapa lorong terlihat sepi karna banyak pasien yang sudah terlelap kecuali perawat dan dokter jaga. Setiap bertemu dengan Dokter atau perawat, mereka langsung memberi salam bungkuk. Bukan karna mereka tahu


Julia adalah istri pemilik rumah sakit, melainkan memang begitulah etikanya.

__ADS_1


Julia melangkah keruang IGD. Ia berjalan lebih pelan menuju sebuah tempat dan berhenti tepat didepan ruang hibrida yang dibatasi dengan tirai plastik. Ia melihat sosok perempuan paruh baya yang ia temui tadi pagi saat tiba dirumah sakit. Ibu itu terlelap disamping putri kecilnya. Rasanya bukan hanya ia saja yang merana, tapi ibu itu juga. Melihat kondisi anaknya yang dipenuhi dengan alat membuat ia ikut bersedih.


Dokter Oh, dokter yang merawat Jilsoo dan Ga eun terlihat berkali-kali memutarkan badannya ke kiri dan kanan. Ia ingin memastikan arah apa yang bisa membuat ia tertidur. Setelah lelah melakukan itu dengan hasil nihil, ia pun bangun tiba-tiba.


“Sial” umpatnya. Ia menarik baju dokternya dari gantungan dan segera memakainya. Karna tidka bis atidur lagi, ia memutuskan melihat kondisi pasien saja di IGD dan ruang VVIP tempat Jilsoo diperiksa. Pertama ia akan ke ruang VVIP dulu, barulah ia keruang IGD.


Setelah selesai mengecek kondisi Jilsoo, ia berbalik menuju Instalasi Gawat Darurat. Ia terkejut dan terhenti dari jarak jauh saat melihat sosok Julia dan bodyguardnya. Ia melihat istri bos besar tersebut memperhatikan pasiennya dengan wajah sendu dan lelah. Ia tidak mengerti ada hubungan apa Julia dengan anak pasiennya.


“Seolma!? / Jangan-jangan?” Gumamnya lalu kemudian dia segera geleng-geleng tidak percaya. Dipikirannya terbesit hal-hal belum tentu terjadi. Walau pun menurutnya Ga Eun pasien dengan ciri-ciri mati otak, ia


tidak mungkin berfikir kalau Ga Eun adalah incaran Julia untuk menjadi pendonor anaknya. Ahh tapi itu bisa saja mungkin. Jika Jilsoo bisa disembuhkan melalui anak itu, maka ia bisa menyelamatkan 1 nyawa.


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung dan baca juga


·         Love in Seoul City.

__ADS_1


·         The Future Princess.


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


__ADS_2