
Hari yang di tunggu pun telah tiba, hari dimana ricle akan ke pesta untuk pertama kalinya.
Sekarang ricle sedang di dandani oleh pelayannya, ia terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna merah sama seperti rambutnya dan juga kalung permata berwarna ungu sama seperti mata miliknya, sepertinya Arthur memilih gaun dan aksesori lainnya sambil memikirkan ricle.
Setelah selesai bersiap siap ricle segera berjalan keluar, setelah keluar ricle melihat kereta kuda putra mahkota sudah berada di depan pintu keluar dan juga Arthur dengan dengan stelan tuxedo berwarna hitam tak lupa dengan bros berwarna merah menempel di dada sebelah kanannya.
melihat ricle yang sudah siap berangkat, Arthur mengulurkan tangannya berniat untuk membantu ricle naik ke kereta kuda.
"silahkan Nona..."ucap Arthur menatap lembut ke arah ricle.
"terima kasih yang mulia"ucap ricle, dia meraih tangan Arthur dan perlahan naik ke kereta kuda diikuti oleh Arthur.
"astaga aku masih belum terbiasa dengan sikapnya ini.."batin ricle.
Sesaat Susana menjadi canggung tidak ada yang memulai pembicaraan dan ricle memilih untuk melihat ke luar jendela.
Sementara Arthur hanya menatap ricle dengan senyuman yang manis, ricle ingin memberitahu bahwa tatapan itu sangat membebaninya tapi..bagaimana caranya mengatakan hal itu pada seorang putra mahkota?
Setelah beberapa menit tidak ada pembicaraan, ricle merasakan kereta kudanya berhenti.
"eh? Apa kita sudah sampai?"tanya ricle.
"belum, karena jarak wilayah Utara dan ibu kota cukup jauh jadi kita menggunakan portal untuk sampai ke ibu kota lebih cepat"jelas Arthur.
"dan sekarang kenapa kita berhenti?"tanya ricle sambil melihat beberapa prajurit penjaga portal berbicara dengan prajurit milik putra mahkota.
"kita sedang melalui pemeriksaan, karena portal tidak bisa di gunakan sembarangan, portal hanya bisa digunakan pada saat saat tertentu, sekarang kau mengerti?"ucap Arthur.
"ya baiklah saya mengerti sekarang"jawab ricle sambil menganggukkan kepalanya pelan pertanda bahwa dia memang sudah mengerti.
setelah melalui berhasil pemeriksaan, kereta kuda kembali berjalan dan mulai memasuki portal, sekejap terlihat cahaya biru yang begitu terang saat memasuki portal lalu cahaya itu dengan cepat menghilang tergantikan dengan pemandangan ibu kota yang indah.
Angin berhembus lembut, suasana yang awalnya sunyi tergantikan dengan suara hiruk pikuknya ibu kota, semua orang yang ada di ibu kota sedang mempersiapkan pesta ulang tahun raja, mulai dari menghias jalan di ibu kota, berjualan berbagai macam barang dan tentu saja suasana yang ceria.
ricle menarik nafasnya dalam, seolah olah dia sedang menikmati suasana yang ceria ini.
"sepertinya kau sangat senang datang ke ibu kota" ucap Arthur membuka pembicaraan.
"ya..saya senang datang ke sini..suasananya sangat berbeda ya?"ucap ricle tersenyum hangat pada Arthur.
"tentu saja, jika kau suka aku akan sesekali mengundangmu ke ibu kota"ucap Arthur.
"benarkah? Sungguh?!"tanya ricle tidak percaya.
"tentu saja..lagi pula kau sebagai penguasa wilayah Utara pasti akan ada beberapa hal yang harus di bicarakan secara langsung dan tidak bisa menggunakan surat"ucap Arthur.
__ADS_1
"anda benar, baiklah yang mulia putra mahkota saya akan segera datang ke ibu kota jika anda membutuhkan saya" jawab ricle.
menunggu kereta Sampai di istana mereka telah membicarakan banyak hal, waktu tak terasa sudah berlalu dan sekarang mereka sudah sampai di depan gerbang istana.
para prajurit penjaga yang melihat bahwa itu adalah kereta putra mahkota, mereka langsung mempersilahkan masuk pada kereta itu sementara kereta yang lain harus melewati pemeriksaan yang ketat terlebih dahulu.
Kereta berhenti, Arthur kemudian keluar dari kereta kuda dan menyodorkan tangannya pada ricle yang juga ingin turun dari kereta kuda,ricle yang melihat itu hanya tersenyum manis pada putra mahkota dan menerima bantuannya.
Mereka berjalan menuju aula pesta, sesudah Sampai di depan pintu aula pesta, pintu itu pun terbuka perlahan diiringi dengan suara pengumuman dari prajurit.
"PUTRA MAHKOTA ARTHUR LURENZEK DAN PENGUASA WILAYAH UTARA MEMASUKI AULA!!"teriak sang prajurit.
sontak teriakan yang nyaring itu membuat semua para hadirin menatap ke arah pintu aula, terlihat seorang pria tinggi dan tampan dengan rambut putih yang berkilauan sementara mata merahnya yang menatap tajam pada semua orang memberikan kesan unik pada setiap orang yang melihat Arthur, sementara ricle terlihat anggun dengan gaun yang senada dengan warna rambutnya,untuk orang yang tidak tahu bahwa ricle adalah rakyat biasa mungkin akan mengira bahwa dia adalah bangsawan bagaimana tidak walaupun ricle sekarang terlihat anggun tapi di juga terlihat elegan dan memiliki karisma yang sangat kuat.
"eh bukankah wanita itu adalah wanita kesayangan putra mahkota?"bisik para bangsawan yang suka bergosip.
"iya kau benar, bahkan sekarang dia di angkat menjadi penguasa wilayah Utara oleh putra mahkota"jawab pelan bangsawan lain.
"kurasa dia rela naik ke atas ranjang putra mahkota untuk mendapatkan gelar itu...karena tidak mungkin orang biasa sepertinya bisa mendapatkan hal berharga seperti itu tanpa melakukan apapun"ucap salah satu bangsawan.
Ricle yang mendengar bisikkan para bangsawan itupun hanya bisa mengepal tangannya kuat, dia mencoba untuk mengendalikan emosinya.
"sabar ricle para anjing memang berisik saat menggonggong"batin ricle mencoba untuk menenangkan dirinya.
"apa kau tidak haus?"tanya Arthur mencoba untuk membuatnya tenang.
Arthur kemudian mengambil dua gelas minuman yang di bawakan para pelayan lalu memberikan satu gelasnya pada ricle, ricle yang melihat itu hanya mengembuskan nafas berat dan mengambil gelas yang di berikan oleh Arthur dan meminumnya.
ricle sudah mulai melupakan amarahnya tapi entah kenapa bisik bisik hal buruk tentang ricle terus saja mereka bicarakan, Arthur yang menatap itu segera memegang pedang yang terlilit di pinggangnya berniat untuk menebas para bangsawan yang menyebarkan rumor buruk para ricle tapi ricle segera menghentikan langkahnya.
"sabar yang mulia tidak mungkin anda membunuh bangsawan pada saat ulang tahun ayah anda bukan?"bisik ricle pada Arthur sembari memegang tangannya yang sudah bersiap untuk mengeluarkan pedang.
"bagaimana jika kita mencari angin segar untuk menenangkan pikiran?"ucap Arthur, Arthur kemudian menarik tangan ricle sebelum ricle menjawab pertanyaannya.
mereka berjalan menuju balkon istana disana sangat sunyi angin malam berhembus kencang dan juga sunyi sangat berbeda dengan aula pesta yang ramai.
ricle terpukau saat melihat pemandangan indah ibu kota pada malam hari, ibu kota sangat terang dan berwarna warni jika dilihat dari balkon istana.
Arthur pun juga menikmati pemandangan ibu kota dari balkon tiba tiba ada seorang prajurit yang datang padanya dan memberi tahu bahwa raja ingin bertemu dengannya.
"ricle kau tetap disini ,ya? Aku ada urusan sebentar"ucap Arthur dan dijawab anggukan oleh ricle.
Arthur kemudian pergi untuk menemui raja sementara ricle menikmati pemandangan ibu kota yang indah, angin malam yang berhembus dan jauh dari keramaian membuat hati ricle merasa tenang.
Saat menikmati suasana tenang itu tiba tiba ricle merasakan ada tangan yang mendorongnya, ricle sontak mundur beberapa langkah karena dorongan itu.
__ADS_1
"ohh..jadi kau ****** yang merayu putra mahkota?"ucap seorang perempuan dengan nada jijik.
"'ah..bukankah dia adalah putri dari Marquis basil? Clara bhaswaron"batin ricle saat melihat wajah perempuan yang mendorongnya.
"tidak di dalam game tidak disini dia masih tergila gila dengan putra mahkota ya?"batin ricle lagi dan menatap tajam pada Clara.
"jangan menatapku seperti itu dasar wanita rendahan!!"teriak Clara, dia berjalan ke arah ricle dan mengangkat satu tangannya dia berniat untuk menampar ricle.
ricle yang melihat itu langsung menangkap tangannya dan mencengkram tangannya kuat, ricle menatap tajam pada Clara.
"jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu,!!"teriak Clara, walaupun sekarang dia merasa takut dengan tatapan tajam ricle.
"anda ingin menampar saya nona?"tanya ricle dengan senyum jahat miliknya.
Clara yang melihat itu merinding ketakutan, dia juga mencoba lepas dari cengkraman tangan ricle.
Ricle yang melihat usaha Clara yang mencoba lepas darinya menghempaskan tangan Clara kuat.
"sekarang kau pergi dari sini..sebelum aku memukul wajah sialan mu itu!!"ucap ricle sambil menunjuk ke pintu keluar.
Clara yang melihat itu pun pergi dengan cepat, tapi dia masih menatap sinis pada ricle, setelah Clara pergi tiba tiba ricle mendengar suara tepuk tangan, ricle kemudian menoleh ke sumber suara, terlihat seseorang sedang duduk di atas pohon tapi sayangnya ricle tidak bisa melihat jelas wajah orang itu karena gelap.
"kau hebat nona..apa kau tidak takut jika bangsawan itu akan mengirimkan mu pembunuh bayaran?"ucap pria itu sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
"sejak kapan kau disitu?"tanya ricle menatap sinis pada orang yang sedang duduk di atas pohon tersebut.
"sejak awal...sebelum kau kesini aku sudah ada disini nona"jawab pria misterius itu.
"huh..jika dia mengirimkan ku pembunuh bayaran aku yang akan membunuh pembunuh itu kau mengerti?..yasudah lah aku pergi dulu"ucap ricle ketus sambil melangkah meninggalkan balkon sekarang moodnya benar benar hancur.
pria misterius itu kemudian terkekeh ringan dan melihat punggung ricle yang lama lama menjauh.
"jika kau tahu aku siapa..apa kau akan tetap bicara seperti itu padaku?" ucapnya kemudian dia turun dari pohon dan berjalan menuju aula pesta.
.
.
.
.
.
**bersambung**
__ADS_1