
.
.
**di kamar raja Wiliam**
Seorang pria yang lumayan tua terbaring lemas di atas kasur dan tidak sadarkan diri di sampingnya ada beberapa dokter dan pelayan yang sedang merawat tubuh lemahnya.
"bagaimana keadaan ayah saya dokter?"tanya Arthur khawatir tangannya memegang tangan raja erat seakan akan ia tidak ingin raja pergi.
"keadaan yang mulai raja belum juga membaik yang mulia putra mahkota, racun yang di gunakan oleh pelaku adalah racun 'air mata kepedihan' saya kira racun ini hanyalah mitos belaka yang di ceritakan turun temurun oleh masyarakat tapi ternyata racun ini nyata adanya.." jawab sang dokter.
"..'air mata kepedihan'? Apakah ada penawar racun itu?!"tanya Arthur pada Sang dokter.
Walaupun racun 'air mata kepedihan' adalah sebuah mitos belaka dan kemungkinan besar tidak ada penawarnya tapi Arthur beharap ada penawar walaupun penawar itu juga adalah sebuah mitos.
"umm..penawar itu..mohon maaf yang mulia putra mahkota saya tidak tahu tentang penawarnya.."jawab sang dokter, ia menundukkan kepalanya takut jika putra mahkota marah padanya.
"tunggu..apa di dalam cerita itu ada di ceritakan asal usul dari racun 'air mata kepedihan'?"sela ricle ia sekarang sangat penasaran dengan racun tersebut.
__ADS_1
"mau bagaimanapun ini sudah melenceng jauh dari cerita didalam game.. Setidaknya aku berusaha untuk membantu"batin ricle, mata ungunya menatap ke arah dokter menunggu jawabannya.
"..'air mata kepedihan' dari cerita rakyat yang sudah ada dari dulu di ceritakan bahwa ada seorang pemimpin yang menyesal atas keputusannya dan sambil menangis ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saat sudah di ambang kematian air mata pemimpin itu jatuh dan tercampur dengan darah segar yang mengalir dari perutnya, mendengar kabar bahwa sang pemimpin telah tiada semua orang menangis dan sedih atas kematian pemimpin yang mereka sayangi, dan pada akhirnya racun itu tercipta dari air mata kepedihan para orang orang yang ditinggalkan pemimpin mereka, konon katanya air mata orang yang ditinggalkan bercampur dengan darah segar milik sang pemimpin karena rasa kepedihan yang begitu mendalam menyebabkan racun 'air mata kepedihan' sangatlah mematikan" Arthur menceritakan nya dengan detail tanpa melewatkan satu informasi yang ia ingat.
"ini agak sulit..."jawab ricle, ia mencermati isi cerita itu dengan baik tapi tetap saja itu diluar logikanya.
"bagaimana bisa sebuah air mata bisa menjadi racun?! Itu tidak masuk di akal"batin ricle, ia berpikir keras bagaimana cara menangani masalah ini.
"ya..kau benar ini sulit..tapi..tak ada cara lain aku akan menemukan penawarnya.."ucap Arthur, setelah mengatakan itu ia beranjak pergi dari kamar untuk mencari penawar racun 'air mata kepedihan'.
Ricle yang melihat itu langsung menyusul Arthur keluar kamar.
"kenapa mengikutiku terus?"tanya Arthur pada perempuan yang ada di belakangnya.
"mungkin aku bisa membantu?"jawab ricle, ia kemudian mempercepat langkahnya dan sekarang berjalan beriringan dengan Arthur.
"tidak perlu kau gantikan aku sementara..aku akan pergi untuk mencari informasi tentang penawarnya..."ucap Arthur memerintah ia mempercepat langkahnya meninggalkan ricle sendirian di lorong.
"dasar! berapa kali aku harus mengatakannya aku itu penasehat bukan asisten!"gumam ricle ia menatap punggung arthur yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang di kejauhan.
__ADS_1
"maaf kan dia nona ricle"ucap seseorang di belakang ricle.
Ricle yang mendengar itu segera berbalik dan melihat pangeran ke-2 sedang berada di belakangnya.
"astaga! yang mulia kenapa anda tiba tiba ada di belakang saya?!"ucap ricle.
"heheh..aku sedang berjalan menuju kamar yang mulia raja dan tidak sengaja melihatmu disini jadi aku berniat untuk menyapa mu.."jawab Ethan menampilkan senyum andalannya.
.
.
.
.
.
**bersambung**
__ADS_1
Jangan lupa 'like❤️' nya yaaa!!!