Cerita Julia dan Korea Selatan 2

Cerita Julia dan Korea Selatan 2
Episode 8 / Demi anaknya.


__ADS_3

“Min Ji jangan nangis nak. Paman harus membawamu kesini” Ungkap si Manager yang membuat orang-orang disana kebingungan sekaligus iba.


“Huaaaa hiks hiks”


Sang Manager sungguh kewalahan. Layaknya seorang pengasuh dan berusaha mendiami anak kecil yang sulit untuk didiamkan, mengguncangkan tubuhnya agar tangisnya berhenti.


“Bawalah ia pulang, kasihan anak itu” Ungkap sang pelayan rumah.


“Aku tidak mungkin membawanya. Istriku akan mengira aku memiliki anak dari wanita lain” Jawab si Manager.


“hiks hiks hiks” Min Ji masih saja menangis tiada henti.


“Ada apa ini??” Akhirnya Julia muncul. Tangisan bayi tersebut sungguh sangat mengganggu istirahatnya. Walaupun sebenarnya ia masih sibuk dengan pekerjaannya didalam rumahnya, nmun rasa nyamannya terganggu karna suara tangisan itu.


Si manager bersama sang bayi masuk ke kediaman Julia. Ia duduk diruang tamu sambil tetap berusaha mendiamkan si bayi yang belum bisa untuk ditenangkan. Disekeliling tampak beberapa pelayan yang menunggu dengan harap-harap cemas. “Min Ji jangan menangis terus sayang??? Ayo tenanglah” Julia memperhatikan si manager yang berusaha menyenangkan si bayi yang susah untuk didiamkan.


“Sini biar aku coba tenangkan” salah satu pelayan Julia yang sedari tadi tak tega melihat bayi tersebut, langsung berinisiatif mengambil si bayi. Mungkin saja jika ditenangkan oleh perempuan, bayi tersebut akan diam. Setelah berpindah tangan dari manager ke seorang pelayan, bayi tersebut tetap saja menangis. “Sepertinya dia kurang baik. Mungkin dia merasa kesakitan”


“Cepat panggil dokter Alex kemari”


“Baik Nyonya”

__ADS_1


Si Manager pun kalang kabut tak menyadari apakah benar anak kecil tersebut sakit. Wajahnya cemas dan merasa bersalah.


10 menit kemudian, dokter Alex datang ke kediaman Julia. Bayi tersebut dipindahkan ke kamar Julia untuk diperiksa. Si Manager dan beberapa pelayan pun ikut melihat apa yang terjadi. Si Dokter pun berulang-ulang mengecek kondisi si Bayi hingga ia melepaskan stetoskop dari kedua telinganya.


“Bayi ini dehidrasi dan kekurangan gizi. Saya akan menyuntikan sedikit cairan makanan dan vitamin ke tubuhnya. Besok pagi ia pasti akan baik-baik saja.” Ujar sang Dokter yang membuat Julia memijit lembut dahinya.


“Apa wanita itu tidak memberinya makan??” Dengan nada intonasi agak meninggi Julia memarahi sang Manager. Si Manager pun takut dan tak percaya.


“Maafkan saya Nyonya. Saya tidak tahu akan seperti ini. Tapi saya yakin So Rae tidak akan seperti itu. Setelah So Rae meninggal saya menitipkannya kepada teman saya, jadi….” Kalimatnya pun terhenti. Ada sesuatu yang teringat setelah itu “Maafkan saya Nyonya” Sambil membungkuk secara berulang-ulang “ Saya yang salah. Harusnya saya lebih cepat membawanya kesini” Julia terkaget-kaget dengan pernyataan si Manager.


“Membawanya kesini?? Apa maksudmu??” Tanya Julia tak mengerti.


“So Rae pernah bilang bahwa ia tak sanggup membiayai anaknya. Jadi ia ingin nyonya untuk bisa membesarkannya” Dengan kalimat yang sedikit terputus-putus penuh tegang si Manager menceritakan kalimat terakhir So Rae sebelum wanita itu meninggal.


“Apa karna ia mengaku kalau itu anaknya dengan Kyungsoo yang masih belum jelas itu?” Tanya Julia sarkas.


“Terlepas apakah anak ini benar atau tidak darah daging mendiang suami anda. Tapi So Rae berharap jika anda yang akan menjadi ibu asuhnya kelak. Saya sungguh tidak tega membawanya ke panti asuhan Nyonya” Si Manager menundukan pandangannya kebawah, seakan ia tak sanggup menerima kenyataan.


“Huaa huaa” Lamunan semuanya langsung buyar ketika Min Ji menangis saat dokter itu menyuntikan cairan makanan kepadanya “Maafkan saya Nyonya, saya harus segera menyuntikan cairan ini. Sebab tubuhnya mulai lemah karna menagis terus menerus dan kekurangan gizi”


“Kalian semua beristirahatlah. Terima kasih dokter Alex, Chen akan mentransfer biayanya besok pagi ke rekening dokter” Ungkap Julia.

__ADS_1


“Sama-sama nyonya, kalau begitu saya pamit undur diri” Sambil membereskan perlengkapannya, bangun dan memberi salam menunduk dihadapan Julia dan yang lainnya.


Setelah dokter tersebut dan para pelayan pergi, Min Ji mulai diam dan berangsur-angsur tidur setelah diberikan obat. Yang tersisa dikamar tersebut tentunya Julia dan sang Manager yang mulai kikuk sendiri.


“Maaf saya menolak untuk menjadi ibu asuhnya. Saya akan mengganti biayanya tiap bulan kepada anda dan rawatlah dia” Si Manager tampak terdiam.


“Maafkan saya nyonya, istri saya bukanlah wanita yang gampang menerima bahkan hal yang tidak saya perbuat. Jika saya membawanya kerumah, akan terjadi perang besar nantinya. Dan yang lebih parahnya ia akan meninggalkan saya dan anak-anak seperti dulu. Saya tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Saya mohon pengertian anda Nyonya” Jawab si Manager.


“Lalu kenapa harus aku yang menanggungnya. Ini perbuatan siapa dan siapa pula jadinya yang menanggung. Ini lucu sekali” Jawab Julia, ujung bibirnya mulai tertarik dengan perasaan tak senang. “Seandainya istrimu yang melakukannya, apakah anak dari buah cinta istrimu yang selingkuh itu harus kau yang menanggungnya hingga akhir??” Tanya Julia mulai membuat si manager takut.


“Nyonya, saya mohon. Anak sekecil itu tidak bersalah. Mohon nyonya berbaik hati untuk membesarkannya. Anggaplah ia anak nyonya sendiri. Saya mohon” ia mulai melipat bergantian lututnya memohon kepada Julia. Lelaki itu akhirnya bersujud memohon kepada Julia. “Saya mohon Nyonya.” Lelaki yang akhirnya membuang jauh-jauh harga dirinya demi sesuatu yang harus ia perjuangkan, memperjuangkan harapan terakhir mendiang So Rae demi anaknya.


 


Bersambung


@yulia.fernanda__


Baca juga


·         Love in Seoul City.

__ADS_1


·         Future Princess.


__ADS_2