
Setelah keributan yang terjadi tadi malam,para warga tidak tahu bahwa yang memusnahkan para monster itu adalah ricle, yang mereka tahu hanyalah sesudah pintu dan dinding pelindung roboh para monster sudah di temukan mati tidak bernyawa...sementara itu di tempat lain ricle sedang tertunduk pasrah mendengarkan kemarahan dari Arthur.
"anak ini sama seperti ibuku saat marah" batin ricle, dia hanya mengangguk dan tidak mendengarkan apa yang Arthur katakan.
"apa kau mendengar apa yang ku katakan?!!" tanya Arthur dengan suara tinggi, menatap tajam pada ricle.
"iya..iya..."jawab ricle singkat.
"jika kau mendengarkan ku coba ulangi apa yang tadi ku katakan" ucap Arthur dengan nada sinis.
mendengar hal itu ricle hanya bisa diam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap Arthur dengan senyum canggung.
"hehehe...kau mengatakan banyak hal,aku lupa apa saja yang kau katakan tadi..." ucap ricle mencari alasan.
mendengar hal itu Arthur menatap ricle tajam, ia menghela nafas dan mengambil beberapa dokumen di atas meja.
"aku datang ke sini untuk mengatasi monster, aku tidak tahu bahwa kau memiliki kekuatan sebesar itu"
.
.
**flash back**
saat malam hari dimana ricle memusnahkan segerombolan monster...
"dewa!! Tolong aku!! Bagaimana ini?! Dinding dan pintunya hancur!! Aku pasti akan dimarahi oleh Arthur!!" rengek ricle pada dewa..
'itu urusanmu...aku tidak peduli..bay' tulisan itu pun menghilang seketika.
"dewa!! Dewa!!... Kau tidak mendengarkan ku?!" teriak ricle tapi tidak ada balasan sama sekali..
Ricle mondar mandir di sekitar dinding dan pintu yang rusak karena dirinya sendiri, diwajahnya terlihat jelas anak itu sedang panik.
"berpikir ricle..berpikir..."
"apa aku memperbaikinya sekarang?"
"tidak, tidak akan sempat keburu warga berdatangan kesini... Aaaa!! Andaikan aku bandung Bondowoso yang bisa memerintahkan pasukan setan dan jin untuk membangun kembali dinding dan pintu ini"
.
.
__ADS_1
.
"tunggu...para pasukan? Aha! Ku rasa aku bisa mengatasi ini" gumam ricle, sepertinya dia mendapatkan ide untuk menutupi masalah yang baru saja dia buat.
Ricle segera membuka toko item untuk membeli sesuatu, setelah menggeser cukup lama untuk menemukan item yang dia mau akhirnya dia menemukannya juga.
'pasukan tambahan' item ini biasanya di gunakan pada saat peperangan saat pasukan yang di miliki pemain tidak cukup atau kurang, tentu saja pasukan itu memiliki ilmu pedang yang bagus dan kekuatan fisik mereka cukup kuat.
Setelah menekan tombol beli dalam sekejap sekitar 10.000 pasukan muncul di depan ricle.
"kami siap melaksanakan tugas!!" ucap mereka serentak sambil menunduk hormat di depan ricle.
"ya aku memiliki tugas untuk kalian semua" ucap ricle.
"apa tugas yang ingin kau berikan?" jawab salah satu pasukan.
"aku ingin kalian....memperbaiki kerusakan ini!!" ucap ricle sambil menunjukkan kerusakan yang cukup parah.
"A-APA!!" semua pasukan kaget, mereka di atur agar bisa berperang dan sekarang mereka di suruh untuk memperbaiki?
"ayolah ku mohon..kita harus segera memperbaiki ini sebelum matahari terbit"ucap ricle dengan mata anjingnya.
"baiklah...kami akan memperbaikinya.." jawab salah satu pasukan.
Mereka kemudian segera berpencar menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertugas untuk memperbaiki dinding dan kelompok lainnya bertugas untuk memperbaiki pintu masuk.
DUMM!!
Suara dentuman keras terdengar lagi, dinding dan pintu yang hampir selesai di perbaiki kembali hancur bahkan kehancurannya lebih parah dari yang pertama.
Ricle menolehkan kepalanya ke sumber suara dentuman dan terlihat naga yang sangat besar sedang berdiri di belakangnya, para pasukan yang membantu ricle memperbaiki kerusakan sudah musnah karena serangan dari sang naga.
Naga itu menatap maja ricle dangan mata emasnya yang bersinar di kegelapan, naga itu mengambil tarikan nafas yang dalam dan mengambil ancang ancang untuk menyerang, dia membuka mulutnya dan terlihat sebuah semburan api yang sangat panas dan besar mengarah pada ricle.
Melihat hal itu ricle segera menghindar, mata ricle tertuju pada bekas semburan api sang naga, kawah yang lumayan besar tercipta karena serangan itu.
"hhh...itu mengerikan..tapi aku harus segera mengakhiri ini.." ucap ricle tangannya segera menyentuh bagian belakang telinga dan munculah jendela sistem.
Tangan ricle bergerak dengan terampil menekan beberapa tombol pada jendela sistem...
Tiba tiba tubuh ricle terasa ringan, kakinya sudah tidak menyentuh tanah, rambut merahnya yang indah menyala terang di gelapnya malam dan mata ungunya menatap tajam ke arah naga..
Ricle mengarahkan telapak tangannya kepada naga, terlihat semua cahaya emas di sekitar sana berkumpul di telapak tangan ricle, cahaya yang ada di tangannya semakin terang diiringi oleh kencangnya angin..
__ADS_1
Setelah cahaya itu cukup terang...tiba tiba bola cahaya yang ada di telapak tangan ricle melesat cepat ke arah naga.
terdengar suara dentuman yang sangat keras beradu dengan jeritan kesakitan sang naga, karena ledakan yang keras itu angin juga ikut berhembus dengan kencang membuat ricle terpental mundur, punggungnya terbentur pepohonan yang ada di sana.
Saat mata ricle kabur dan merasa sangat lelah dia melihat bayangan seorang pria yang menghampirinya dengan berlari, tak sempat untuk memastikan siapa pria itu, ricle kemudian pingsan karena terlalu banyak menggunakan kekuatan dewa.
**flash back selesai**
.
.
"ya...saya memang menyembunyikannya dari semua orang dan..maaf karena sudah merepotkan yang mulia" ucap ricle.
"ya itu sama sekali tidak merepotkan aku tidak ingin penasehat ku terluka" balasnya, bibirnya menampilkan senyum yang hangat.
"ada apa dengan anak ini?" batin ricle bingung karena Arthur sangat jarang tersenyum hangat seperti itu.
"terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya"ucap ricle.
"baiklah kalau begitu untuk sementara dokumen ini aku yang urus kau istirahat yang cukup dan cepatlah sembuh"ucap Arthur sambil mengelus kepala ricle lembut.
Ia kemudian berjalan pergi dari kamar ricle sambil membawa beberapa dokumen, sementara ricle dia masih bingung dengan perilaku Arthur terhadapnya.
"anak itu kenapa..tiba tiba berubah jadi orang yang lembut?" tanyanya pada diri sendiri.
"sudahlah lebih baik sekarang aku mendatangi dunia mimpi" ucap ricle tak ingin ambil pusing dengan perilaku Arthur yang berubah menjadi lembut.
Ricle menarik selimut dan merebahkan dirinya di kasur yang nyaman, perlahan matanya tertutup dan kemudian tertidur dengan pulas.
setelah beberapa jam di alam mimpi, ricle terlihat sangat pulas saat tidur, ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan wajahnya yang sedang tertidur pulas.
Tangan seseorang dengan lembut membelai pipi ricle saat tidur dan mengecup dahinya pelan...
"semoga mimpi indah..penasehat ku..." bisik orang itu di telinga ricle.
Ricle terlihat tidak terganggu sama sekali Dangan hal itu buktinya sekarang dia masih tertidur pulas...
.
.
.
__ADS_1
.
**bersambung**