Cinta Alina

Cinta Alina
Misi perdamaian


__ADS_3

Alina dan dion pulang setelah memberikan keputusan untuk segera mempersiapkan pernikahan. Dion seperti mendapatkan sebuah hadiah besar dengan keputusan alina ini.


" jangan senang dulu bapak dion yang terhormat, keputusan ini ku ambil karena ayah, kalau kau berani macam macam dengan ku jangan harap kau akan selamat" ancam alina.


" Tidak berani.. " dion menggelengkan kepalanya.


Alina tersenyum melihat tingkah dion, sekarang dion sudah lebih baik dan kemarahannya bisa sedikit di tahan.


" mas, boleh kita makan bakso yang di ujung gang sana"


dahi dion berkerut mendengar permintaan alina.


" tidak ada tempat lain, kita cari tempat yang lebih nyaman dan lebih bersih"


" disana bakso langganan ku loh..ikut saja dulu cuma tempatnya saja sedikit sempit tapi rasanya enak .. pliss, aku lagi pengen makan bakso itu" alina memelas.


" okey.. tapi kalau tidak sesuai dengan yang kau katakan maka kita akan pergi ketempat yang aku pilih, bagaimana?"


" siapa takut, ayo.. "


Dion segera menepikan mobil dan mencari tempat yang aman untuk parkir mobilnya. Mereka berjalan di gang sempit itu untuk menuju tempat mereka makan.


" bang bakso nya dua ya "


" eh mba alina.. lama tak mampir"


" hahah.. sibuk bang makanya baru mampir sekarang"


" tempat duduknya penuh lin.. " bisik dion pada alina yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat duduk.


" mba alina disini saja" abang penjual bakso mengangkat dua kursi dan satu meja yang di letakkan di luar ruangan khusus untuk dion dan alina.


" wah.. terimakasih bang"


alina dan dion duduk santai sambil menunggu pesanan mereka datang, ini adalah pertama kalinya bagi dion makan di warung pinggiran. Dion yang terlahir dari keluarga kaya yang selalu di berikan hal hal yang mewah dan makanan yang sudah di atur keseimbangan gizinya.


" silahkan mba alina " abang penjual bakso menyajikan dua porsi bakso besar yang isinya sambal pedas level gila. Alina tak tau kalau dion sangat sensitif dengan rasa pedas.


Muka dion memerah setelah menghabiskan seporsi bakso pedas gila.


" enak gak mas? muka kamu kok sampai merah gitu!?" alina terbahak melihat reaksi wajah dion.


" lin aku gak pernah makan pedas, tapi bakso ini enak jadi aku habiskan aja" jelas dion sambil menyapu keringat yang menetes di sekitaran dahinya.

__ADS_1


Alina dan dion memutuskan pulang setelah menghabiskan makanan mereka, saat akan memasuki mobil tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping mereka.


" ohh jadi ini alasan kamu menolak ajakan makan malam ku" gavin yang menggunakan kacamata hitam menurunkan jendela mobilnya untuk memastikan kebenaran yang dia lihat sekarang, kebersamaan dion dan alina.


" Terimakasih untuk bantuan mu saat di Belanda gavin, aku hanya ingin menyampaikan lebih awal kepadamu bahwa kami akan segera menikah jadi aku rasa kamu sudah tidak perlu mengharapkan apapun dari alina" mata dion nyalang menatap gavin dan menjelaskan bahwa alina sekarang adalah miliknya.


" ini pilihan alina dion, aku tak akan pernah menolak apapun yang sudah menjadi keputusannya dan alina kamu tau kemana akan melangkah saat kamu kecewa dengan pilihanmu sekarang" gavin tersenyum sinis menatap dion dan segera melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari alina.


Alina merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan ini, dia harus terjebak dengan dua orang laki laki yang sama sama keras dan posesif.


" mas dion.. ayo antarkan aku pulang "


" kamu gak apa apa mas" saat di mobil dion terlihat meringis memegangi perutnya yang terasa melilit.


" aku gak apa apa.. perutku sedikit sakit" jelas dion pada alina. Dion langsung pulang setelah mengantarkan alina, perutnya sungguh sakit.


Sesampainya di rumah dion mulai bolak balik kamar mandi perutnya terasa melilit dan diare ini sungguh tak tertahankan membuat dion lemes karena kehilangan banyak cairan.


Anggi yang memasuki kamar dion kaget saat melihat anaknya terbaring lemah di tempat tidurnya. Anggi saat itu ingin menyampaikan kalau dia akan berangkat besok pagi ke Korea untuk menemani suaminya terapy tapi saat melihat dion sakit anggi mengurungkan niatnya.


" Dion kamu kenapa sayang.. ??" tanya anggi cemas


" aku diare bun.. kepala aku juga terasa pusing" keluh dion.


Sesampainya di rumah sakit dion segera diberikan cairan infus dia harus dirawat untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang sangat lemah.


" bun.. pergilah temani ayah, aku disini sudah lebih baik. Bunda akan pergi besokkan?"


" tapi bunda gak bisa ninggalin kamu dalam keadaan sakit begini"


" Aku punya alina bun.. besok pagi aku akan menghubunginya, jangan cemaskan aku.. ayah lebih membutuhkan bunda berada di sampingnya saat ini"


" baiklah bunda pulang dulu untuk menyiapkan semuanya, rudi tolong jaga dion untuk malam ini ya"


" baik nyonya, saya akan menjaga tuan tanpa anda minta"


---___--___----___---_______-----_____------___


Ting.. bunyi pesan masuk di ponsel alina saat dia sedang sarapan bersama pagi ini.


tolong kamu visite pasien di ruang VVIP lantai lima nomor 51B.


alina mengerutkan alisnya tanda tak mengerti maksud pesan dion.

__ADS_1


untuk apa aku memvisite pasien di ruangan itu?


alina membalas pesan dion dan langsung pamit pergi kepada mama dan papa anton.


Alina memasuki ruang poliklinik dan menaruh tas nya di meja, ponselnya kembali berdering kali ini panggilan dari rudi.


' iya rud.. ada apa?'


' dokter pasien di ruangan VVIP minta segera di visite'


' memangnya pasien ini khusus ya rud?'


' iya dokter.. anda bisa melihatnya sendiri.. saya tutup dulu'


Alina segera menuju lantai lima ruang vvip 51B, penasaran itulah yang alina rasakan, orang penting yang mana yang membuat direktur rumah sakit ini sendiri yang memintanya untuk memvisite pasien ini.


Alina mengetuk pintu ruangan rawat itu dan betapa alina tercengang melihat orang yang sedang lemah terpasang infus yang tidur di bed pasien.


" silahkan masuk dokter , tuan masih tertidur malam tadi dia berpesan untuk mengabari anda pagi ini"


" ya ampun mas.. kamu kenapa" alina duduk di samping dion dan menggenggam tangan dion.


" tuan terkena diare dan demam tinggi tadi malam"


" kenapa tidak malam tadi saya di kabari, ini pasti karena dia makan bakso pedas bersama saya kemaren"


mendengar alina dan rudi sedang bicara dion terbangun.


" sayang.. aku gak apa apa" jawab dion lemah.


" kamu bilang gak apa apa, pucat begini. Maafkan aku ya mas udah maksain kamu makan bakso pedas itu"


" nanti aku mau makan disana lagi tapi jangan yang pedas ya"


" harusnya mas bilang kalau gak kuat makan pedas, jadinya kan gak kaya begini"


" iya iya.. sekarang kamu cuma bertugas menjaga aku seharian disini" dion merasa ini sebagai waktu yang baik untuk bisa bersama dengan alina.


" rudi kamu bisa pulang, biar saya yang menjaga dion di sini" pinta alina pada asisten dion yang sejak malam tadi menjaga calon suaminya ini.


" baik dokter, saya pamit pulang dulu"


Kepulangan rudi membuat dion mempunyai misi untuk semakin mendekatkan dirinya pada alina.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2