
“Kau tahu?? Seekor burung liar yang biasa hidup dihutan belantara bisa saja dijerat untuk dipelihara karna bulunya yang indah” Gumam wakil dirut penuh dengan makna kiasan.
Wakil kepala bedah Jantung tersebut berbalik kearah Dirut setelah ia sempat membelakanginya sebentar karna sibuk menjelek-jelekkan Julia hingga ia lupa dengan sosoknya yang membelakangi Wakil Direktur Rumah sakit. “Burung liar???” Ucapnya mengulang kalimat Dirut tersebut.
“Hahaha” Wakil dirut tertawa ringan mendengar kalimatnya yang kembali diucap oleh wakil bedah Jantung tersebut.
“Seekor burung liar yang biasa hidup dihutan belantara bisa saja dijerat untuk dipelihara karna bulunya yang indah ”Ia kembali mengulang kalimat tersebut agar wakil bedah itu paham kata-katanya.
Wakil bedah Shin mencerna kalimat itu beberapa detik hingga kedua bibirnya tertarik setelahnya karna baru paham yang dijelaskan oleh pimpinannya tersebut.
“Oho. Kau baru paham sekarang??” Ujar Wakil Dirut mengejek sambil tertawa.
“Hahaha maafkan aku tuan” Ia pun ikut tertawa selanjutnya menertawakan sosok Julia dari belakang. Sungguh enak rasanya menggosipkan seseorang dari kelas rendah tiba-tiba menjadi kelas tinggi.
Kepala IGD masuk kesebuah ruang VVIP tempat dimana Jilsoo dirawat. Ia membawa satu berkas ditangannya dengan mimik wajah terlihat ragu dan takut. Julia melirik kearah si empu yang baru saja datang. Mereka pun berdiri
disudut kamar antara Kyungsoo, Julia dan kepala IGD, dokter yang menangani Jilsoo saat di IGD tadi. “Hasil dari Lab sudah keluar dan beberapa tes lainnya. Kami juga mengulang sampel kembali agar tidak terjadi kekeliruan dan hasilnya tetap sama” Dokter itu pun memberikan hasil tes ke tangan Julia. Julia pun menerimanya dengan baik. Ia memperhatikan hasil tes yang tak ia pahami.
“Jadi. A-apa hasil t-tesnya??” Bibir Julia mulai bergetar.
“Nona terkena kanker darah, Leukimia”
Julia terperosok jatuh kelantai setelah mendengar penjelasan kepala IGD. Kyungsoo pun segera memegang kedua bahu Julia. Menenangkan Julia yang sudah goyah.
“Akh” Julia menutup rapat-rapat kedua matanya hingga buliran bening jatuh kepipinya.
__ADS_1
“Sayang?!” Ujar Kyungsoo sambil membenarkan posisi Julia yang hampir kehilangan kesadaran. Dokter itu pun juga turut membantu dan duduk mensejajarkan posisinya. Karna tidak kuat Julia pun dipapah ke kursi untuk
beristirahat.
“Biar aku saja yang mendengar penjelasan dokter. Kau beristirahatlah” Julia tak kuat mendapati hasil dari Dokter. Ia meremas kedua sisi rambutnya dengan kuat karna kesalnya. Apakah selanjutnya ia akan kehilangan lagi??
“Kau yakin sudah mengeceknya dengan benar??” Tanya Kyungsoo didepan pintu kamar anaknya. Ada beberapa bodyguard yang tampak berdiri tegap disetiap sisi lorong tersebut.
“Uji sampel kami lakukan dua kali tuan. Sehingga kami yakin bahwa ini tidak akan salah.” Jawab si Dokter.
“Lalu bagaimana supaya ia bisa sembuh??” Tanya Kyungsoo menyidik ke arah dokter. Si Dokter hampir saja terlihat gugup. Jika ia kelihatan gugup dihadapan Kyungsoo. Mungkin saja ia akan disantap dan dilumat habis-habisan setelah ini.
“Nona Jilsoo diketahui tidak menyimpan darah tali pusar. Perut nona juga mengalami pembengkakan yang membuat organ hati dan limpa rusak. Kami akan melakukan Kemoterapi kepada pasien dan melihat perkembangannya selama berkelanjutan.”
“Bagaimana kalau itu tidak berhasil??” Tantang Kyungsoo.
Kyungsoo memikirkan kata-kata keluarga kandung yang keluar dari mulut dokter kepala IGD ini. Jilsoo adalah anak adopsi. Ibunya meninggal, dan Ayah kandungnya masih belum diketahui siapa. Keluarga dari pihak Ibu kandungnya apalagi.
“Arrgghhh” Kyungsoo sedikit kesal dan kacau. Julia akan semakin tidak berdaya jika ia tahu kondisi sebenarnya. Ia pun frustasi.
Dokter kepala IGD mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Ia baru tahu kondisi keluarga Jilsoo yang sebenarnya adalah anak angkat. Saat ia meremas kepala dan rambutnya, seluruh perawat dibuat bingung dengan tingkahnya.
“Ada apa dokter??” Tanya salah satu perawat.
Ia pun melihat kearah sumber suara. Dia berfikir mungkin untuk membatasi privasi keluarga Kyungsoo walau pun sesama tenaga medis di satu tempat kerja.
__ADS_1
“Hubung biro transplantasi untuk mencarikan donor sum-sum tulang dan hati untuk pasien Jilsoo”
“Jilsoo??? Anaknya Tuan Kyungsoo pendiri rumah sakit ini???” Tanya perawat terkejut lebay.
“Kenapa tidak dari orang tuanya saja dok??” Teriaknya saat dokter itu mulai meninggalkan tempat dengan wajah sedikit lelah.
“Kau carikan saja apa yang kuminta” Balasnya dengan sedikit teriak karna posisinya yang agak jauh dari tempat si perawat tersebut.
“Baik dok”
Seluruh rumah sakit sibuk karna kehadiran anak Kyungsoo dan Julia terutama para petinggi rumah sakit. Mereka sibuk datang bergantian membawa buket bunga, makanan dan lain-lain untuk mencari perhatian keduanya. Mereka hampir melupakan pekerjaan utama mereka dirumah sakit. Seperti contohnya Ga Eun yang masih belum jelas bagaimana hasilnya.
Matahari pun menghilang digantikan bulan. Malam pun menetap. Kondisi rumah sakit masih begitu terasa berbeda. Kehadiran beberapa petinggi dan pejabat pemerintah datang menjenguk Jilsoo.
“Apa sudah ada panggilan untuk rapat putusan pasien a.n Lee Ga Eun” Tanya kepala dokter kepada seorang perawat receptionis. Si perawat segera melihat jadwal disebuah benda pipih persegi empat dihadapannya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
· The Future Princess.
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan