
"hah sudahlah aku tidak ingin memikirkannya.."gumam ricle.
Ia kemudian mempercepat langkahnya menuju aldich takut ada monster lain yang akan menyerangnya.
"aldich kau tak apa?" tanya ricle ia membantu aldich untuk berdiri.
"ya..tak apa..bagaimana? Berhasil mengalahkannya?"tanya aldich.
"ya tentu saja..walaupun untuk menangkap makhluk itu cukup susah..tapi aku berhasil"ucap ricle dengan rasa bangga sambil menunjukkan Ruby merah yang ada di tangannya.
"k-kau bisa menangkapnya?"tanya aldich kaget.
"ya..tentu saja? Kenapa kau kaget seperti itu?"tanya ricle bingung.
"tak..tak apa lebih baik kita segera pulang...dan Ruby itu untukmu saja.."ucap aldich.
"a-apa?! Benarkah? Tapi ini isinya ular permata biru loh!" tanya ricle tak percaya.
"ya..kau yang menangkapnya maka kau ambillah itu"ucap aldich meyakinkannya.
"baiklah kalau begitu...terima kasih.."ucap ricle.
Ricle kemudian membantu aldich berjalan menuju kereta kuda yang tak jauh dari sana.
"ngomong ngomong baju apa yang kau kenakan ricle?"tanya aldich bingung.
Bagaimana ia tidak bingung baju yang sekarang ricle kenakan adalah baju tentara jaman moderen tentu saja lengkap dengan helm,dan rompi Anti peluru.
"a-a...ini..ah..."
"ayo berpikir keras ricle!! Apa?!!"batin ricle.
"hmm? Apa?"tanya aldich sambil menahan tawa melihat wajah panik ricle.
__ADS_1
"hmm..ini..ini..pakaian tempur.." jawab ricle, ia tidak tahu harus menjawab apa jadi ia katakanlah sebenarnya.
"pakaian tempur? Bukan pakaian perang?"tanya aldich lagi.
"kedua itu bermakna sama, sama sama untuk berperang bukan?"ucap ricle.
"ya..kau benar tapi kan biasanya orang menyebutnya pakaian perang bukan pakaian tempur?"tanya aldich.
"sudahlah! Kau malah mempermasalahkan itu!"
"dari pada itu lebih baik kita segera pulang dan mengobati lukamu"ucap ricle mencoba mengalihkan pembicaraan.
"baiklah.."balas aldich.
Setelah berjalan beberapa meter mereka menemukan kereta kuda,mereka naik ke kereta dan kereta itupun berjalan menuju kastil Marquis basil, mereka menuju kastil Marquis basil untuk mengatakan bahwa tugas mereka yaitu menangkap ular permata merah sudah berhasil.
Di dalam perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan sehingga suasana di dalam kereta terasa canggung.
"ricle..."ucap aldich.
"apa benar...kau yang menangkap ular permata biru tersebut dan menggunakan Ruby yang ku berikan padamu untuk menyegelnya?"tanya aldich yang masih tidak percaya.
"ya...memangnya kenapa?"jawab ricle.
Wajah ricle jelas sekali menunjukkan ekspresi bingung karena aldich selalu menanyakan hal yang sama terus menerus padanya.
"oh ya..benarkah? Kalau begitu..."ucap aldich ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"kalau begitu apa?"tanya ricle yang ingin tahu sebenarnya apa yang membuat aldich ragu untuk melanjutkan perkataannya?.
"tak apa lupakan saja..."ucap aldich dengan wajah yang murung.
"baiklah..."jawab ricle.
__ADS_1
Sebenarnya ricle ingin mengatakan apa yang membuatnya ragu untuk melanjutkan perkataannya tapi karena ricle melihat wajah aldich yang murung ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"kenapa anak ini tiba tiba menjadi murung?"batin ricle.
"pikirkan sesuatu ricle.."batin ricle yang berpikir bagaimana caranya aldich tidak murung lagi.
"umm..aldich..apa kau tahu apa ini?"tanya ricle dengan satu tangan yang sedang memegang bom.
"itu..bola?"jawab aldich.
"ini bukan bola sembarangan...kau ingin tahu apa keistimewaannya?.."tanya ricle.
Melihat bola yang ada di tangan Ricle berbeda dari bola biasanya aldich mengangguk.
"ya..apa keistimewaannya?"tanya aldich.
"kau bisa lihat sendiri.."ucap ricle.
Ricle kemudian menarik sumbu bom yang ada di tangannya dan melempar bom itu ke danau terdekat beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan hal itu membuat air yang ada di danau terciprat ke kerta kuda.
"uwohhh!! Bagaimana bisa seperti itu?! Seperti sihir! Apa ini alat sihir?!" tanya aldich semangat, ia terlihat sangat penasaran dengan benda yang dibawa ricle.
"tidak ini bukan alat sihir...kau bisa menyebutnya bom" jawab ricle.
"bom? Jika bukan karena sihir kenapa benda yang kau sebut bom itu bisa meledak?"tanya aldich.
Tak perlu heran jika dia tidak tahu karena di dunia ini sama sekali tidak ada alat moderen untuk berperang mereka berperang biasanya hanya menggunakan senjata seperti pedang, panah,ketapel dan berbagai macam senjata tradisional lainnya.
.
.
.
__ADS_1
.
**bersambung**