
.
.
.
.
Ricle mulai memejamkan matanya karena mengantuk, di malam yang sunyi hanya terdengar suara jangkrik yang bernyanyi, ia beberapa kali menghela nafasnya...
"semuanya sudah berubah...apa yang harus ku lakukan?"gumamnya pada dirinya sendiri, sambil menggerakkan jarinya di udara seperti menuliskan sesuatu.
.
.
.
.
.
BRAKK!!
mendengar suara dobrakan yang begitu keras di pintu ricle langsung menatap ke arah pintu ia kaget saat melihat Arthur kembali dengan tubuh yang berlumuran darah.
ricle yang melihat itu segera berlari ke arah Arthur ia merangkulnya dan membantunya berjalan menuju kursi kerja.
"apa yang terjadi padamu?!"ucap ricle khawatir.
Ia semakin khawatir dan panik saat melihat darah segar merembes mengalir dari perut Arthur, wajah Arthur terlihat pucat, sepertinya dia sudah kehabisan banyak darah.
__ADS_1
"kau tunggu sebentar"ucap ricle.
tangannya segera menutupi luka yang berada di perut Arthur, tiba tiba diruang yang gelap itu muncul cahaya emas, rambut merah ricle melayang dan bersinar terang di malam yang gelap gulita, tangan yang memegang perut terluka Arthur juga bersinar dan muncul tanda yang bersinar mengitari tangan ricle, tanda itu seperti jalaran api yang membara.
"!!!!"
Tiba tiba luka itu terbakar oleh api berwarna merah, melihat itu ricle sangat panik ada apa dengan kekuatan miliknya?
"dewa! Ini kenapa kekuatan cincin ini jadi membakar luka itu?!"ucap ricle mencoba untuk tenang saat melihat api yang membakar luka Arthur semakin membesar.
"itu bukan kekuatan cincin yang kau gunakan!!"suara itu bergema di seluruh ruangan.
"lalu...ini kekuatan apa?!"
"itu...kekuatan Dewa api.."
"a-apa?! Bagaimana bisa aku menggunakan kekuatan Dewa api?!!"panik ricle ia masih mencoba untuk memadamkan api yang membakar luka Arthur.
"akh!!..pokoknya kau beri tahu dulu apa yang harus ku lakukan sekarang?!"paniknya.
"kau tak perlu khawatir..itu adalah cara untuk mengobati luka para keturunan dawa api"ucapnya santai.
"jika kau tidak percaya coba tunggu sebentar dan lihat lukanya lagi"tambahnya.
"b-baiklah..aku akan percaya padamu dewa cahaya"ucap ricle, walaupun dia masih ragu dengan perkataan dewa cahaya tapi hanya itu yang bisa ia lakukan.
ricle mengambil kursi kerjanya dan duduk di samping Arthur, ia duduk disana dan selang beberapa menit api yang ada di perut semakin mengecil dan menghilang.
ricle pun segera memeriksa luka yang ada di perut Arthur dan benar apa yang dikatakan oleh dewa cahaya luka yang mulanya sangat parah dan dalam sekarang sudah hilang bahkan tidak memiliki bekas luka saka sekali, perutnya seperti tidak pernah terluka sebelumnya.
"b-bagaimana bisa?..."ucap ricle ia termenung mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
__ADS_1
Tangannya menyentuh perut Arthur yang awalnya terluka,ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"dewa...apa yang terjadi?"tanya ricle.
"kau akan tahu nanti...tunggu saja waktunya"lagi lagi suara itu bergema di seluruh ruangan.
"..."
Ricle hanya terdiam saat mendengar jawaban dari dawa cahaya.
Ia menghela nafasnya, ricle kemudian mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di kertas tersebut, setelah selesai menulis ia mengambil penawar racun 'air mata kepedihan' dan meletakkannya di atas meja kerja milik Arthur, ia berjalan keluar ruang kerja setelah mengambil jubah dan mengenakannya.
"apa yang ingin kau lakukan?!.."tanya Sang dewa pada ricle yang sepertinya sedang buru buru pergi.
"mencari jawaban dari pertanyaan ku.."jawab ricle
ia kemudian segera mengambil tas dan mengenakannya lalu berjalan melewati pintu belakang kasti putra mahkota.
.
.
.
.
.
**bersambung**
Jangan lupa 'like ❤️' yaaa~
__ADS_1