
"bagaimana jika kita membicarakan hal ini di ruang tamu tuan Duke aldich, dan Clara..tolong antar nona ricle ke kamarnya"ucap Duke basil.
"baik ayah"jawab Clara memutar bola matanya malas.
"hei kau..cepat ikuti aku"ucap clara pada ricle, tanpa menunggu ricle berjalan Clara berjalan duluan dan meninggalkan ricle.
Ricle yang melihat itu berjalan lebih cepat dan bisa mengimbangi langkahnya dengan Clara.
Sambil berjalan ricle melihat sekeliling dan semakin mereka berjalan lorong yang mereka lalui semakin sempit.
Clara kemudian berhenti di depan salah satu pintu kamar yang terlihat usang dan tidak terawat.
"ini adalah kamarmu..jangan lupa bersihkan dulu kamarnya sebelum di tiduri"ucap clara dengan senyum puas lalu meninggalkan ricle sendirian di lorong yang tampak usang itu.
"huh...sudah ku duga mereka akan memperlakukan ku seperti ini"ucap ricle.
ia kemudian membuka pintu yang usang itu dan terlihat sebuah kasur kecil dan satu meja di sampingnya.
Dari pada kamar tamu ini lebih kelihatan seperti kamar untuk pelayan bahkan sepertinya kamar pelayan lebih luas dari kamar yang ditepati oleh ricle.
di sudut kamar itu terlihat ada beberapa tas milik ricle yang sepertinya sudah di letakkan oleh pelayan.
ricle menghembuskan nafasnya, mencoba tenang, ia kemudian masuk ke kamar yang sempit itu dan mandi bersiap siap untuk berangkat ke pertambangan.
__ADS_1
Saat ricle sedang mandi pintu kamarnya terbuka perlahan,itu adalah Clara, dia memperhatikan sekeliling memeriksa agar aksinya itu tidak ketahuan oleh siapapun.
setelah melihat sekeliling kamar yang sempit mata Clara Menemukan sesuatu yang menarik,ia melihat sebuah cincin di atas meja samping tempat tidur.
"cincin ini...aku juga melihatnya mengenakan cincin ini saat di pesta"gumam clara saat tangannya mengambil cincin yang ada di atas meja.
"ku rasa ini adalah satu satunya barang berharga miliknya..kalau begitu aku akan mengambilnya"ucap clara, ia kemudian segera pergi dari kamar itu.
Selang beberapa menit ricle keluar dari kamar mandi dan sudah siap dengan baju dan celana agar mudah bertarung, ia kemudian mengambil pedang yang ada di sudut kamar dan meletakkan pedang itu di punggungnya,ia juga memeriksa beberapa perlengkapan pengobatan yang ada di tas setelah memeriksa dan memastikan semuanya lengkap ia kemudian siap untuk berangkat ke pertambangan.
Saat ricle sedang sibuk membersihkan kamar itu dengan tangannya,ia kemudian berhenti membersihkan saat telinganya mendengarkan suara ketukan di pintu kamar.
"nona...anda di panggil oleh tuan Duke agar segera keluar karena tuan akan segera berangkat ke pertambangan"ucap pelayan yang ada di seberang sana.
Pelayan itu kemudian pergi,ricle yang mendengar itu secara terburu buru mengambil tasnya dan segera keluar kamar untuk menemui Duke.
Setelah berjalan beberapa menit ricle akhirnya sampai di gerbang keluar dan melihat Duke sudah siap dengan pedang di tangannya.
Saat mata biru aldich melihat ricle ia kemudian menunjukkan surat izin yang ada di tangannya dan dijawab senyuman oleh ricle.
"kau sudah siap?"tanya aldich.
"kau Tenga saja jika ada apa apa aku akan melindungi mu"tambah aldich.
__ADS_1
"baiklah aku percaya itu.."jawab ricle dan tersenyum lembut pada aldich.
Mereka kemudian segera berangkat menuju tambang berlian.
"Duke..jika sudah sampai di tambang dan bertemu dengan ular permata biru apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin menangkap atau membunuhnya bukan? Karena jika kau melakukan itu-"tanya ricle tapi sebelum ia melanjutkan ucapannya aldich lebih dulu memotongnya.
"kuil suci dan juga rakyat akan menyerang ku? Tenang saja ricle aku tidak akan menangkap apalagi membunuh makhluk itu..apa kau tahu legenda keluarga Duke swaggareth?"tanya aldich.
"ya aku tahu keturunan keluarga Duke swaggareth adalah keturunan dewa api bukan? tapi kan makhluk itu adalah peliharaan dewa cahaya? Apa hubungannya dengan dewa api?"tanya ricle yang masih bingung.
"begini adik..ular permata biru adalah peliharaan dewa cahaya bukan? Jika dewa cahaya bisa menjadikannya peliharaan kenapa aku yang sebagai keturunan dewa api tidak bisa?"jelas aldich lagi lagi dengan nada yang seperti menjelaskan pada adik polos yang tidak tahu apa apa.
"jadi kau berencana untuk menjadikannya hewan peliharaan? Baiklah itu ide yang bagus"jawab ricle.
jam demi jam berlalu kereta kuda berhenti di depan pertambangan berlian yang sudah hancur tak berbentuk, tak lama dari itu suara desis yang sangat nyaring terdengar dari arah selatan.
"ricle ingat jika ada masalah segera panggil aku,ok?"ucap aldich yang sudah siap dengan pedangnya.
ricle hanya menjawab itu dengan anggukan kepala.
.
.
__ADS_1
.
**bersambung**