
Desiran ombak di tepi pantai sangat menenangkan hati Alina, mata indah nya sengaja di tutup untuk merasakan hembusan angin yang menyapa kulit.
"Aliiiinnaaaaaaa...!!! huffh.. huffhhh.. gue kira lu ilang" dea terengah engah sambil duduk di samping sahabat nya.
"kenapa lu.. gue kesini pengen tenang.." ketus alina.
"ayoo lah...lu kaga asikk banget, kita pada jalan kepantai kan pengen rame rame kumpul kumpul kalo lu menyendiri mending lu di rumah aja" jawab dea tak mau kalah.
"hai.. kalian berdua disini, yang lain pada nyariin tuh mau makan siang bareng" gavin dengan lembut menyapa dua teman nya. Gavin adalah teman yang paling care diantara temen cowok yang lain, remaja yang ber pemikiran paling dewasa, berasal dari keluarga kaya yang tak pernah menyombongkan kekayaan nya.
Semenjak ibu alina menikah lagi dengan laki laki pilihan nya, alina menjadi sosok yang tertutup. Ayah alin meninggal saat dia berusia 9 tahun, ayah nya meninggal tertabrak mobil saat pulang dari kantor nya, menimbulkan trauma mendalam hingga sampai saat alin sudah SMA pun dia belum bisa menggunakan sepeda motor.
Mereka bertiga berjalan menuju bawah pohon yang sudah dipakai tikar sebagai alas nya, disana sudah menunggu, bima, luna, anggi dan haris.
Mereka bertujuh kepantai untuk mengisi hari minggu yang cerah. " eh udah ketemu ya yang dicari, cepetan dong lin.. gue udah lapar ini, kan dari pagi gue gak sarapan" keluh bima. "gak sarapan sehari gak bakalan mati bim.. " alina sewot.
__ADS_1
"kuy lah kita makan".. mereka bersama memulai makan dengan nikmat di tengah indah nya pemandangan pantai.
Matahari mulai akan tenggelam.. tapi mereka bertujuh masih menikmati keindahan matahari yang akan tenggelam berganti dengan malam di tepi pantai sambil bermain main dan bersenda gurau. Rambut panjang alin mentupi sebagian wajah nya karena tertiup angin, tiba tiba ada tangan yang bergerak menyelipkan rambut nya kebelakang telinga.
"terimakasih vin.. " alin tersenyum dengan sikap perhatian gavin, bukan tak merasa kalau gavin memberikan perhatian lebih kepadanya tapi alin masih belum siap untuk membuka hati, alin takut untuk memulai kisah cinta yang akan membuat perasaan nya terluka. "senja ini begitu indah lin tapi tak mengalahkan keindahan senyum mu lin.. " rayu gavin. " buaya linnn... jangan mau" teriak haris sambil tertawa bersama dengan teman yang lain. "pulang yuk vin..takut kemalaman besok kan kita masuk sekolah lagi, aku ada jadwal piket kebersihan vin besok,bantuin akau nyapu ya.. " ucap alin sambil mengerlingkan mata pada gavin. "ok.. apapun gue lakukan buat loe" jawab gavin dengan senyum menawan nya.
Tin... tin... tinnnn... suara klakson motor gavin saat menjemput alina di rumah nenek nya.
"nek alin berangkat dulu ya.. assalamualaikum.. " alin pamit pergi kepada nenek nya, "hati hati sayang" nenek geleng geleng kepala saat melihat alin sambil berlari keluar rumah.
"gak lama kok.. abang setia menanti" gavin menjawab dengan tersenyum. senyum yang setiap kali melihat membuat hati alin berbunga
"berangkkkaaaaatttt.... " teriak mereka berdua.
"kalo lu gak mau jatoh, pegangan lin.. gue mau ngetes kecepatan motor gue" gavin berkata dengan maksud hati alin akan memeluk nya. gavin melaju kan motor dengan cepat. "gue belum mau mati vin.. gue belum juga kawin belum ngerasain indah nya surga dunia" alin berkata sambil berteriak di telinga gavin. gavin tertawa mendengar perkataan alin
__ADS_1
"kalau begitu lu mau gak gue ajarin langkah pertama menuju surga dunia" gavin.
"boleh kapan kapan kalau gue khilaf.. " alin menjawab sambil cekikikan.
Sesampainya di sekolah mereka masuk kekelas masing masing, alin dengan piket kebersihan dan gavin dengan keramaian dikelas nya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yg menyorot ke akrapan mereka berdua. "Gue harus dapetin lu vin" gumam agneta.
Agneta yang biasa di panggil eta sangat mencintai gavin dalam diam, dia tidak mampu mengungkapkan perasaan nya karena sudah dipastikan jawaban nya TIDAK karena cinta gavin hanya untuk alina, karena itu eta tak pernah mengungkapkan perasaan nya.
Lonceng pulang sudah berbunyi seluruh siswa secara perlahan-lahan keluar ruangan. Alin melangkahkan kaki nya gontai merasa sangat lelah dengan semua pembelajaran seharian ini, "haii lin.. pulang bareng yuk" andri dengan santai mengajak alin pulang bareng karena memang satu arah dengan rumah nya. "alin pulang bareng gue, loe jangan coba coba deketin alin ya" selah gavin yang tiba tiba datang dari belakang. "gue pulang bareng andri aja ya vin.. gue juga searah dengan dia jadi nya loe gak perlu repot repot nganterin gue rumah kita kan beda arah nya vin" alin memberi pengertian kepada gavin tapi gavin tetap pada pendirian nya untuk mengantarkan alin kerumah nenek nya. "loe bawel amat lin.. pokok nya gue yang antar tidak pakai alasan beda arah" jawab gavin emosi. " loe memang teman baik gue vin" alin mencoba menenangkan gavin yang suaranya sudah naik satu oktaf. Gavin terdiam karena dia masih dianggap teman baik oleh cinta nya alina putrianjani.
Sepanjang jalan mereka hanya diam dengan pemikiran masing masing. Gavin yang merasa kecewa karena masih dianggap teman dan alina yang merasa tidak enak karena harus merepotkan teman nya harus mengantar dan menjemput nya hari ini. "Masuk dulu vin" ajak alina.
" gue sudah ada janji sama mama nganterin ke tempat arisan emak emak rempong, males sih sebenarnya tapi dari pada uang jajan di pangkas gue nurut aja apa mau nya mama. " jawab gavin
" makasih ya vin.. hati hati jangan ngebut "alina.
__ADS_1
Ternyata untuk menyatakan dan menentukan hati sulit ya gaeessss..