
.
.
"apa anda ingin menjenguk yang mulia raja?"
"ya tentu saja sebagai seorang anak yang baik aku harus menjenguknya bukan?"
"yasudah kalau begitu anda pergilah ke kamar yang mulia saya ada pekerjaan yang harus saya selesaikan"ucap ricle, ia kemudian berjalan menuju ruang kerja untuk menggantikan pekerjaan Arthur.
Sementara itu Ethan melihat punggung ricle yang semakin menjauh, ia hanya memandang punggung ricle dengan senyum yang terpampang di bibir merahnya.
"dia masih terlihat imut.."batin Ethan, ia kemudian berbalik dan berjalan ke arah kamar raja untuk menjenguknya.
Ricle sedang mengerjakan pekerjaan yang baru saja ia terima dari Arthur, tapi kali ini ia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya karena memikirkan tentang racun 'air mata kepedihan'.
"dewa..apa kau tahu tentang racun 'air mata kepedihan'?"tanya ricle.
Beberapa detik setelah ia menanyakan itu tiba tiba terdengar suara yang menggema di seluruh ruangan.
"ya..aku tahu, kenapa?"jawab sang dewa.
"apa kau tahu penawar racun itu?"
"ya aku tahu..kenapa?" jawabnya.
Mendengar hal itu ricle sontak berdiri dari kursi dengan wajah yang kaget ia mengira bahwa dewa cahaya tidak tahu tentang racun itu.
__ADS_1
"benarkah? Kenapa kau tidak beri tahu dari awal?!"ujarnya dengan wajah kesal.
"kau tidak bertanya"jawab dewa cahaya.
"huh..sudahlah kalau begitu apa penawarnya?"tanya ricle antusias dia sudah menyiapkan buku note dan pulpen untuk mencatat bahan bahan penawarnya.
"untuk apa kau menyiapkan buku dan pulpen?"
"tentu saja untuk mencatat bahan bahan penawarnya"
"... Aku sudah punya penawarnya"
Mendengar jawaban itu ricle hanya terdiam dengan senyum yang menggambarkan kekesalan hatinya.
"kenapa tidak beritahu dari awal?" ucap ricle sambil menghela nafas mencoba untuk menenangkan hatinya.
"dewa cahaya..kesabaran saya ini setipis tisu loh~"ucap ricle ia masih tersenyum sambil menggerakkan giginya, tangannya mengepal buku note itu hingga menjadi Kumal.
"kalau begitu mana penawarnya?"ucap ricle.
"kau tidak bertanya dari mana kau mendapatkannya?"
"aku tidak peduli"
Sepertinya kesabaran ricle sudah habis untuk menghadapi dewa cahaya, ia memilih untuk segera menghentikan pembicaraan yang menyebalkan itu dan segera memberikan penawar pada putra mahkota.
"baiklah.."jawab dewa cahaya.
__ADS_1
Tiba tiba cahaya berwarna emas muncul dan berputar putar di atas meja kerja milik ricle seiring cepat putaran itu terlihat botol kecil dengan cairan berwarna emas di dalamnya diiringi dengan hilangnya cahaya emas itu.
Ricle segera mengambil botol penawar itu dan menyimpannya di laci kerjanya, dan melanjutkan pekerjaannya.
"kau tidak memberikannya pada mereka?"tanya sang dewa.
"aku sedang menunggu putra mahkota Kembali karena jika aku mengatakan bahwa itu adalah penawarnya mungkin mereka tidak akan percaya dengan perkataan ku"jawab ricle yang kembali mendapatkan fokus atas pekerjaannya.
Ricle kembali mengerjakan pekerjaan yang di perintahkan oleh Arthur seiiring berjalannya waktu langit mulai gelap dan malam pun mulai tiba tidak ada tanda tanda bawa putra mahkota kembali ke kastil.
"dimana anak itu?! Apa dia lupa jalan pulang? atau dia tidak menyerah mencari penawarnya? huh..andaikan di sini ada ponsel mungkin aku sekarang menelponnya dan mengatakan bahwa penawarnya sudah ada padaku"gumam ricle sendiri.
Dia bersandar di kursi kerja dan menengadahkan kepalanya melihat langit langit kastil yang mewah.
.
.
.
.
.
**bersambung**
jangan lupa 'like❤️' yaa~
__ADS_1