
"kau ingin tahu bagaimana caranya bom bisa meledak tanpa sihir?" tanya ricle pada aldich dan dijawab aldich dengan anggukan semangat.
"baiklah dengarkan baik baik..
Setiap bahan peledak baru bisa meledak jika terjadi benturan, gesekan, atau suhu yang meningkat. Jika terjadi gesekan bahan peledak akan berubah menjadi zat lain yang lebih stabil dengan diikuti tekanan yang tinggi yang menghasilkan ledakan dahsyat atau percikan api. Tampaknya, untuk merakit bahan peledak pun tidak terlalu sulit, karena hampir semua benda bisa menghasilkan reaksi kimiawi yang menghasilkan ledakan. Apalagi, saat ini bahan peledak mudah ditemui dalam industri pertambangan atau eksplorasi.
Untuk bahan peledak berkekuatan tinggi yang lazim disebut bom, bila dilihat dari klasifikasi jenis bahan, ada dua jenis: high explosive dan low explosive. Selain itu, bom dapat terdiri atas baterai, detonator, tapes, kawat, alat pengatur waktu mekanik (detonator), dan komposisi material seperti metal, gelas, kayu, kertas, dan plastik."jelas ricle panjang lebar sementara aldich hanya menganggukkan kepalanya.
"apa sekarang kau mengerti?"tanya ricle.
"aku sedikit mengerti pada dasarnya kau bisa menciptakan bom jika memiliki bahanya dan membuat daya gesek atau benturan agar bahan bahan itu saling bergesekan dan menciptakan ledakan, begitu bukan?" ucap aldich.
"hebat...walaupun ini pertama kalinya dia mendengar tentang bom tapi dia langsung mengerti? Memang tidak heran jika dia adalah Duke muda yang sukses"batin ricle yang kagum dengan aldich yang mampu paham apa yang di katakan dalam waktu yang singkat.
"ya..kau benar..hebat! Bagaimana bisa kau langsung paham dengan penjelasan ku tadi?!"ucap ricle semangat.
"itu karena penjelasanmu mudah di mengerti ricle..."jawab aldich dengan senyum manisnya.
"ah~ tidak kok.." ucap ricle.
Karena kecepatan aldich menyerap dan memahami materi yang dijelaskan oleh ricle itu membuatnya untuk menceritakan banyak hal dengan aldich.
"aldich apa kau ingin tahu tentang yang lain?"tanya ricle semangat untuk menjelaskan apa yang diketahuinya pada aldich.
"ya! beri tahu aku lebih banyak!!" balas aldich semangat.
Waktu perjalanan itu pun di habiskan dengan materi materi milik ricle, aldich juga semangat dengan materi materi yang dikatakan oleh ricle itu membuatnya memiliki ide yang banyak agar militer kekaisaran semakin kuat dan di takuti oleh banyak musuh.
tak terasa kereta kuda sudah sampai didepan gerbang kastil milik Marquis basil, para prajurit yang melihat kereta kuda yang di tumpangi ricle dan aldich segera membukakan gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.
Ricle dan aldich turun dari kereta kuda dan di depan pintu kastil terlihat Marquis basil menunggu di depan pintu masuk kastil tentu saja dengan Clara di sampingnya.
__ADS_1
Marquis basil yang melihat aldich terluka cukup parah langsung berjalan ke arah aldich dan mendorong ricle lalu menopang aldich.
"astaga tuan Duke apa anda tidak apa apa? Saya akan membawa anda ke kamar tamu dan memanggil dokter.."ucap basil dan membawa aldich ke dalam kastil.
Sementara Clara menatap ricle tajam, ia kemudian berjalan ke arah ricle dan mendorongnya lumayan kuat hal itu membuat ricle mundur beberapa langkah.
Clara mendekatkan wajahnya ke telinga ricle dan berbisik pelan.
"kau tidak bisa membalas ku disini ****** sialan....jika kau berani melakukannya...kau mungkin akan di tangkap oleh prajurit yang ada di sini..."bisiknya di telinga ricle.
ricle yang mendengarkan itu hanya mengepalkan tangannya kuat.
"bangsat...jika anak ini bukan seorang bangsawan...mungkin aku akan memukul wajahnya hingga hancur sekarang!!"batin ricle, mata ungunya menatap Clara tajam.
Clara yang menyadari tatapan ricle merinding dan segera menjauh dari ricle.
Clara berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ricle, tapi karena ricle curiga dengan Clara ia mengikutinya.
mata ricle yang tajam melihat bahwa yang di berikan Clara pada pelayan itu adalah 'cincin utusan dewa'miliknya.
"sembunyikan ini baik baik.."bisik Clara pada sang pelayan.
walaupun Clara berbisik ricle dapat mendengarkan perkataannya, Clara kemudian berjalan pergi dari tempat itu dan ricle bersembunyi agar tidak terlihat oleh Clara, setelah memastikan Clara sudah jauh ricle mengikuti pelayan itu menuju kamar sang pelayan.
saat suasana semakin dekat dengan kamar para pelayan dan para prajurit sedang istirahat ricle segera menarik tangan pelayan itu dan mendorongnya ke dinding membuat badan sang pelayan terbentur.
"AWW!!..." teriak sang pelayan.
"dasar wanita rendahan!! Kenapa kau menarik ku kesini?!" teriak pelayan itu.
Ricle yang mendengar itu sudah tersulut emosinya tangannya mencengkram kerah baju milik pelayan dan mengangkatnya membuat pelayan itu tergantung.
__ADS_1
"wanita rendahan? Coba kau ucapkan sekali lagi!!"ancam ricle matanya menatap tajam pelayan dan jadi telunjuknya mendorong kepala sang pelayan.
"berikan cincin itu padaku!!" ucap ricle.
walaupun sang pelayan merasa ketakutan ia menggelengkan kepalanya dan mempererat genggaman tangannya yang berisi cincin milik ricle.
Ricle yang melihat sang pelayan menggelengkan kepalanya langsung menampar wajahnya keras hingga terdengar suara yang sangat keras, bahkan di ujung bibir sang pelayan terlihat darah mengalir keluar.
"ku bilang BE.RI.KAN!!"teriak ricle.
tangannya yang awal mulanya mencengkram kerah baju milik sang pelayan beralih menjambak rambut pelayan itu dan mendorongnya ke bawah, membuat kepala sang pelayan mendongak dan menatap mata ricle.
Ricle yang melihat pelayan itu masih diam dan tidak memberikan cincin yang ada di tangannya langsung menendang perut sang pelayan membuat pelayan itu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang sakit, karena tendangan itu juga cincin yang di pegang oleh pelayan terlepas dan terjatuh di tanah.
ricle segera mengambil cincin miliknya dan berjalan meninggalkan sang pelayan yang sedang kesakitan karena tendangannya.
tiba tiba ricle berhenti berjalan lalu berbalik.
"katakan pada majikanmu itu...bahwa dia itu sudah kalah dari awal, dan jangan pernah menggangguku lagi.." ucap ricle dengan senyum jahat miliknya ia kembali berbalik dan segera berjalan menuju kamar tamu untuk menjenguk aldich.
.
.
.
.
.
**bersambung**
__ADS_1