
Ga Eun mengetahui keberadaan Jilsoo dan ia lekas pergi mencarinya.
Ga Eun duduk bersebelahan dengan Jilsoo disebuah bangku taman. Jilsoo memperhatikan wajah Ga Eun yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Sama seperti Jilsoo, Ga Eun juga memperhatikan wajah Jilsoo lekat-lekat.
“Kau terlihat kurusan” Ujar Ga Eun bertanya.
“Kau juga berbeda” Jawab Jilsoo.
“Maksudnya?” Ga Eun bingung.
“Oenni. Matamu terlihat berbeda sebelah. Apakah kau tidak merasakannya?” Ucap Jilsoo.
Ia terdiam sebentar dan mulai menjawab lagi “Aku tahu.” ujar Ga Eun sedih.
Jilsoo melepaskan nafas sedikit gusar. Dirinya masih berharga ketimbang Ga Eun yang hidup seperti kue murahan yang dijual murah pun belum tentu ada yang berminat dan tidak berharga.
Ga Eun mengucek kedua matanya karna seperti ada yang asing.
“Kau terlihat dua” Ujarnya sambil mengulang mengucek mata kembali.
Jilsoo bingung “Kau kenapa oenni ?” Tanya Jilsoo.
Seorang bodyguard yang berada dibelakang Jilsoo sedang menerima panggilan telf dan mematikannya segera setelah percakapan singkat selesai. Si Bodyguard itu pun berjalan menuju Jilsoo “Nona, kita harus kembali
pulang. Tuan besar sedang menunggu dirumah”
“Ayahku sudah pulang?” Jilsoo belum puas disini hingga ia terkejut dengan laporan yang ia terima.
“Kau pulang sajalah. Oenni baik-baik saja. Aku sepertinya harus istirahat. Aku merasa pusing”
“Tolong bawa ia ke kamarnya” Pinta Jilsoo khawatir ke bodyguardnya.
__ADS_1
Bodyguard itu pun menggendong dan membawa Ga Eun menuju kamarnya untuk beristirahat. Setelah itu baru lah ia kembali dan pulang ke kediamannya bersama Julia.
Ga Eun merasa pusing hebat. Dari sebelah matanya terus mengalir air. Tapi ini bukan karna perasaan sedih hingga ia menangis dan mengeluarkan air matanya. Dari bola matanya memang mengalir air begitu saja sedikit demi sedikit hingga bantalnya mulai basah. Lalu beberapa menit kemudian ia mulai meringis kesakitan hingga air mata sebenarnya barulah keluar dikedua matanya.
“O-oemma” Bisiknya disela-sela itu.
Ga Eun semakin pusing dan haus. Ia bangkit pelan-pelan dan ingin mengambil air yang dekat dengan pintu kamarnya. Jalan Ga Eun sangat pelan agar ia tak tumbang. Ia harus melewati beberapa ranjang sebelum sampai
disebuah dispenser air. Nafasnya mulai sesak serta penglihatannya semakin kabur dan sakit kepala hebat tak dapat ia tahan. Ga Eun terjatuh dengan posisi kepala lebih dahulu menghantam besi ranjang temannya.
Waktu menunjukan jam rutin makan obat telah tiba. Setiap suster wajib mengingatkan dan memberikan setiap anak obat kekamarnya masing-masing. Saat ia memasuki kamar Ga Eun, suster selalu masuk dengan nada
ceria dan ramah “Ga Eun ya, waktunya minum o..”
Bang…..
Seluruh nampan yang berisi makanan, obat-obatan dan minuman jatuh seketika dilantai. Suster itu pun segera mendekati Ga Eun karna posisi tidurnya yang tak wajar.
“Ga Eun shi” Sambil menggoyangkan tubuhnya namun tidak ada jawaban.
“Lee Ga Eun” Suster berkali-kali memanggil dan menggoyangkan tubuh Ga Eun namun tetap tidak ada respon hingga ia berteriak memanggil petugas.
“Jeogiyo/permisi.”
Tidak butuh waktu lama. Suara ambulan mendominasi yayasan dan bersiap akan membawa Ga Eun menuju rumah sakit kanker terdekat. Seiring waktu Ga Eun pun tiba dirumah sakit dan dengan segera dibawa menuju IGD
Perawat dan dokter pun segera mengkondisikan keadaan dan membawa Ga eun menuju ranjang pasien.
Ketika stetoskop mulai menyentuh perut hingga naik ke dada, Dokter dengan teliti memeriksa dan mengecek kedua mata Ga Eun.
“Kedua pupil matanya membesar. Siapkan Ct scan dan hubungi walinya” Perintah sang Dokter yang langsung dibalas oleh bawahannya. “Baik dok”
__ADS_1
Seorang suster dari tempat yayasan Ga Eun datang ke tempat Ga Eun diperiksa dalam IGD. Disana dokter langsung menanyakan kronologis kondisi pasien sebelumnya.
“Awalnya aku hanya akan memberinya obat karna memang sudah waktunya ia memakan obat-obatnya. Saat aku masuk ke kamarnya ia sudah dalam kondisi pingsan.” Jawab cemas sang suster.
“Ada bekas lebam dikepala belakang dok” Ucap salah sat perawat laki-laki disana.
“Dok. Pasien tidak bernafas” Wajah sang perawat lainnya gusar dan cemas. Tak butuh waktu lama. Hasil CT Scan telah selesai. Dokter dan perawat yang menangani Ga Eun bersama-sama melihat hasilnya.
“Huffttttttt” Ia menurunkan sejenak pandangannya melihat hasil CT Scan tersebut.
“Ini adalah mati otak.”
“Ha” Sang suster yayasan tak percaya dan seketika membungkam mulutnya sendiri.
“A-andwae/tidak” Jawabnya tak percaya.
Ibu Kandung Ga Eun baru saja tiba-tiba tergesa masuk ke dalam IGD setelah mendapat kabar dari rumah sakit. Wajahnya berkeringat dan sedikit pucat. Ia luar biasa takut dan cemas. Suster Yayasan yang kenal dengan
sosok Ibu Ga Eun menoleh kea rah orang tuanya.
“A-anakku” Gumamnya dalam hati melihat beberapa dokter dan suster berkumpul didepan ranjang sang anak.
“Ga Eun Oemma” Suster terlihat sedih dan mewek.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
__ADS_1
· The Future Princess.
· Cerita Julia dan Korea Selatan