Cinta Alina

Cinta Alina
Asisten pribadi


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar mama, alina sedikit resah, hatinya gelisah memikirkan makan malam yang telah di atur mama dengan anak temannya.


"kamu harus mulai dari kenalan dulu, untuk kedepannya bagaimana kita liat nanti, kalau kamu nyaman bisa lanjut kalau kamu tidak cocok sama orang nya ya... anggap teman aja, nggak berat kan sayang? siapkan dirimu buat malam minggu ini" alina teringat permintaan mama anjani untuk mengenalkan nya dengan seorang laki laki.


Bukan alina tidak mampu mencari laki laki yang dia mau, tapi dia masih enggan untuk berproses dengan yang nama nya cinta dan membuat komitmen dengan orang lain. Sungguh sungguh belum siap.


Hubungan nya dengan gavin pun masih gamang, tak jelas sampai saat ini baik alina ataupun gavin tak pernah ada yang memberi kabar. jadi tak ada masalah untuk alina membuka hati untuk orang lain.


Tapi untuk menolak permintaan mama anjani sungguh tidak mungkin.. rasa sayang nya kepada mama membuat alina menyetujui permintaan itu.


"jelek banget tu muka, kenape?? "dea heran meliat alina masuk kekamar dengan wajah yang muram.


" emak gw mengatur pertemuan dengan cowok gak jelas".


"kata emak gw anak teman nya" alina berlalu meninggalkan dea yang sudah berganti baju setelah mandi.


Alina dan dea beristirahat setelah makan malam bersama. Begitu lelah dan banyak nya kejadian hari ini membuat kedua sahabat itu tertidur dengan nyenyak.


saat pagi menjelang terdengar suara tok.. tokk.. tokk pintu kamar alina di ketuk oleh berlian yang kaget mendapatkan paket yang berkotak besar yang di tujukan untuk alina.


"kakakkk... kkaakaakkkk... cepetan liat ada paket besar buat kakak"


"berisik banget kamu dek"


alina keluar dan melihat ada kotak besar terbungkus rapi "untuk ku ya dek?? "


"itu ada kartu nya loh kak... coba sini berlian baca ya"


" baca aja dek,,,yang keras bacanya biar semua orang dengar" sewot alina kerena adik nya itu yang lebih penasaran dari pada yang punya paket.


anjani dan anton keluar beriringan mendengar keributan kakak dan adik itu. anjani kaget ada paket yang begitu besar bertuliskan untuk dokter alina putri anjani.


" paket dari siapa lin..?? " tanya mama heran.


" kamu punya penggemar ya lin..!? " anton bertanya sambil senyum tertahan.


Alina hanya hanya merengut mendengar pertanyaan kepo dari kedua orang tua nya.


"untuk dokter alina,, ini jam yang cukup besar untuk selalu mengingatkan mu agar tidak datang terlambat lagi.. dari DDH" berlian membaca dengan keras dan jelas.


"siapa kak DDH?? " tanya berlian kepo.


" tau ah.. coba buka aja paket nya"


setelah alina dan berlian membuka paket itu, terlihat sebuah jam besar berwarna gold, sangat terlihat mewah.


"wooowwwww.... "

__ADS_1


mereka semua terperangah melihat jam dinding besar itu. alina tentu sudah tau siapa yang mengirim nya. Direktur nya yang arogan Dion Dirgantara Hamzah.


''ini hp lu dari tadi bunyi terus" dea datang membawa hp alina yang terus berdering.


alina menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"hallo.. "


"selamat pagi dokter alina, sudah terima jam nya? semoga kamu suka dan tau fungsi jam nya"


"diiii... ddirektur dion" alina tergagap mendengar orang yang berbicara di ujung telepon.


"saya tunggu rapat koordinasi hari ini jam 8"


klikk.. layar sdh tertutup dan artinya panggilan sudah di tutup sepihak.


"whattt.. seenak nya sekali orang ini. " gerutu alin.


Semua orang sudah berangkat ke tempat aktivitas masing masing. Begitu juga alina yang sedikit tergesa gesa untuk sampai rumah sakit. untung saja hari ini ada dokter lain yang menggatikan nya bertugas di poliklinik.


Sedangkan dea dia pergi membuntuti suami nya, alina selalu berpesan untuk menghubunginya kalau terjadi sesuatu.


"selamat pagi direktur.. jam nya bagus terimakasih" alina mengucapkannya saat bertemu dion di dalam lift menuju ruang rapat


"hhmmm.. " dion menjawab dengan singkat dan sangat mengesalkan menurut alina.


aakkkkhhhh... alina beteriak saat tubuh nya akan menyentuh lantai, tapi sebelum itu terjadi ada tangan dion yang menahan berat tubuh nya dan membuat posisi mereka sangat dekat dan intim.


Mata alina tak berkedip menatap kedalam mata dion, mata yang indah, alis tebal. alina merasa sangat nyaman dalam posisi itu tapi.... tiba tiba


ting... suara pintu lift terbuka. Ada beberapa petinggi rumah sakit di depan lift dan melihat adegan mesra itu. Alina dan dion saling melepaskan pelukan itu. Mereka keluar dari lift beriringan, memasuki ruang rapat.


Alina mengikuti rapat dengan baik, walaupun sebenarnya alina kurang mengerti tentang hal yang di bicarakan.


" Sebelum rapat di tutup saya ingin menyampaikan bahwa saya menunjuk dokter alina sebagai asisten pribadi saya dan saya harap dokter alina dapat melaksanakan tugas nya dengan baik". dion keluar dari ruang rapat dengan wajah dingin nya, keputusan yang di buat oleh dion mutlak tak terbantahkan.


alina menghela nafas.. menjalani pekerjaan bersama dion setiap hari membuat alina ingin mengamuk.. berteriak histeris,. "ini sangat berat" gumam nya.


alina berjalan gontai menuju ruangan nya, hak sepatu yang patah membuat nya tak bisa berjalan cepat.


"eehhh.. ehhh... "Tiba-tiba tangan alina di tarik paksa oleh dion.


dion membawa alina masuk kedalam mobil nya.


" mau kemana ini pak.. kok main paksa gini?! "ketus alina


Yang diajak bicar hanya diam. Alina mengalihkan pandangan nya ke arah jendela, rasa kesal satu berganti dengan kesal yang lainnya, dion sudah membuat nya sangat prustasi.

__ADS_1


Tanpa alina sadari dia sudah berada di parkiran sebuah mall besar dikota A.


" ayo turun.. "ajak dion sambil menarik tangan alina.


" bapak bisa ramah sedikit nggak? " kesal alina, mata nya sudah berkaca kaca. airmata sudah menggenang sudah siap meluncur deras.


" saya ini sedang tidak ingin ngemoll, saya mau pulang aja.. saya udah lelah menghadapi bapak"


"saya mau berhenti bekerja saja"


"biarkan saya menganggur d rumah tapi saya akan lebih nyaman dan tenang tanpa harus berhadapan dengan bos kejam seperti bapak.. saya lelah pak.. lelah.. " alina sudah tak sadar menangis dan dilihat banyak orang.


Dion mengangkat tubuh alina dan memikul tubuh alina di bahunya.


"turunkan saya.. saya gak mau pak".. alina memukul mukul punggung dion.


" bisa diam tidak.. berhenti menangis dan memukuli ku, sudah jelek tambah jelek kalau kamu terus menangis. " jawab dion dengan tenang.


"duduk dan diam dsini" dion melangkah kedalam


setelah menemukan yang cocok dion mengambil nya dan berjongkok di hadapan alina dan memasangkan di kaki alina.


"saya bisa sendiri pak.. " alina merasa tidak enak karena bos kejam nya menyentuh kaki nya dan memakaikan flatshoes berwana cream di kakinya.


Bagi dion alina adalah wanita pertama yang membuat nya harus menunduk dan bersikap romantis. Sesuatu yang indah menggelayuti hati dion saat bersama alina.


" saya tidak mau melihat dokter di rumah sakit saya bekerja tanpa alas kaki. " ketus dion.


"kamu masih tetap memakai sepatu yang sudah rusak dan itu akan membahayakan dirimu sendiri, dokter apa an yang tidak mengerti akan resiko terjadinya cidera"


Belum sempat menjawab perkataan bos nya. ponsel alina berdering, tertera id panggilan dari dea


"hallo de.. kenapa? "


alina kaget karena hanya mendengar suara tangis dea yang pilu..


"lu dimana de.. ? ok baik gw ksana" alina tergesa dan menutup telpon nya.


dion mengangkat alis nya heran sedang terjadi apa dengan asisten pribadinya ini


"tolong antarkan saya pak.. urgennntt" mohon alina.


"apa yang akan kamu berikan kalau saya mau mengantarkan?? " dion tersenyum licik


"apa aja, asal jangan minta kawin dengan saya" ketus alina sambil menarik tangan dion keluar moll menuju parkiran.


πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊ

__ADS_1


Hati memang ingin pergi tapi takdir selalu mendekatkan cinta.. πŸ’§πŸ’§πŸ’§


__ADS_2