
Pemulihan dion berjalan dengan baik selama dalam pemantauan langsung oleh alina, hanya saja dion sedikit bersikap manja pada alina.
" kamu sengaja banget ya, kan udah bisa sendiri ke kamar mandinya.. tidak perlu acara dipapah segala"
"aku kan masih lemes yang.. "
" halahh.. mana ada mepet banget kayak gini"
Pagi dengan keributan dion yang ingin membersihkan diri tapi harus di papah oleh alina, sebenarnya dion sudah sangat kuat untuk berjalan ke kamar mandi tapi kapan lagi dia bisa terus menempel pada alina.
Alina sudah memperbolehkan dion untuk pulang infus yang terpasang pun sudah dilepas tapi dion menentang perintah dokternya itu, dia akan pulang besok hari.
" kamu keberatan merawat aku sehari lagi?" tanya dion pada alina yang cemberut karena dion kekeh tak mau pulang.
Alina hanya merasa lelah sudah dua hari dia menjaga dion yang manja setengah mati. " cckkk... kamu sudah sembuh mas, istirahat di rumah lebih nyaman"
tok.. tok.. pintu ruang rawat dion di ketuk oleh seseorang dari luar.
" pagi dion.. gimana kabar kamu ?" anjani datang bersama berlian yang kebetulan sedang libur sekolah.
" sudah lebih baik mah... eh dion panggil mamah aja ya biar lebih akrab" anjani tersenyum lebar mendengar permintaan dion.
" tentu dion, mamah senang berasa punya anak laki laki sekarang.. dua anak cewek mama agak cerewet"
" mama.... " alina dan berlian bersamaan menatap mamanya jengah. Anjani terbahak mendengar teriakan kedua anaknya.
" alina merawat kamu dengan baikkan yon, dia harus bertanggung jawab karena sudah membuat kamu sakit"
" dia sendiri yang mau mah.. bukan aku yang maksa harusnya dia bilang gak bisa makan pedas" selah alina.
" alina.. kamu tau laki laki yang mau berkorban menahan rasa sakitnya untuk kebahagiaan wanitanya adalah laki-laki yang harus kamu pertahankan, dia tau kamu suka dengan makanan itu, maka dia akan mencoba merasakan apa yang seperti kamu rasakan walaupun dion harus membayar dengan terbaring di rumah sakit" jelas anjani panjang lebar pada alina yang akan segera menuju hari pernikahannya dengan dion.
" rasain kakaa kena marah sama mama" berlian menahan tawanya melihat alina tak bisa berkutik menghadapi sang mama.
" apaan.. sih " balas alina sewot pada adiknya.
" berli... ini juga berlaku untuk kamu, kalau suatu saat nanti kamu bertemu dengan seorang laki-laki ingat perkataan mama ini"
" mama gak tau aja bagaimana sebenarnya dion" jawab alina.
__ADS_1
" setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan alina, kalau kamu ingin mencari sebuah kelebihan maka kamu akan terus kecewa.. baik itu bersama dion ataupun laki laki lain, karena setiap pasangan untuk saling melengkapi dan saling mengerti. Itulah mengapa kita hidup berpasangan pasangan karena untuk saling menutupi bagian yang kurang dari diri pasangan bukan saling mencari kekurangan"
Dion tersenyum simpul mendengar ceramah dadakan dari mama anjani. " mama emang the best"
" ya sudah mama pulang dulu, titip salam buat bunda kamu ya dion, oh iya ayah kamu gimana kabarnya?"
" ayah membaik setelah menjalankan pengobatan dan terapy ma, kemungkinan minggu ini selesai dan kami akan sangat sibuk untuk mempersiapkan pernikahan " jelas dion.
" makanya cepat sembuh, tapi emang sudah sembuh kan kamunya aja yang masih manja.. kerjaan kita tu banyak mas, lah kamu masih disini betah amat" alina bersungut sungut melihat tingkah dion. Orang yang di marahi hanya tersenyum .
" buat apa aku jadi bos kalau anak buah tak bisa aku suruh suruh" balas dion.
" stooopppp... ayo mah kita pulang mereka berisik banget" barlian menarik tangan mamanya untuk keluar dari ruangan rawat dion.
alina dan dion hanya bisa bengong melihat kepergian ibu dan anak itu.
Sore harinya Dion terpaksa mengalah dengan alina dan menuruti kemauan alina untuk pulang ke rumah saja, sebenarnya persiapan pernikahan mereka sudah siap, hanya tinggal fitting baju kebaya alina dan jas untuk dion.
Pernikahan mereka akan dilaksanakan di kediaman alina, hanya di hadiri kerabat dekat saja. Tak ingin menggelar acara pernikahan mewah di tengah sakitnya sang ayah. Dion dan alina sepakat acara diadakan sesederhana mungkin dan membuat acara sakral itu lebih hikmat.
----____----____-----____----___----___----___
" kamu mau ikut menjemput ayah, bunda dan mita di bandara" dion duduk di kursi berhadapan dengan alina yang di batasi oleh meja kerja alina. Alina yang baru saja menyelasaikan pasien terakhirnya kaget karena tiba-tiba dion sudah duduk di hadapannya
" aku harus menunggu dea.. dia hari ini datang di jemput rudi, aneh ya mas.. rudi baik banget mau menjemput dea tanpa perintah dari kamu"
" ada sesuatu yang spesial mungkin, biarkan mereka berproses tanpa kita ikut campur" jelas dion.
" bijaksana sekali sih mas... cowoknya siapa ini" alina mencolek hidung dion dan menatap dion dengan penuh cinta.
" sudah dong yang.. takut gak kuat aku di tatap begitu sama kamu" alina tertawa lepas mendengar perkataan dion
Dion meninggalkan ruang kerja alina dan segera menjemput orang tuanya di bandara. Sepeninggal dion alina kembali menyelesaikan laporan laporan yang ada di mejanya.
" dokter.. ada yang mencari dokter di luar?"
adel yang mendapatkan telpon dari resepsionis memberitahukan kalau ada tamu yang menunggu alina di lobby depan.
Alina mengerutkan dahinya, siapa yang mencarinya di tempat kerja.
__ADS_1
" suruh saja kesini del.. tapi tanyakan dulu laki-laki atau perempuan, kalau laki-laki saya keluar saja menemuinya kalau perempuan suruh dia masuk ke ruangan ini"
Adel langsung menghubungi bagian resepsionis untuk menanyakan jenis kelamin tamu sang dokter.
" perempuan dok.. katanya sih bule gituh" jelas adel.
" oh ya.. suruh dia masuk dan kamu harus tetap ada disini sebagai saksi"
" macam ada kasus penting gitu ya dok.. sampai saya harus jadi saksi" alina hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan adel.
Alina tau siapa yang mendatanginya, wanita bule yang berurusan dengannya hanya selena.
Saat pintu terbuka alina memandang wanita nan seksi melangkah dengan anggun ke arahnya.
"apa gerangan yang membawa nona selena jauh jauh menemui saya"
" saya kesini tidak akan menggangu anda nona alina, tapi saya hanya memiliki sedikit permintaan pada anda"
" wow... kamu memiliki permintaan pada saya, setelah apa yang kamu lakukan pada saya"
" bisakah anda memaafkan saya nona alina" selena memohon dengan pasrah pada alina dengan menangkupkan kedua tanganya.
" katakan apa yang kamu mau dari saya" tegas alina.
" bisakah kamu membujuk dion untuk melanjutkan kerjasamanya dengan ayah dan membuka kembali akses senjata ilegal, perusahaan ayah saya sedang kolaps karena masalah ini"
Alina mengangkat sebelah alisnya mendengar permintaan dari selena, kenapa wanita ini yang dulu terlihat sangat arogan bisa berubah drastis hanya karena permasalahan bisnis ayahnya.
Begitu hebatkah dion sehingga dia bisa membuat perusahaan dan bisnis dari juan Carlos menjadi colabs.
Banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, sampai akhirnya suara selena membuyarkan lamunannya.
" bagaimana apa kamu bisa?"
" saya tidak mempunyai kemampuan untuk mmbujuk dion dalam masalah pekerjaannya, kalau kamu mau kamu bisa bicara langsung pada dion"
" saya sudah mencobanya, tapi dion menutup semua akses saya untuk bisa bertemu dengannya.. tolong bantu saya"
Alina menghela nafas, dia tidak ingin menambah permasalahan dengan selena mungkin dengan membantu selena bertemu dengan dion akan memperbaiki hubungan mereka sehingga selena tak lagi menjadi ancaman untuk hubungannya dan dion.
__ADS_1
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿