Cinta Alina

Cinta Alina
Dion Egois


__ADS_3

" pagi ibu dea, sekarang kita akan pergi ke ruang rontgen" suster yang datang dengan mendorong kursi roda.


" hemm.. berapa lama waktu pemeriksaannya" tanya dea yang merasakan gejolak pada lambungnya.


Rudi yang baru keluar dari kamar mandi ruang rawat dea nampak sudah segar dan sudah rapi menggunakan baju kaos dan celana pendek selutut.


" mau di rontgen sekarang" tanya rudi pada suster yang nampak tak berkedip melihat kepadanya.


Melihat suster yang tak merespon pertanyaannya rudi langsung mendorong kursi roda yang sudah ada dea di dalamnya.


mendengar kursi roda yang bergerak suster dengan cepat mengambil alih mendorong kursi roda itu.


" maaf pak.. saya kurang konsentrasi, habis nya bapak ganteng banget" suster itu nyengir dan pergi meninggalkan rudi di dalam ruang rawat.


Rudi yang diperintahkan oleh bos dion menjaga dea selama di rawat membuat nya harus selalu mendampingi dea selama pemeriksaan berlangsung.


Pemeriksaan yang berlangsung lancar membuat mereka bisa kembali ke ruang rawat dengan cepat.


" pak rudi... bisa ambilin makan saya, udah gak sabar saya mau buka puasa"


Rudi yang dimintai tolong pun segera mengambilkan bubur yang sudah di sediakan untuk dea.


" minum obat yang sebelum makan dulu ya.. " rudi mengambilkan obat yang sudah di serahkan oleh perawat jaga hari ini.


" bisa makan sendiri atau mau saya bantu " tawar rudi pada dea


Belum sempat dea menjawab, rudi sudah mengambil sendok dan mengisinya dengan bubur.


" aaakk.. buka mulutnya, perlahan saja.. lambung kamu masih sakit"


dea mulai memakan bubur dari tangan rudi, suap demi suap bubur sudah masuk kedalam mulut dea. Perlakuan rudi membuat dea merasa sedih karena tak pernah di perlakukan semanis ini dulu oleh mantan suaminya.


" ada yang sakit, kenapa menangis" rudi bingung melihat mata dea yang memerah dan berkaca kaca.


hwwaaaaaaa..... dea sudah tidak bisa menahan tangisnya.


Rudi kebingungan harus bagaimana..


Rudi meletakkan bubur yang ada di tangannya dan memeluk dea untuk menenangkannya.


"sssstttt.... kamu baik baik aja, jangan nangis " rudi merasa wanita yang dia peluk sekarang sangat rapuh. Ada rasa untuk melindungi dan menjaganya.


Alina yang memasuki ruangan dea hanya bisa melongo melihat adegan pelukan dan tangisan dea.

__ADS_1


" rudi.. kamu apakan teman saya?" alina sudah siap mengeluarkan lahar panas dari mulutnya, bagaimana tidak marah melihat sahabatnya menangis sesegukan.


Rudi segera melepaskan pelukannya dengan dea.


" maaaf dokter alina, saya juga tidak mengerti kenapa mbak dea menangis. Saya hanya memberikannya makan tadi" rudi menggaruk tengkuk nya yang terasa gatal harus menghadapi calon istri bos dion.


" dea lo kenapa?, rudi gangguin lo ?" alina sudah tidak sabar karena dea yang diam dan masih menangis.


" gu.. guwee nggak apa apa lin, hanya sedih aja. Ru rudi memperlakukan gw dengan sangat baik tadi dia nyuapin gw makan, gw hanya ingat kenapa dulu suami gw gak pernah memperlakukan gw semanis ini"


Alina memeluk sahabatnya yang masih terluka dengan hancurnya biduk rumah tangga yang di bangun selama lima tahun.


Rudi termenung mendengar pernyataan dea, rudi baru mengetahui kalau dea adalah seorang janda.


Hati rudi ikut merasakan sakit saat melihat dea menangis di pelukan alina.


" sssttt.. lo pasti akan mendapatkan yang lebih baik, lo akan lebih bahagia dengan seorang laki-laki yang mencintai lo apa adanya" alina mengusap punggung dea berusaha menguatkannya.


kring.. kring... kring.. ponsel alina yang berdering membuat alina mengurai pelukannya dengan dea.


[ iya mas... aku masih di ruangan dea, harus banget ya aku kesana. ?]


dion yang memberikan perintah pada alina untuk segera ke ruangannya untuk membicarakan sesuatu yang penting menurut dion, sebenarnya alina merasa enggan untuk meninggalkan dea dengan kondisi seperti ini tapi panggilan dari bapak direktur tidak bisa di tunda.


" iya.. gak apa apa gw sudah lebih baik, thanks ya udah bantu gw, lo dan pak dion jadi repot gara gara gw"


" sama sama de.. gw pasti bantu selama gw bisa, jangan sedih lagi ya, biar cepat sembuh"


" titip dea ya rud.. maaf saya udah salah sangka sama kamu"


" tentu dokter alina" rudi membukakan pintu untuk alina


alina melangkah pergi meninggalkan ruangan dea, sepanjang jalan menuju ruangan dion alina sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh dion. Nada bicara dion yang sangat serius jarang alina dengar sepanjang dia menjalin hubungan dengan dion.


Di depan ruangan dion alina sudah di sambut oleh sekretaris lusi, sekretaris lusi sudah bekerja semenjak hamzah memimpin rumah sakit.


" bu alina sudah di tunggu pak dion, silahkan masuk"


lusi membukakan pintu dengan sigap untuk alina.


" terimakasih mbak lusi"


Dion yang sedang menelpon seseorang langsung mengakhiri sambungan telepon karena melihat alina sudah berada di ruangannya.

__ADS_1


Dion mengajak alina duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Dion sangat tau kalau kekasihnya ini sedang merasa tidak nyaman dengan panggilan tiba tiba darinya, tapi dion harus segera memberitahukan masalah penting ini dengan alina.


" kok diam, katanya mau ada yang dibicarakan" alina heran melihat dion yang hanya diam menatapnya.


" aku mau memajukan pernikahan kita dalam minggu ini, karena aku harus pergi ke Belanda secepatnya.


Aku harus menyelesaikan masalah disana dengan waktu yang lama" jelas dion dengan wajah datar.


" whattt... mana bisa seperti itu, belum ada persiapan mas lagian aku masih belum siap kalau harus secepat ini melangsungkan pernikahan"


" tapi ini sudah tidak mungkin di tunda antara pernikahan dan permasalahan yang ada di belanda sama sama penting bagiku"


Alina terdiam memikirkan jalan apa yang harus dia pilih, karena ini tidak semudah yang di ucapkan oleh dion. Pernikahan itu bukan hanya sekedar hidup bersama tapi harus menyatukan dua kepala jadi satu, menyatukan dua hati yang berbeda. Alina masih belum mampu untuk ini.


" pergilah mas.. selesaikan masalah mu di belanda, kalau memang kita berjodoh pasti kita akan menikah saat nanti kamu pulang"


" alinaa.... kamu.. jangan memancing kemarahan ku, rencana pernikahan kita tinggal satu bulan lagi apa masalahnya kalau hanya di majukan menjadi satu minggu, toh kamu sudah tidak bisa mundur lagi"


dion segera menelpon seseorang dengan memeberikan perintah yang sangat mengejutkan.


'cepat siapkan acara pernikahan ku besok, segera siapkan segala dukumen keberangkatan ku belanda'


"egois kamu DION !!!!!!!" alina pergi meninggalkan ruangan dion dengan segala kemarahan.


melajukan mobil dengan kecepatan tinggi alina pergi ke kota C menuju rumah nenek, alina ingin sendiri saat ini.


Ponsel alina terus berdering, panggilan telpon dari mama, tante anggi dan dion silih berganti.


tapi panggilan telpon dari dea harus alina jawab, tidak ingin membuat sahabatnya itu menjadi cemas.


' hallo de.. maaf aku ada urusan kamu tidak apa apakan aku tinggal dulu'


' alina ini aku dion... kalau kamu tidak kembali, dea yang akan menanggung semuanya'


Sambungan telpon di tutup oleh dion. alina kemabali menelpon dion langsung ke nomor ponsel dion.


' hai sayang sudah rindu, baru beberapa detik aku menelpon mu'


' jangan gila kamu, kalau sampai dea terluka aku akan membunuhmu'


' owoowww... alina kamu memang yang terbaik untuk ku, cepatlah kembali aku tunggu di rumah mu'


Alina membelokan mobilnya untuk kembali menuju kerumahnya, entah apa yang di rencanakan dion sekarang, tapi apakah alina harus menyetujui pernikahan yang di atur dion besok.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2