
.
.
.
"tidak..saya hanya..memikirkan pakaian apa yang cocok untuk festival nanti" dalih ricle dengan menampilkan senyum canggung miliknya.
"kau tenang saja untuk urusan pakaian aku akan mengurusnya, kalau begitu aku akan menjemputmu 3 hari lagi..dan jelaskan semua tugas tentang wilayah Utara pada ash.." ucap Arthur, dia menepuk bahu ricle lembut lalu beranjak pergi dari sana.
Di dalam ruangan itu hanya ada Aiden dan ricle, mata ricle menatap Aiden tajam, sementara itu pria yang ada di depannya hanya menampilkan senyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ricle menghela nafasnya dan setelah beberapa detik ia berdiri dari sofa.
"aku akan menjelaskan tugasmu ash, ikuti aku ke ruang kerja"ucap ricle, ia memutar bola matanya malas dan berbalik berjalan menuju ruang kerja penguasa Utara.
Aiden yang melihat itu segera mengikuti cahayanya itu bagaikan anak ayam dan induknya.
Setalah beberapa langkah berjalan akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang kerja,ricle membuka pintu itu perlahan.
"masuklah.."singkatnya, ricle kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya dan Aiden yang melihat itu segera mengikuti ricle untuk masuk.
"jadi..apa yang ingin kau lakukan sampai menyamar menjadi seorang 'ash'?" tanya ricle pada pria tinggi yang ada di depannya.
__ADS_1
"aku hanya ingin membantumu.."jawabnya dengan tatapan memelas.
"membantuku? Aku tidak pernah meminta bantuan padamu?"jawab ricle, ia menyilangkan tangannya di dadanya menunggu jawaban Aiden.
"aku..hanya ingin akrab denganmu...apa tidak boleh?" jawab Aiden dengan suara kecil, ia menatap ricle dengan tatapan sedih yang dalam.
"curang!! Kenapa dia menggunakan wajah tampan itu sembarangan!!"batin ricle, ia tidak tahan untuk memarahi orang setampan itu.
"baiklah..baiklah aku percaya padamu...jadi..jika kau ingin menjadi temanku kau harus melakukan satu permintaanku, bagaimana?"ucap ricle, melangkah lebih dekat pada Aiden.
"benarkah?! Baiklah! Aku akan melakukannya! Apa permintaanmu?" girang Aiden dengan senyum cerah terpancar di bibirnya, ia mengubah wajah sedih menjadi wajah senang dalam sekejap.
Ricle melihat ke sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua.
jari telunjuknya mengisyaratkan pada Aiden agar mendekat untuk mendengarkan permintaannya.
Aiden yang melihat itu hanya terkekeh dan mendekatkan telinganya pada ricle.
"kau pasti sudah tahu apa yang ingin kulakukan pada harta yang ku temukan di hutan api kan? Tolong lanjutkan rencanaku itu!"bisik ricle pelan di telinga Aiden.
Sementara Aiden mendengarkannya dengan tenang sambil tersenyum tipis, sangat tipis mungkin orang lain tidak akan menyadarinya bahwa dia sedang tersenyum.
Setelah selesai membisikkan permintaanya pada Aiden, ricle segera menjauh dari telinga Aiden dan menatap Aiden dengan tatapan memelas seolah mengharapkan bahwa Aiden setuju dengan rencananya.
__ADS_1
Aiden yang melihat itu hanya terkekeh kecil ia kemudian mendekat ke telinga ricle dan membisikkan jawabnya.
"baiklah..akan kulakukan, sekarang aku dan ricle adalah teman yang akrab..benar bukan?"bisik Aiden di telinga ricle, dengan suara berat khas miliknya.
mungkin karena ada orang tampan yang dekat dengannya jantung ricle berdetak kencang, ia merasa seluruh wajahnya panas.
"y-ya..tentu saja! Kita adalah teman sekarang"ucap ricle.
Ia segera menjauhkan telinganya dari Aiden dan mengatur nafas miliknya agar jantungnya kembali berdetak secara normal.
Aiden yang heran karena ricle tiba tiba menjauh dengan wajah merah yang terlihat jelas di pipinya segera menyeringai dan memiliki ide jahil pada ricle.
.
.
.
.
.
**bersambung**
__ADS_1