
Alina yang merasa pusing dengan kejadian ini pun mulai mengeraskan suara
" KALIAN BISA DIAAAMMMMM... "
alina memijit pelipisnya dan meminta dion untuk tenang, memberikan sedikit ruang untuk gavin menjelaskan maksud kedatangannya.
Kedua laki-laki yang bersitegang itu pun diam, walaupun masih dalam mode on perang...
" plis.. gak semua masalah di selesaikan dengan otot, mas kamu keluar sebentar, biarkan gavin bicara"
" dalam jarak 3 meter tidak boleh lebih dekat dari jarak itu" dion sudah membuat batasan jelas untuk gavin agar tidak menyentuh miliknya.
brakkk.... dion keluar dengan membanting pintu.
alina memegangi dadanya karena kaget dan melihat kemarahan dion yang sangat mengerikan.
" untuk apa lagi vin.. " alina menundukan pandangan nya karena tidak ingin lagi menatap mata gavin, takut hatinya kembali goyah, saat ini alina sudah mencoba membuka hati untuk dion dan tak ingin terjebak rasa dengan gavin.
" dion bukan orang yang tepat buat lo, dia terlalu berbahaya dan itu bisa membuat lo terluka"
" sekarang lo cuma terluka di tangan nanti nyawa lo yang bakalan jadi taruhan,musuh musuhnya dion banyak lin"
gavin menggunakan kekuatannya untuk mengetahui sumber kekayaan dion yang di hasilkan dari berbagai perusahaan, rumah sakit dan penyelundupan senjata api di luar negeri.
" sudah... lo hanya ingin mengatakan ini, sekarang keluar dari dini"
"" tapi lin... gw gak mau lo dalam masalah, ini terlalu berbahaya" gavin terus meyakinkan alina kalau dion orang yang berbahaya.
" ini kehidupan gw, kenapa lo yang repot. Lo punya agneta yang harus diperhatikan, berapa kali lagi vin gw harus jelasin hubungan kita bagai kapal di tengah samudera yang tak tau mau berlayar kemana"
" lo harus tetap menjadi milik gw lin, bagaimanapun caranya " gavin bersuara rendah denan penuh penekanan
klik.. dion masuk ke dalam ruang rawat alina dan menodongkan senjata ke kepala gavin.
sebenarnya dion meletakkan kamera pengintai selama gavin berbicara dengan alina, darah gavin langsung mendidih mendengar pernyataan gavin.
" mas dion tenang... vin lo pergi sekarang" alina mencoba turun dari tempat tidur rumah sakit dan mendekati dion sambil menyeret tiang infus. alina memeluk dion dan mengambil senjata itu.
Namun gavin masih tak bergeming, alina takut kondisi ini menjadi tak terkendali.
"gavin plissss lo pulang.. " dengan langkah berat gavin pergi dari ruang rawat alina.
mama anjani yang baru datang kaget melihat pemandangan di dalam rungan.. alina masih memeluk dion.
" sayang... ada apa ini?? kenapa kamu memegang senjata , ihhh cepat letakan mama jadi takut" anjani meletakkan kantong belanja dan langsung memapah alina ke tempat tidur pasien.
" ma.. urus kepulangan ku ya hari ini, alina mau istirahat di rumah aja" anjani bertambah bingung.
" tapi kan masih ada terapy beberapa hari lagi "
" alina bisa melakukan sendiri di rumah, jangan lupa kalau alina dokter ma"
__ADS_1
dion mendengar keinginan alina yang memaksa pulang harus menghela nafas nya, dion tau alina merasa takut dengan kejadian tadi. Dion mendekati alina dan duduk di samping alina.
" kamu mau pulang? ok kita pulang, tapi aku bicara sama dokter dulu apa yang harus dipersiapkan " suara dion melembut, dalam mode ngambek alina dion harus mengalah"
" mas dion kan tadi mau pergi.. ya pergi aja, aku bisa mengatur semuanya" alina berbaring dan memunggungi dion.
anjani tersenyum melihat interaksi dion dan alina, so sweet menurutnya.
" dion mau pergi, kemana? ayo ikut tante mengurus kepulangan alin" anjani memberikan kode pada dion agar mengikutinya keluar.
dion dan anjani sudah duduk di kafetaria rumah sakit. anjani menginterogasi dion apa yang sebenarnya terjadi, dion pun tak mungkin menutupi kejadian tadi pada mama anjani.
Dahi anjani berkerut mendengarkan cerita dion, dia merasa gavin tak berbahaya untuk hubungan dion dan alina.
" kamu tenang yon... selama alina tidak menginginkan gavin menjadi kekasihnya kamu bisa bernafas dengan tenang"
"hubungan tak akan terjalin hanya karena sebelah pihak saja yang menginginkan cinta"
dion merasa lebih baik dengan mendengar penjelasan mama anjani.
"kalau begitu dion pamit pergi ke luar kota selama dua hari ini, telpon dion kalau terjadi sesuatu dengan alina"
" tentu yon... " anjani menepuk bahu dion, memberikan semangat untuk calon menantunya itu.
dibalik kejadian ini ada agneta yang mengikuti gavin dan mengetahui kejadian di rumah sakit.
agneta akan melaporkan hal ini pada sandra mama gavin yang sedang berada di Singapura.
--___----____----___---___---___----____-----
dion bergerak cepat turun dari mobil, dia tidak sabar melihat orang yang sudah berani menyerangnya sehingga menyebabkan alina terluka.
Jika hanya dion yang terluka maka dion masih bisa berbelas kasih, tapi saat orang lain tercintanya yang terluka akibat penyerangan ini maka tak ada ampun untuk musuh yang satu ini..
'bersiaplah... maut mu segera menjemput' gumam dion
dion memasuki sebuah gudang kosong yang terletak di dalam gang sepi, tempat ini di gunakan untuk penyiksaan para musuh yang berani mengganggu ketentraman keluarga hamzah.
" selamat datang tuan " seorang laki-laki berbadan besar yang menjaga pintu segera mempersilahkan tuan nya masuk.
dion melihat seorang laki-laki yang sudah penuh luka di ikat pada kursi dengan mata dan mulut di tutup, dion mendekat dan membuka penutup.
" atas perintah siapa kau menyerang ku, kau tau kau sudah melukai orang yang aku sayangi maka itu akan jadi masalah besar untukmu dan tuan mu"
" hahhahahahh.... kau tak akan bisa menyentuh bos ku, ini hanya sedikit pelajaran untukmu karena telah berani melawan bos besar ku"
braakkkkm.... dion melemparkan sebuah kursi pada orang itu dan mengeluarkan senjata api bersiap melenyapkan orang itu.
" maaf..jangan mengotori tangan anda tuan, serahkan pada kami, karena terlalu mudah bagi lak nat ini mati dengan sekali tembakan" kata seorang anak buah dion.
" lepaskan dia pada buaya lapar kita" perintah dion pada sang asisten.
__ADS_1
" baik tuan" sang asisten mengangguk paham.
" siapkan pertemuan ku dengan renold, aku akan memberikan pelajaran pada dia.. kau sudah melaksanakan perintah ku"
" sudah tuan... tunangan renold sudah dalam genggaman kita untuk memancingnya keluar"
"baguss,aku akan ke hotel untuk beristirahat malam ini"
sesampainya dikamar hotel dion segera menghubungi alina, namun panggilan telpon dion tak di angkat. Alina sengaja mendiamkan dion, ingin memberikan sedikit pelajaran pada dion yang sudah sangat arogan.
pagi harinya alina sudah segar setelah mandi, dia sedikit memoles bibirnya dengan lipgloss agar tidak terlihat pucat.
ting.. bunyi pesan di ponsel alina
[ bagaimana keadaanmu.. kamu marah? sehingga tidak membalas pesan dan tak mau mengangkat telpon ku]
pesan dari dion sejak malam tadi tak ada satupun yang alina balas.
'rasakan... ini hanya sedikit hukuman semoga akan membuatmu sadar' batin alina
mama anjani membuka pintu kamar alina untuk mengantarkan sarapan.
" udah seger kamu, sarapan dulu mama temenin disini"
" dion menelpon mama loh malam tadi, katanya kamu gak mau angkat telpon dia?" tanya anjani penasaran.
" dasar tukang ngadu" ketus alina
anjani hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadis nya ini, dia tau alina mempunyai pemikiran yang dewasa jadi anjani akan menyerahkan segala keputusan di tangan anaknya.
" ma.. alina masuk kerja ya, alina bosen di rumah"
rengek alina.
" kamu kan harus istirahat, gak ada kerja kerja. Kamu sudah untung di ijinkan pulang dari rumah sakit malah minta masuk kerja.. apa apaan kamu, katanya dokter tapi sikapnya kamu itu kaya berlian aja yang belum lulus sekolah" tegas anjani.
tok.. tok.. pintu kamar alina di ketuk oleh bi nah
"non ada kiriman bunga mawar di bawah... " bik nah belum mengatakan kalau kiriman bunga mawar nya sudah memenuhi halaman dan ruang tengah rumah alina.
"iya bik nah.. nanti saya lihat, habisin sarapan dulu"
saat alina turun bersama mama anjani,mereka sempat shock melihat bunga yang begitu banyak, wanginya sudah menyeruak di seluruh rumah
" dari siapa sih ma, nggak pakai otak nih orang yang mengirim bunga" alina sambil membuka kartu yang menempel pada bunga.
maafkan aku sayang.. semoga kamu cepat sehat kembali dan bisa menemani ku makan malam romantis, semoga bunga ini mampu menghilangkan marah mu.
miss you
DDH
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️