Cheating Queen Ricle

Cheating Queen Ricle
episode 10


__ADS_3

Setelah kejadian itu pengawalan ricle di ketatkan, ibu kota juga masih di gegerkan dengan temuan puluhan mayat yang bahkan tidak bisa di kenali lagi rupanya.


Beberapa hari setelah kejadian itu ricle mendapatkan mimpi aneh setiap malamnya, mimpi yang dia mimpikan bukan termasuk mimpi buruk lebih tepatnya di bermimpi hal yang aneh.


Dia bermimpi saat masih berada di tengah hutan setelah ia berhasil menghabisi para pembunuh bayaran, ia melihat seseorang mengangkatnya dan meletakkan ricle di kereta kuda, ricle tidak bisa melihat wajahnya karena di hutan pada saat itu malam dan amat gelap, yang ricle ingat Sampai sekarang dari orang itu adalah saat dia mengatakan satu kata yaitu 'cahayaku'.


.


.


Di wilayah Utara, berlangsung kegiatan seperti biasanya, sekarang ricle sedang duduk di meja kerjanya dan mengerjakan beberapa dokumen yang sempat tertunda karena pesta dan saat dia pingsan.


ricle tengah fokus dengan dokumen yang ada di tangannya, seketika fokus itu buyar saat telinganya mendengar suara ketukan pintu.


"masuk" ucap ricle singkat.


Pintu terbuka pelan menampilkan seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi segelas teh.


"terima kasih Lily"ucap ricle lalu menyeruput teh yang baru saja di letakkan di atas meja kerjanya.


"Nona penguasa ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda"ucap Lily.


Ricle yang mendengar itu kebingungan karena tidak ada pemberitahuan sama sekali bahwa akan ada yang datang.


"siapa? Apa orang penting?" tanya ricle.


"tuan Duke aldich swaggareth nona.."ucap Lily.


Mendengar hal itu ricle hampir tersedak teh yang baru saja dia minum.


"a-apa? Duke aldich?"tanya ricle tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


"kenapa orang penting sepertinya itu mau menemui aku?"batin ricle.


Jika kalian ingat Duke aldich swaggareth adalah salah satu orang yang bisa menggunakan sihir, keluarga Duke swaggareth juga adalah pemilik tambang permata dan bijih besi paling besar di kerajaan, mereka juga memiliki kekuatan militer yang cukup kuat dan juga keluarga mereka adalah keluarga yang paling di percaya oleh raja secara turun temurun.


"baiklah...bilang tunggu sebentar pada tuan Duke..aku akan bersiap siap dulu" ucap ricle panik tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


"baik nona penguasa.."ucap Lily, ia kemudian keluar dari ruang kerja ricle dan melakukan apa yang atasnya suruh.


Saat ricle sudah memastikan bahwa pakaiannya, rambutnya sudah rapi,ricle kemudian berjalan ke ruang tunggu untuk menemui Duke aldich swaggareth.


Pintu ruang tunggu terbuka, terlihat seorang pria yang masih lumayan muda berambut merah dan bermata biru layaknya permata yang sedang di sinari cahaya matahari duduk sambil menyeruput teh yang sudah di sediakan di atas meja.


"senang bisa bertemu dengan anda tuan Duke aldich swaggareth"ucap ricle dengan penuh hormat tidak lupa dia memberikannya salam layaknya seorang bangsawan.


"senang juga bisa bertemu dengan anda Nona ricle"ucap aldich, di juga membalas salam dari ricle.


"apa yang membuat anda datang ke tempat ini tuan Duke?"tanya ricle.


"tidak masalah tuan...memangnya apa yang ingin anda katakan dengan saya? Samapi anda bahkan tidak sempat mengabari saya terlebih dahulu?"tanya ricle.


Mereka berdua pun duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"begini nona...kita sama sama berada di pihak yang mulia putra mahkota bukan? Bagaimana jika kita berkerja sama untuk membuat yang mulia Arthur bisa memegang tahta di tangannya?"ucap aldich.


"kerja sama seperti apa yang anda maksud?"tanya ricle bingung.


"seperti membuat opini publik berada pada pihak yang mulia putra mahkota,membuat banyak bangsawan yang berada di pihaknya dan juga harus membuat citra yang mulia semakin di kenal"ujarnya,aldich menjelaskannya dengan serius.


setelah berpikir sebentar ricle Marasa kebingungan karena Duke aldich dikenal dengan orang yang netral dia akan menyetujui siapapun yang akan memimpin negara asalkan orang itu baik,tapi kenapa sekarang dia sangat memihak putra mahkota? Padahal yang memiliki citra paling baik adalah pangeran ke-2 yaitu Ethan lurenzek.


"umm...tuan Duke jika anda tidak keberatan bolehkan saya bertanya?"ucap ricle ragu.

__ADS_1


"ya? silahkan Nona.."jawab aldich lembut, suara itu membuat ricle yang awalnya ragu menjadi merasa tidak ragu lagi.


"bukankah anda biasanya orang yang netral? Saya tahu anda akan selalu menyetujui siapapun yang akan menjadi raja asalkan dia baik...tapi kenapa anda malah memilih putra mahkota? Padahal yang memiliki citra paling baik di kerajaan adalah pangeran ke-2 yaitu Ethan?"tanya ricle dengan serius.


"ternyata kau tahu aku ya! Ya..aku tahu itu...tapi entah kenapa perasaanku tidak enak jika pangeran ke-2 lah yang akan menjadi raja..."ucap aldich.


"aku tahu kau curiga kenapa orang netral sepertiku malah mendukung putra mahkota...tapi entah kenapa rasanya aku ingin mendukungnya saja"tambahnya.


"baiklah saya mengerti..."ucap ricle.


Setelah pembicaraan serius tadi mereka pun segera bercengkrama ringan, tak terasa waktu sudah terlewat beberapa jam.


"oh coba lihat sudah jam berapa ini? Aku harus segera pulang karena banyak pekerjaan yang menunggu...terima kasih karena sudah mau menerima saya yang datang tiba tiba ini nona"ucap aldich.


"ya tidak masalah...anda bisa datang kesini lagi jika anda mau tuan.."balas ricle.


"jangan panggil aku tuan...panggil saja Duke aldich..entah kenapa aku merasa dekat denganmu nona ricle"ucap aldich.


"anda juga...panggil saja saya senyaman anda"


"karena aku lebih tua darimu sedikit bagaimana dengan adik? Ya Adik saja"ucap aldich lembut ia kemudian segera pergi dari wilayah Utara.


ricle yang melihat kereta kuda milik Duke aldich menjauh, sambil melambaikan tangan pada kereta kuda ricle bergumam pelan.


"entah kenapa aku juga merasa dekat denganmu...Duke aldich..."


.


.


.

__ADS_1


**bersambung*


__ADS_2