
Ibu Ga Eun tak menampik panggilan suster Yayasan. Ia mencari anaknya kesetiap arah hingga ia terhenti pada sebuah ranjang yang disana terlentang jelas sosok anaknya.
“Uuu..” Sang Ibu segera mendekati anaknya. Ia lalu membelai pipi Ga Eun dengan lembut. Air matanya mulai menggenang dipelupuk mata. Suster Yayasan pelan-pelan mendekat dan meraba pundak ibunya. Ia pelan-pelan menjelaskan kondisi anaknya dengan menggunakan tangan karna Ibu Ga Eun adalah seorang Tuna Wicara.
Setelah suster tersebut menjelaskan kepada Ibu Ga Eun. Ia tertegun sesaat dan menoleh kearah anaknya.
“Huuhuuuuu” Disitu ia tak dapat membendung tangisannya lebih. Hatinya hancur berkeping-keping.
“Aa aa…” Ibu Ga Eun mengecup pipi anaknya.
“Huhuuuuuu heuk, heuk”
Dokter yang menangani Ga Eun terlihat sedang melakukan pembicaraan kepada suster Yayasan disebuah lorong. Karna Dokter tersebut tidak bisa berbicara dengan ibu Ga Eun menggunakan bahasa tangan.
“Karna perlu adanya beberapa pemeriksaan sekaligus rapat dengan pimpinan untuk menentukan kondisi pasien, barulah kami bisa mengabarkan Ibu.”
Si suster terlihat gelisah dan sedih.
“Apakah Ga Eun mati otak dok?” Tanya suster menyelidik.
“Ini masih belum bisa kami tentukan secara cepat. Perlu adanya beberapa pemeriksaan tambahan untuk meyakinkan hasil tes. Kami juga harus melaporkan dan membicarakan ini kepada Pimpinan barulah bisa
ditentukan hasilnya” Lugasnya.
Si suster masih gelisah dan takut. Bibirnya terlihat gemetar sepersekian detik.
__ADS_1
“T-tapi, pasien reflek tidak bernafas beberapa menit. Pupil mata juga membesar. Kondisi kepala belakang juga lebam. Bukankah itu bisa dibilang kondisi seseorang mengalami m-mati otak??” Tanyanya dengan cemas.
“Huuuffttt” Si Dokter menghembuskan nafas gusar.
“S-saya seorang perawat dan lulusan keperawatan medis. Saya juga tahu sedikit demi sedikit walaupun tidak seperti ilmu dokter. Tapi setidaknya itulah biasanya gejala yang muncul dokter” Bibir suster semakin gemetar. Ia mulai tak tahan dan mungkin akan menangis jika ia tidak menjaga erat dinding pembatas tersebut
Sementara tidak jauh dari tempat tersebut. Sepasang manik menatap dengan penuh harap-harap cemas memperhatikan gerak-gerik si Dokter dan suster Yayasan sambil menunggu mereka selesai. Pembicaraan tersebut
tampak begitu alot dan serius hingga ia merasa semakin takut hingga pembicaraan tersebut akhirnya selesai dan mereka pun pergi kearah berlawanan. Suster itu pun kembali menuju ke tempat orang tua Ga Eun.
Ibu Kandung Ga Eun segera menghampiri si Suster dengan terkepoh-kepoh dan menarik kedua tangan si Suster.
“(Apa yang baru saja Dokter itu katakan?)” Ujarnya dengan bahasa tangan.
“Dokter belum bisa memastikan keadaan Ga Eun. Masih ada beberapa tes lagi dan mereka juga harus melakukan rapat dengan pimpinan untuk menyatakan hasil tesnya.” Tentu saja Suster tersebut menjawabnya dengan
Ibu Ga Eun melepaskan kedua genggaman tangannya dengan terkulai lemas. Perasaannya sangat-sangat tidak enak. Entah apa yang akan terjadi dengan anaknya. Demi kesembuhan anaknya, ia ingin langit dan bumi
mendengar permintaan dirinya yang malang ini.
Huhuhuuuu heuk, heuk….
Ibu Ga Eun menangis sepanjang lorong rumah sakit. Menutup mulutnya dan menekan lembut dadanya yang terasa sesak. Mungkin ia hampir kehilangan arah. Mungkin juga ia tak dapat melihat kedepan. Bagaimana jika ia ditinggal ? Dapatkah ia bertahan kedepan tanpa sosok malaikat kecil disisinya ? Semua mata menatap Ibu Ga Eun aneh. Mungkin karena mereka tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Mungkin!.
Lihatlah apakah ia dapat bertahan saat ini dan seterusnya.
__ADS_1
Ibu Ga Eun lelah berjalan berkeliling rumah sakit. Ia hampir saja tersesat karna lingkungan rumah sakit yang sangat luas. Dan ia pun kembali ketempat dimana putrinya dirawat. Saat ia tiba dihadapan putrinya lagi-lagi pertahanannya runtuh. Ia sekuat tenaga menahannya agar tak goyah. Ia yakin bisa saja keajaiban bisa menimpa pada keluarga kecilnya.
“(Ga Eun ah. Ini Ibu)” Percuma saja ia menggunakan bahasa tangan, toh Putrinya tidak dapat melihatnya. Ia hanya mampu mengucapkannya dalam hati saja sambil menahan linangan air matanya. Remuk batinnya remuk sudah.
“Eukhhhhh” Ia kesal. Kenapa ia tidak bisa berbicara layaknya orang normal. Semenjak trauma itu, tiba-tiba mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara dan kaku. Laki-laki yang dicintainya direbut oleh wanita lain. Ia ditinggalkan saat ia tahu bahwa ada benih dalam perutnya. Entahlah lelaki itu tahu atau tidak keberadaan anaknya saat ini. Karna tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua pria yang dicintainya. Akhinya orang tuanya mencarikan wanita lain yang lebih pantas untuk anaknya dan sepadan dengannya.
Semenjak saat itu, ia tahu diri dan mengikhlaskan lelaki tersebut.
Julia dan Jilsoo telah sampai dikediaman. Julia dan Kyungsoo sibuk dengan pekerjaan dan hal lainnya. Sementara Jilsoo duduk ditaman beralaskan kain ala-ala piknik sederhana dibelakang rumahnya yang rindang dengan pepohonan.
Seorang pengasuh dari pintu belakang dengan piring berisi cemilan buah ditangannya. Ia berjalan hendak bermaksud mengantarkannya untuk Jilsoo dan ia pun meletakannya dihadapan gadis kecil tersebut setelahnya. Rupa si pengasuh yang sebelumnya tersenyum rang berubah saat melihat bintik-binting merah ditangan Jilsoo saat Jilsoo hendak mengambil potongan buah Mangga dipiring yang baru saja dibawa untuknya. Pengasuh itu pun reflek
memegangi tangan Jilsoo saat itu juga.
“Nona, kenapa dengan tangan anda??” Tanyanya dan Jilsoo pun menoleh ke arahnya dengan darah segar yang mengalir kecil dilubang hidungnya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
· The Future Princess.
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan