Cinta Alina

Cinta Alina
Getaran indah


__ADS_3

" maaf bapak dion yang terhormat atas dasar apa anda membatasi hubungan kami, kalau anda mau kita bisa duel satu lawan satu" gavin maju.


Perkelahian kedua laki laki itu pun tak terelakkan..


Mereka saling menunjukan kekuatan.. alina merasa sangat bingung harus berbuat apa, alina yang sudah lelah tak punya kekuatan untuk melerai kedua nya.


" hentikkkkaaannnnn.... kalian berdua apa apaan sih"


alina berteriak histeris, gavin dan dion melihat alina yang terduduk lemah diatas tanah langsung menghampiri.


alina langsung mengambil kunci mobil nya dari saku baju dion, alina memasuki mobil nya sendiri tapi mobil alina terhalang mobil gavin.


" minggirin mobil lu vin... cepaatttt...!!! " alina sudah tidak tahan dengan semua kejadian, dia ingin pergi sejauh mungkin dari kedua laki-laki ini.


gavin dengan cepat menepikan mobil nya, alina pun pergi meninggalkan dion dan gavin yang terlihat masih diselimuti amarah.


" lo adalah masa lalu alina,tapi gw adalah masa depan nya" tunjuk dion ke muka gavin, dion langsung melajukan mobil nya mengejar alina.


Selama ini gavin selalu memantau pergerakan alina dari jauh, tapi gavin tidak pernah menyangka kalau alina sudah mendapatkan calon suami.


Sepengetahuan gavin alina tak pernah dekat dengan Siapapun, saat tahu alina ada di rumah nenek nya dia sengaja ingin menemui alina, gavin ingin menjelaskan tentang rencana pertunangan nya dengan agneta adalah paksaan dari kedua orang tua gavin.


Gavin merasa mampu mengatasi segala perjodohan ini asalkan alina mau memperjuangkan cinta mereka. Tapi alina tak pernah mau berjuang untuk hubungan mereka, alina selalu merasa tak pantas, merasa bukan di dunia yang sama dengan gavin.


Gavin akan memilih jalan pintas kalau alina masih keras kepala. Apalagi sekarang jalan hubungannya semakin berat karena adanya dion. Gavin sudah menyiapkan segala sesuatu nya untuk mempermudah jalan untuk mendapatkan alina, gavin akan membuktikan keseriusan nya.


wajah gavin sudah banyak memar, robek di sudut bibir nya.


bik nah sebenarnya melihat semua kejadian tadi tapi bik nah tak mau ikut campur.


"tuan tidak apa apa ?? " tanya bik nah pada gavin yang sedang mengusap darah di sudut bibir nya.


" tidak apa apa bik.. saya baik baik saja, jadi silahkan kembali karena saya juga akan pulang''


___---____----____---___---___----____-----__


gavin pulang menuju apartemen nya, sepanjang jalan agneta sudah puluhan kali menelpon.


Gavin merasa jengah dengan hubungannya dengan agneta yang sangat posesif.


Saat membuka pintu apartemen, sudah terlihat agneta duduk di ruang tamu menunggu gavin. Agneta dengan mudah masuk ke apartemen gavin karena sudah mengetahui Passwordnya.


" gavin... kenapa kamu tidak menjawab telpon ku, ini lagi kenapa wajah mu babak belur begini?? berantem sama siapa vin.. " merasa di berondong banyak pertanyaan gavin merasa pusing.


" kamu pulang sekarang.. saya mau sendiri "


" jangan bilang ini karena alina.. aku gak bakalan menerima ini, kalau kamu berani macam macam dengan hubungan kita, alina akan dalam bahaya vin, aku pastikan itu" agneta mengancam dan meninggalkan apartemen gavin.


aaarkkkkhhhhhh..... gavin meremas rambut nya merasa masalah ini tidak semudah yang dia bayangkan.

__ADS_1


Salah melangkah alina bisa bahaya, gavin tau agneta tidak hanya mengancam tapi dia bisa berbuat nekat.


Malam itu alina tak dapat memejamkan mata nya kejadian hari ini terlalu menguras perasaan nya.


Wajah gavin dan dion silih berganti muncul di benak nya. Perhatian dion hari ini cukup membuat alina kagum, pertemuan nya dengan agneta membuat hati terasa ngilu dan ditambah gavin yang muncul dengan perkelahiannya dengan dion.


alina yang merasa gerah, segera bangun dan memilih untuk mandi, dengan begini hati nya terasa lebih tenang.


Alina menyerahkan segala masalah nya kepada tuhan sang pemilik alam semesta.


Pagi nya alina nampak lemes karena tidur malam yang hanya 1 jam, pekerjaan berat sudah menunggu nya di rumah sakit.


karena takut tidak bisa konsentrasi saat menyetir alina meminta pak sur untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


" makasih ya pak sur... nanti alina di jemput lagi ya pulang nya" alina langsung turun dan menuju ruang poliklinik nya.


" pagi dokter.. " sapa adel sang asisten yang cerewet tapi cukup menghibur bagi alina.


" pagi del.. kita langsung mulai aja, saya mau pulang cepat.. lagi gak enak badan"


" baik dok.. kita mulai dengan pasien pertama ya, seorang wanita cantik dengan keluhan pusing aja tapi aneh nya dia berasal dari luar kota, jauh jauh kesini mau berobatnya dengan dokter alina" jelas adel.


Dahi alina berkerut mendengar penjelasan adel. alina memeriksa status rekam medis pasien tertera nama


Nn. Agneta soraya dari kota C.


"silahkan nona.. " adel mempersilahkan pasien duduk di kursi tepat berhadapan dengan alina


" agneta.. kamu??! "alina merasa ada yang tidak beres disini.


" iya dokter... tolong bantu saya, saya tidak perlu obat dari anda, tapi hanya meminta anda melepaskan gavin jangan mendekati gavin lagi.. dia milik saya, kalau sampai gavin membatalkan pertunangan kami maka kaulah yang akan menanggung semuanya "


" oohhh... wow agneta, gw rasa tunangan lu yang harus di jaga. Bukan salah gw dong.. karena gavin sendiri yang mendatangi kediaman gw"


" gw pastikan lu akan mendapatkan masalah besar, kalau gavin meninggalkan gw" agneta sudah bersuara keras


" Silahkan gw tunggu.. lu jual gw beli, gw sedikit pun tidak merasa takut berhadapan dengan lu ta.. silahkan keluar dari ruangan gw"


" masih banyak pasien yang sakit menunggu di luar jadi gw harap lu pergi dari sini secepatnya"


" adell.. del... tolong antar nona ini keluar, jangan sampai dia kembali lagi kesini"


adel merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi dengan pasien cantik tadi dengan dokternya.


adel melanjutkan memanggil pasien pasien hari ini sampai dengan selesai, adel tak berani bertanya tentang kejadian tadi karena alina terlihat sedang bete.


tringg.. tringg... bunyi telpon di meja adel mengagetkan adel yang sedang berspekulasi dengan pikiran nya sendiri.


" hallo.. ii.. iiyaa pak saya akan sampaikan" telpon di tutup.

__ADS_1


" dokter alina.. direktur memanggil anda ke ruangannya "


" oh my god... apa lagi ini" alina memijit pelipis nya yang terasa berat.


Tak ingin berbuntut panjang, alina memilih pergi ke ruangan direktur padahal perut alina sangat terasa lapar. Makan bisa di tunda tapi perintah bos nya ini tak bisa di tunda lagi.


" direktur sudah menunggu anda dokter alina, silahkan masuk" sekretaris menyambut alina dengan ramah.


alina melihat dion yang sedang konsentrasi dengan laptop nya, Saat diam wajah nya terlihat sangat tampan batin alina


" selamat siang pak, maaf bapak memanggil saya? " sapa alina


" ya.. kau bisa duduk dulu, saya selesaikan pekerjaan" jawab dion singkat.


Alina melihat wajah tampan dion yang terlihat memar karena pertengkaran malam tadi dengan gavin. Sangat kekanakan sekali, kenapa laki laki harus menyelesaikan masalah dengan otot.


Padahal semua masih bisa di bicarakan.. seandainya alina di beri waktu berbicara dengan gavin malam tadi maka masalah selesai tak ada yang di rugikan satu sama lain.


Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur..


" ayo kita pergi" ajak dion pada alina yang masih terlena dengan lamunan nya.


ternyata dion sudah selesai, entah berapa lama alina berada dalam lamunan.


" kemana ya pak.. saya mau pulang, saya merasa kurang enak badan"


" makan siang.. setelah itu saya antarkan kamu pulang" alina masih diam di tempat merasa bingung harus mau atau tidak


" ayoooo... kamu terlalu banyak berpikir" dion menggenggam tangan alina dan menariknya agar berjalan lebih cepat


" bisa gak jalan nya pelan sedikit, saya lemes ini pak"


" kan biar cepet, kamu bisa istirahat setelah ini.. "


Alina menekuk mukanya.. berbicara dengan dion tak pernah bisa di bantah,


Sesampainya di restoran dekat rumah sakit, mereka makan dengan nyaman. Baik alina dan dion merasa sama sama lapar.


Tak butuh waktu lama makan siang selesai dion langsung mengantarkan alina kerumah nya.


"terimakasih pak.. mau masuk dulu?? " tawar alina pada dion.


" hmmm... bagaimana ya saya masih banyak pekerjaan"


" sebentar saja, saya mau obati memar di wajah bapak"


alina dan dion melangkah masuk kerumah, rumah terlihat sepi karena penghuni nya sibuk dengan aktivitas masing-masing. dion duduk di sofa ruang keluarga, alina datang membawa kotak obat dan air es untuk mengompres memar.


alina mengoleskan salep dan mengompres wajah dion, jarak wajah dion dan alina begitu dekat.

__ADS_1


Dion menatap lekat wajah alina, mata mereka bertemu saling mengunci. Deru nafas hangat menyentuh wajah mereka, dion tak bisa menahan diri dia mengecup bibir alina yang ranum. alina diam tapi seperti terhipnotis alina membalas ciuman hangat itu, alina meremas ujung baju dion merasakan getaran getaran indah saat ini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2