
Hari ini Julia mendapat undangan pergelaran seni lukisan. Seperti biasa, ia membawa Jilsoo ke pergelaran seni tersebut sambil mengajarinya tentang lukisan. Jilsoo tampak mengamati satu persatu lukisan yang terpajang didinding sepanjang ruang sambil ditunggu oleh pengasuhnya dari belakang. Sedangkan Julia sibuk berbincang-bincang dengan beberapa selebritis dipojokan.
Jilsoo segera memegang tangan pengasuh dibelakangnya. Ia mulai pusing dan menggigil “Nona ada apa??” Tanya si pengasuh yang khawatir. Jalannya mulai tak seimbang berusaha menopang dengan tangan pengasuhnya. “J-jangan katakan pada Ibu. K-kita ke mobil s-saja” Ujarnya terbata-bata.
Saat didalam mobil, Jilsoo bersandar pada kursi belakang sambil beristirahat. “Soo akan baik-baik saja. Mana omelet soo dan susu. Soo akan baik-baik saja setelah makan itu” Si pengasuh langsung mengeluarkan kotak bekal dan botol susu yang telah ia siapkan dari rumah. Ia pun memakannya setelah kotak bekal terbuka dengan pelan-pelan. Padahal ia sungguh tidak memiliki nafsu makan. Tapi supaya menghilangkan rasa pusingnya, ia pun memakan omelet dan susu.
“Apakah nona baik-baik saja setelah makan ini??” Tanya si pengasuh memperhatikan Jilsoo. Walau pun ia tak yakin dari cara makan Jilsoo yang seperti enggan memakannya.
“Kenapa omelet ini makin lama tidak enak?? Apa koki dirumah sudah lupa cara membuat omlet yang enak seperti yang Soo makan sebelumnya??” Jilsoo memperhatikan omelet yang ada diujung sendok garpunya.
“Nona, koki dirumah kita adalah koki terbaik yang dipilih secara hati-hati oleh tuan dan nyonya. Rasanya pasti sama seperti sebelum-belumnya” Jawab si pengasuh yakin. Bahkan untuk menjadi koki dikediaman Kyungsoo harus mengikut berbagai tes yang sulit.
“Saya akan mengabari nyonya bahwa kita menunggunya disini” Ujar si Pengasuh yang hanya dibalas tatapan.
Tak lama Julia didalam acara. Ia pun menyusul Jilsoo dimobil dan balik pulang ke kediaman. Didalam perjalanan, Jilsoo mulai membuka suara setelah menunggu sang Ibu menyelesaikan panggilan telfonnya.
“Ibu. Apa ibu masih ingat dengan Kak Ga Eun?? Kapan kita akan melihatnya lagi??” Tanya Jilsoo.
“Entahlah sayang. Ibu sangat sibuk sekali. Nanti Ibu jadwalkan lagi ya?” Ujar sang Ibu.
__ADS_1
Seiring berjalannya hari. Julia masih belum sempat membawa Jilsoo ke Yayasan tersebut. Kesibukannya akhir-akhir ini memaksanya untuk tidak membawa Jilsoo bersamanya dikarenakan ia harus turun tangan menggantikan Kyungsoo menyidak beberapa anak perusahaan termasuk rumah sakit sekaligus menanyakan progress beberapa anak perusahaan selama 1 tahun terakhir.
Kesibukan yang membuatnya lupa memikirkan anak semata wayangnya yang tak ia sadari Jilsoo kini semakin mengurus.
“Nona muda sering tak menghabiskan makanannya Nyonya” Ujar pengasuh dari seberang telfon.
“Mungkin karna kami beberapa hari ini tidak dirumah. Besok kami akan pulang. Katakan padanya kalau kami akan tiba besok sore”
“Baik nyonya” Jawab si pengasuh dan panggilan itu berakhir tanpa rasa curiga dari si empunya.
Julia dan Kyungsoo melaukan kunjungan di Pulau Jeju selama 1 minggu dan ia tidak bisa membawa Jilsoo karna takut akan mengganggu jalannya sidak dan pekerjaan mereka.
Ga Eun tampak menyendiri tak berbaur dengan teman-teman lainnya yang sibuk bermain bersama yang lain. Ia menunggu teman kecilnya disini, ditempat yang menyedihkan ini untuk melihatnya.
“Lee Ga Eun” Panggil kepala Yayasan saat melihat Ga Eun duduk bermenung melihat kearah teman-temannya. Si empunya langsung berpaling melirik kearah sumber suara yang memanggilnya dan senyum pun langgsung tercetak dibibir mungilnya ketika ia melihat sosok seseorang disamping kepala Yayasan.
“Oemma” Teriaknya sambil berlari kecil mengejar sang Ibu.
Sang Ibu pun menanti dan merentangkan kedua tangannya menunggu sang anak membalas pelukannya karna sudah lama ia tak menjenguk anaknya yang saat ini berusaha keras agar bisa sembuh. Ibu Ga Eun duduk diruang
__ADS_1
berhadapan dengan kepala Yayasan. Pembicaraan itu sangat serius bahkan raut wajah mereka terlihat tak bersahabat bercampur pilu.
“Ga Eun oemma. Penyakit Ga Eun sangat serius. Kami masih tetap mencari donor mata untuk Ga Eun tapi belum berhasil kami dapatkan. Sangat sulit mencari pendonor yang cocok untuk Ga Eun” Ujar kepala Yayasan. Wajahnya sedikit sedih saat tahu ia harus menyampaikan hal yang mengerikan bagi ibu Ga Eun. Ibu Ga Eun pun cepat menulis ke sebuah kertas yang telah ia siapkan dari rumah.
“Tolong bantu anak saya Ibu kepala. Saya akan mencari disemua rumah sakit di Seoul ini mencari donor mata untuk Ga Eun. Tolong selamatkan anak saya” Ujarnya yang tertulis disecarik kertas. Ibu kepala Yayasan tak dapat menahan kesedihannya. 15 Tahun ia bekerja di Yayasan ini hingga ia dipercaya menjadi kepala Yayasan. Dan banyak pula ia melihat pemandangan memilukan seperti ini. Ia pun memegang kedua tangan Ibu Ga Eun setelah membacanya. Ikut terhanyut merasakan beban pukulan yang sebenarnya Ibu Ga Eun tak mampu memikulnya.
Ibu Ga Eun tak dapat berbicara layaknya orang normal. Ia adalah penyandang Tuna Wicara. Ia masih bisa mendengar, hanya saja ia sulit menggerakkan mulutnya. Ia hanya bisa berbicara kepada orang menggunakan tulisan dari layar ponsel atau secarik kertas. Ia menitipkan Ga Eun di Yayasan ini karna tempat ini dapat menampung anak-anak yang memiliki penyakit kanker sama seperti anaknya.
Disini Ga Eun bisa dirawat bersama anak-anak penderita kanker lainnya sambil ia mengumpulkan pundi-pundi uang untuk biaya operasi Ga Eun jika anaknya mendapat donor mata. Ia berharap, uang yang ia sisihkan dari pekerjaan remehnya seperti mencuci piring, membersihkan cafe, menjadi buruh cucian laundry, membersihkan appartmen orang hingga menjadi kuli bangunan ia pikul demi seutas senyum riang anaknya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City.
· Future Princess.
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan