
.
.
Aiden kemudian kembali mendekatkan wajahnya pada ricle, ricle yang melihat itu melihat ke arah lain.
"a-apa ada yang aneh di wajahku?"tanya ricle, tangannya meremas rok yang ia kenakan mencoba untuk tidak salah tingkah di depan Aiden.
sementara sang pelaku hanya tersenyum sambil menyipitkan matanya, melihat wajah ricle yang semakin memerah Aiden segera menjauhkan wajahnya dan beralih pandangan ke arah dokumen yang ada di atas meja kerja.
tangannya mengambil salah satu dokumen yang ada di atas meja.
"jadi apa yang ingin kau lakukan dengan harta korupsi Marquis basil bhaswaron?"tanya Aiden dengan suara khas miliknya, ia menatap dokumen itu serius.
"aku sudah melaporkan hal ini pada yang mulia raja, paling lambat surat itu akan sampai 2 hari ke depan, jika yang mulia tahu perbuatan keji ini ia pasti akan segera menghukum Marquis basil dan memberi kita beberapa hadiah...hadiah itulah yang akan ku pakai untuk persiapan musim dingin" jelas ricle, ia menjelaskannya dengan teliti.
Aiden yang mendengar itu mengangguk paham dan Kemabli meletakan dokumen itu di atas meja.
"baiklah aku paham, aku akan menjalankan tugas ini dengan baik...kau tenang saja"ucap Aiden, ia tersenyum hangat pada ricle.
"baiklah..aku percaya padamu"balas ricle ia membalas senyum hangat Aiden.
Beberapa hari berlalu ricle menjelaskan semua tugas sebagai penguasa wilayah Utara pada Aiden dengan jelas dan detail, Sampai hari dimana ricle harus berangkat ke ibu kota.
Sekarang ricle sedang berada di kamarnya, ia memeriksa semua tas miliknya memastikan tidak ada satupun yang tertinggal, saat sedang sibuk memastikan itu semua tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"masuklah" singkat ricle, sementara fokusnya masih pada tas miliknya.
"ricle...Arthur sudah menunggu di luar"terdengar suara yang ricle kenal.
"bukankah berbahaya jika kau ketahuan memanggil yang mulia putra mahkota dengan nama aslinya?"ucap ricle, ia menoleh ke arah suara dan benar saja apa yang ia tebak.
Orang itu sedang bersandar di pintu terlihat senyum cerah terpancar dari wajah, tatapan matanya melihat ke arah ricle, itu adalah Aiden.
"lagipula hanya ada kita disini?"jawab Aiden santai.
Ia kemudian berjalan ke arah ricle, mengambil beberapa tas milik ricle dan berjalan keluar kamar.
Tiba tiba Aiden menghentikan langkahnya dan berbalik.
Ricle yang melihat itu hanya menghela nafas dan mengikuti Aiden menuju depan gerbang kastil wilayah Utara.
Singkat cerita mereka sudah sampai di depan gerbang kastil, mata ricle tertuju pada arthur yang sedang menunggu dirinya.
Mata merahnya menatap ke arah ricle, entah kenapa ricle merasakan kehangatan dari tatapan itu, ricle yang melihat tatapan itu tersenyum pada Arthur dan Arthur membalas senyumannya.
Arthur berjalan ke arah ricle, ia membungkuk dan menyerahkan tangannya pada ricle.
"ayo kita berangkat..ricle" ucapnya, mata merahnya menatap ke arah mata ricle dan bibirnya menampilkan senyum yang manis.
"ah..baik!" jawab ricle sambil membalas membungkuk pada Arthur.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian berjalan bersama ke arah kereta kuda, setelah semua barang barang milik ricle sudah selesai dikemas dengan baik mereka segera berangkat menuju ibu kota.
Ricle menatap ke arah luar jendela dan terlihat Aiden melambaikan tangannya pada ricle, ricle yang melihat itu terkekeh dan melambaikan tangan pada Aiden.
"kau kelihatan akrab dengan ash, padahal kalian baru bertemu beberapa hari yang lalu" ucap Arthur dengan nada cemburu.
ricle yang melihat itu terkekeh dan menatap ke arah Arthur, ricle merasa bahwa Arthur sedang bercanda sekarang.
"apa kau cemburu?" ucap ricle, ia tertawa kecil.
Arthur yang melihat itu mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah ricle.
.
.
.
.
.
**bersambung**
Jangan lupa 'like❤️' yaaa~
__ADS_1